My Virtual Voice

March 31, 2007

POHON APEL

Filed under: Humaniora

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari.Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya.Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu.Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.Waktu terus berlalu….Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya.Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih.
"Ayo ke sini bermain-main lagi denganku," pinta pohon apel itu.
"Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi," jawab anak lelaki itu.
"Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya."
Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu." Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih. Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang.
"Ayo bermain-main denganku lagi," kata pohon apel.
"Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu.
"Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?"
"Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu," kata pohon apel.
Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi.Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi.Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya.
"Ayo bermain-main lagi deganku," kata pohon apel.
"Aku sedih," kata anak lelaki itu.
"Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?"
"Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah." Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya.Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian.
"Maaf anakku," kata pohon apel itu. "Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu."
"Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu," jawab anak lelaki itu.
"Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat," kata pohon apel.
"Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu," jawab anak lelaki itu.
"Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini," kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.
"Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang," kata anak lelaki.
"Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu."
"Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang."
Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon.
Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.
Ini adalah cerita tentang kita semua.Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.

Untuk Ibu

Filed under: ARTIKEL
Menghormati Ibu, Menghormati Allah Juga       
           
Rasulullah sudah yatim sejak dilahirkan, karena ayahnya wafat ketika ia masih dalam kandungan ibunya. Dalam usia enam tahun, kepedihannya bertambah setelah ibunya wafat menyusul ayahnya. Muhammad kecil diasuh oleh kakek, kemudian berpindah lagi kepada pamannya, Abu Thalib.

Meskipun hanya beberapa tahun berada dalam dekapan ibunya, Rasulullah merasakan benar kasih sayangnya. Kenangan manis bersama ibunda sangat membekas, melahirkan sifat kasih dan hormat, terutama kepada kaum ibu. Kepada ibu-ibu yang pernah menyusuinya, beliau memberikan penghormatan dan penghargaan yang setingi-tingginya.


Dalam Sunah Abu Daud, diriwayatkan dari Abu Thufail ra, katanya: "Aku pernah melihat Nabi saw sedang membagikan daging di al-Ji’ranah, tiba-tiba ada seorang perempuan datang sampai dekat kepada Nabi saw, lalu beliau menghamparkan mantelnya untuk perempuan itu. Maka ia duduk di atasnya. Lantas aku bertanya, `siapakah perempuan itu?’ Para sahabat menjawab, `ia adalah ibu beliau yang pernah menyusuinya.’

Islam memberikan perhormatan dan kedudukan yang amat tinggi kepada para ibu, sampai sampai disebut bahwa "surga berada di telapak kaki ibu". Seseorang yang menghormati ibunya akan ditempatkan di surga, sementara anak yang mendurhakai ibunya akan ditempatkan pada posisi yang hina.


Adalah Umar bin Khaththab seorang anak yang sangat hormat kepada ibunya, sampai dalam masalah yang sekecil-kecilnya. Dalam hal makan, misalnya, ia tidak pernah makan mendahului ibunya. Ia bahkan tak berani makan bersama-sama dengan ibunya, sebab ia khawatir akan mengambil dan memakan hidangan yang tersedia di meja, sementara ibunya menginginkan makanan tersebut. Baginya, seorang ibu telah mendahulukan anaknya selama bertahun-tahun ketika sang anak masih kecil dan lemah.

Kasih ibu tak pernah terbalas oleh apapun juga. Yang bisa dilakukan anak hanyalah memberi penghormatan dan pelayanan, terutama ketika mereka sudah tua dan dalam keadaan lemah. Dalam hal ini Rasulullah mengingatkan kaum muslimin, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Muslim, beliau bersabda:


Dari Abu Hurairah ra, katanya, Rasululah saw bersabda, "Hidungnya harus direndahkan ke tanah, hidungnya harus direndahkan ke tanah, hidungnya harus direndahkan ke tanah." Beliau ditanya: "Ya Rasulullah, siapa?" Jawabnya, "Orang yang mendapatkan kesempatan baik untuk membantu kedua orang tuanya di masa tuanya, baik salah satunya maupun kedua-duanya, tetapi ia gagal mendapatkan dirinya masuk surga."

Dengan alasan apapun, orang tua, terutama ibu harus mendapatkan penghormatan dan pelayanan yang utama. Sesibuk apapun, sesulit apapun, ibu harus tetap dihormati dan dilayani. Ketika ia memanggil, maka pangilannya harus segera dijawab. Yang menghalangi panggilan ibu untuk tidak dijawab hanya satu, yaitu ketika seseorang sedang menjalankan shalat fardhu. Di luar itu, semua panggilan ibu harus dijawab. Misalnya, seorang yang sedang mengerjakan shalat sunnah, tiba-tiba sang ibu memanggil, maka panggilan ibu hendaknya dipenuhi terlebih dahulu. Shalat sunnah untuk sementara dibatalkan, untuk memenuhi panggilan ibu.


Dengan demikian, tidak ada alasan bagi anak mengabaikan panggilan ibunya. Ketika sang ibu menahan rindu kepada anaknya, sedang ia menelpon agar anaknya pulang, maka anak yang shalih akan mengusahakan dengan segenap daya untuk memenuhi panggilannya. Apalagi jika sang ibu sedang sakit atau sedang membutuhkan bantuan.

Dalam satu hadits yang amat panjang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasululah menceritakan:


"… Juraij adalah seorang ahli ibadah, lalu ia membuat biara agar ia dapat lebih tenang beribadah. Tiba-tiba datang ibunya sedang ia masih tengah melakukan shalat, lalu sang ibu memanggil: `hai Juraij!’ Kemudian Juraij berkata (dalam hati), `Wahai Rabbi, kupenuhi panggilan ibuku atau aku tetap melaksanakan shalat?’ Maka ia pun melanjutkan shalatnya, sampai ibunya berpaling. Esok harinya, sang ibu datang kembali sedang ia masih dalam keadaan shalat, kemudian sang ibu memanggil, `Hai Juraij!’ Maka berkalah ia (dalam hatinya), `Ya Tuhanku, ibuku atau shalatku?’ Maka ia pun melanjutkan shalatnya. Kemudian pada esok harinya sang ibu datang kembali, sedang ia masih shalat, lalu sang ibu memanggilnya, `Hai Juraij!’ Ia pun berkata (dalam hatinya), `Ya Allah, ibuku atau shalatku?’ Ia pun melanjutkan shalatnya. Maka ibunya berdo’a, `Ya Allah, janganlah Engkau matikan ia sebelum ia melihat wajah pelacur!" Maka kesohorlah nama Juraij di kalangan Bani Israil sebagai seorang ahli ibadah."

"Kemudian ada seorang pelacur yang terkenal kecantikannya bersumpah, jika kalian setujui, aku akan menggodanya. Lalu perempuan itu menampakkan diri di hadapannya tetapi sama sekali Juraij tidak memperhatikannya. Kemudian pelacur itu mendatangi seorang pengembala kambing yang tinggal di biara Juraij untuk digodanya sehingga terjadilan perbuatan mesum sampai ia hamil. Setelah perempuan itu melahirkan, ia berkata `Anakku ini adalah hasil hubunganku dengan Juraij.’ Maka orang-orang berdatangan ke tempat Juraij, kemudian ia diturunkan dari biaranya, kemudian biara itu dihancurkan.


Juraij bertanya, "Mengapa kalian berbuat seperti ini?"

Orang-orang itu menjawab, "Sebab engkau telah berbuat mesum dengan pelacur itu hingga ia melahirkan anak dari hasil hubungan gelapnya denganmu!"


"Mana bayi itu?" tanya Juraij kemudian bertanya kepada si bayi, "Hai bayi, siapakah ayahmu?" Aneh bin ajaib tiba-tiba bayi itu bisa berkata, "Si Fulan, seorang pengembala kambing."

Atas kejadian itu masyarakat merangkul Juraij, menciumnya, serta mengelus-elus badannya seraya mereka berjanji, "Kami akan membangun biaramu dari emas." Juraij berkata "Tidak, kembalikan saja sebagaimana semula terbuat dari tanah liat." Maka merekapun kembali membangun biaranya… (HR. Bukhari dan Muslim)


Nukilan hadits panjang dalam Shahih Bukhari dan Muslim itu merupakan pelajaran bagi ummat Muhammad agar mereka senantiasa menghormati dan memenuhi panggilan ibunya. Sekalipun untuk tujuan ibadah, mengabaikan panggilan ibu merupakan kesalahan yang bisa fatal akibatnya. Jika seorang ibu sampai sakit hati, lalu ia berdo’a, maka do’a itu langsung menuju ke `Arsy dan diterima Allah. Untung jika do’anya baik, tapi kalau sang ibu berdo’a untuk kecelakaan anaknya, maka bisa fatal akibatnya.

Juraij adalah contohnya, sekiranya ia sejenak menemui ibunya, membatalkan shalat sunnahnya, fitnah itu tak akan pernah sampai dialaminya. Akan tetapi karena ia mengabaikan panggilan ibunya, maka fitnah sebagaimana yang diharapkan ibunya akhirnya menimpanya. Untungnya si bayi mendapat mu’jizat berupa kemampuan untuk berkata sehingga bisa menunjuk seseorang sebagai ayahnya. Jika tidak, bukan saja biaranya yang dirusak massa, tapi juga dirinya.

Kisah Juraij di atas mengingatkan kita pada seorang sahabat yang bernama al-Qomah. Ketika sakaratul maut ia menghadapi masalah besar, seolah Malaikat mempermainkan nyawanya. Merasa iba terhadap nasib al-Qomah, Rasululah kemudian memanggil ibunya agar ia mau datang menemui anaknya dan memaafkan kesalahan. Setelah sang ibu memaafkan, maka lancarlah kematiannya.



Dalam ajaran Islam, tidak bersegera memenuhi pangilan ibu sudah tercatat sebagai dosa, bahkan sekadar berkata "uugh" kepada orang tua, sudah tergolong perbuatan durhaka. Apalagi membentak, apalagi melakukan kekerasan kepadanya. Durhaka kepada orang tua, terutama ibu merupakan dosa besar setelah syirik kepada Allah. Bahkan dosa ini tergolong dosa yang tak terampuni. Dalam Sya’bul Iman dikisahkan bahwa Abu Bakrah ra, berkata, Rasulullah saw bersabda: "Semua dosa akan diampuni oleh Allah ta’ala di antaranya yang Dia kehendaki, kecuali perbuatan durhaka kepada kedua orang tua. Sesunguhnya perbuatan ini dapat mempercepat kehidupan pelakunya sebelum ia mati.".

Ibunda             
           


Kalau ibunda membelai rambutmu
Kalau ibunda mengusap keningmu, memijiti kakimu
Nikmatilah dengan syukur dan bathin yang bersujud
Karena sesungguhnya Allah sendiri yang hadir dan maujud


Kalau dari tempat yang jauh engkau kangen kepada ibunda
Kalau dari tempat yang jauh ibunda kangen kepada engkau,
Dendangkanlah nyanyian puji-puji tuk Tuhanmu Karena setiap bunyi
Kerinduan hatimu adalah
Sebaris lagu cinta Allah kepada segala ciptaanNya


Kalau engkau menangis
Ibundamu yang meneteskan airmata
Dan Tuhan yang akan mengusapnya
Kalau engkau bersedih Ibundamu yang kesakitan
Dan Tuhan yang menyiapkan hiburan-hiburan


Menangislah banyak-banyak untuk ibundamu
Dan jangan bikin satu kalipun ibumumenangis karenamu
Kecuali engkau punya keberanian
Untuk membuat Tuhan naik pitam kepada hidupmu
Kalau ibundamu menangis,
Para malaikat menjelma jadi butiran-butiran air matanya
Dan cahaya yang memancar dari airmata ibunda
membuat para malaikat itu silau dan marah kepadamu


Dan kemarahan para malaikat adalah kemarahan suci
sehingga Allah tidak melarang mereka tatkala
menutup pintu sorga bagimu
Ibu kandungmu adalah ibunda kehidupanmu



Jangan sakiti hatinya, karena
Ibundamu akan senantiasa memaafkanmu.
Tetapi setiap permaafan ibundamu atas setiap kesalahanmu
akan digenggam erat-erat oleh para malaikat
untuk mereka usulkan kepada Tuhan
agar dijadikan kayu bakar nerakamu

March 26, 2007

PSK…oh…PSK

Filed under: Humaniora

Jurusan sistem komputer terbagi menjadi 4 peminatan, yaitu Pengelolaan Sistem Komputer (PSK), Sistem Komunikasi (Sisko),Robotika dan Sistem Digital. Bagi angkatan 2004 sampai dengan angkatan dibawahnya peminatan PSK sudah dihilangkan (2003 adalah last generation untuk peminatan PSK) sehingga sekarang hanya ada 3 peminatan saja.Kebetulan peminatan saya adalah PSK maka akan lebih banyak menceritakan tentang kehidupan peminatan di PSK khususnya yang angkatan 2003.

Jumlah mahasiswa di peminatan ini adalah 21 orang, terdiri dari 20 orang cowok dan 1 orang cewek (whew…itu cowok semua kaleee???…). Orang-orangnya asik2 semua dan bisa diajak kerja sama, apalagi klo udah ada tugas klo gak ngerjain satu semuanya pada complain ama dosen buat nunda pengumpulan itu tugas ato dimasukin ke loker aja ntar siang ato sorenya, klo presentasi tugas kelompok semuanya gak ada yg nanya (abis diancam duluan..:P) biar bisa cepat dan mereka juga bisa maen dota di warnet deket kampus, klo mo ujian sibuk interogasi dosen buat nanya kisi2, klo dosen lg ngajar dpn kelas pd gak dengerin (biasa deh..mereka sibuk ngobrol gak jelas gt), maen laptop di dlm kelas,ngomongin games, ngerjain org dll. Pokoknya..wlaupun mahasiswanya dikit tapi rusuhnya amit deh (kayak di pasar gitu). Dari 21 mahasiswa tersebut ada 2 orang mahasiswa yang berasal dari angkatan 2002, sedangkasn sisanya 2003 semuanya.Hanya ada 1 kelompok yang angkatan 2003 di peminatan PSK yang belum skripsi, yaitu kelompoknya ANTO,AXIANG dan KUYA, sedangkan yang lainnya udah pada lulus semua di sidang pendadaran skripsi semester 7 kemaren (alhamdulillah akhirnya lulus semua…lega rasanya).Buat ANTO,AXIANG dan KUYA selamat menempuh skripsi dan Tetap SEMANGAT semoga senantiasa diberikan kemudahan dan kelancaran serta lolos PRASIDANG biar ntar bisa ikut SIDANG SKRIPSI dengan nilai miniman B.To..Kuy..Xang…Jangan segan2 nanya2 ama anak2 PSK yang lain klo ada sesuatu hal yang bingung dalam proses pembuatan maupun pembekalan skripsi..mereka pasti bantu kok.CIAO buat kalian bertiga.

Klo inget2 mereka..jadi inget masa2 kuliah bareng mereka, kadang dalam pikiran terlintas untuk masuk kelas lain yg saat ini sedang kuliah buat ngeramein aja.

March 25, 2007

Pudarnya sebuah Nilai

Filed under: ARTIKEL

Assalamu’alaikum Wr,WB,

Baik atau tidaknya seseorang memang tidak ditentukan secara fisik dan tingkat pengetahuannya seperti apa. Namun, alangkah lebih baiknya jika penampilan fisik dipadukan dengan pemahaman serta pendirian yang kuat. Kita tidak perlu menjadi orang lain jika kemampuan yang kita punya tidak sebesar dan setinggi yang dimiliki oleh org lain. Kita tidak perlu menuntut diri kita untuk menjadi yang orang lain mau, tapi kita harus menggiring diri kita bagaimana orang lain mampu memahami diri kita.Kita juga tidak perlu menyalin gaya dan pembawaan org lain, karena setiap org mempunyai cara yg unik utk membawa dirinya, namun kita juga harus menyadari dan memahami apa dan siapa diri kita. Sudahkan apa yg kita lakukan merepresentasikan "status" kita tersebut. Semua itu harus ada rule-nya..bisa kacau klo gak ada. Jangan mencampuradukkan semuanya menjadi satu. Setiap hal itu mempunyai satu kepentingan dan tujuan..bagaimana cara membawa kepentingan dan tujuan itu agar menghasilkan output yang disayaratkan itulah tugas kita, jangan sampai kita menyalahgunakan kepentingan dan tujuan tersebut untuk hal yg tidak disyaratkan, batasan2 itu masih berlaku dimanapun kita berada tergantung bagaimana cara kita membawa diri. Oleh karena itu penting sekali melakukan introspeksi secara pribadi maupun bersama-sama agar kita tahu sudah sampai level mana tingkat ketidakbersyaratan kita. Jika tidak mendapat masukan dan kritikan dari orang lain dan yg paham maka kita senantiasa akan berpandangan subjektif bahwa apa yg kita lakukan itu sah-sah saja.Oleh karena itu dibutuhkan pihak lain (yg objektif dan paham) utk membatasi ruang gerak kita agar jangan sampai melampaui batas.Jangan samapi nilai2 yang sudah tertananam dalam diri kita menjadi pudar seiring dengan pergerakan ke luar dr suatu kepentingan, tapi jadikan tantangan di luar menjadi pupuk bagi perkembangan dan pemahaman kita terhadap nilai yang sudah kita dapat.

Tulisan diatas mungkin sulit untuk dipahami dan pasti bertanya-tanya contoh riilnya seperti apa. Saya tidak dapat mendeskripsikan contoh riil seperti apa karena itulah yang keluar. Dan jika ada yg mengetahui dan mengerti maksud tulisan tersebut semoga bisa menjadi "REMINDER" bagi saya dan teman2 yang lain. Jangan sampai menciptakan sejarah yang sama di waktu yang berbeda…inisialisasi,introspeksi,komunikasi dan terminasi itu penting untuk tetap menyuburkan nilai2 yg sudah tertanam.

Wassalamu’alaikum Wr,Wb.

March 24, 2007

Berawal dan Berakhir di H2B Kampus SAHDAN

Filed under: My Voice

Assalamu’alaikum Wr,Wb,

Bagi jurusan SK (sistem komputer) jadwal sidang skripsi jatuh pada tanggal 19 Februari sampai dengan 24 Februari 2007. Kebetulan kelompok saya mendapatkan jatah sidang pada Selasa, 20 Februari 2007 jam 13.20 WIB di H2B dan Alhamdulillah kelompok saya lulus semua. Selamat ya buat Alex dan Billy (nama teman2 skripsi saya), terima kasih atas semua dorongan dan bantuan dari kalian semua sehingga kita bisa menyelesaikan skripsi ini bersama-sama. Walaupun udah sidang skripsi tapi saya sering juga menonton sidang teman-teman saya yang lain karena ingin meramaikan suasananya aja dan ingin tahu karakter dosen pengujinya jg sapa tau bisa jadi masukan dan bahan diskusi buat teman-teman yang lain yang akan skripsi maupun yang sedang skripsi.

Gak tau persisnya kapan tp yang jelas minggu2 sidang SK (setelah waktu sidang saya tentunya) saya bertemu dengan teman satu angkatan dan kebetulan dia juga udah sidang dan kita pun terlibat dlm suatu obrolan yang cukup panjang dan menarik (sampe2 lupa mo nonton sidang temen berikutnya…tp ya sudahlah gpp..yg penting ntar bs liat hasilnya dan denger cerita dr temen2). Dalam obrolan tersebut seperti biasa yang ditanyakan "Gimana sidangnya", "SIapa dosen pengujinya", "Dapet apa" dan pertanyaan lain seputar sidang skripsi (lumrah lah..klo topiknya ttg sidang..kampus msh beraroma sidang skripsi saat itu..banyak mahasiswa yg hilir mudik menenteng tas laptop mengenakan seragam kebanggan sidang apalgi klo bukan putih item). Setelah panjang lebar ngomongin ttg sidang sampailah pada suatu sesi pembicaraan yg mengajak saya dan teman saya flashback ke masa lalu, kurang lebih seperti ini ceritanya :

"Is..lu inget gak pas waktu POM (Pekan Orientasi Mahasiswa, yang merupakan ospek bagi mahasiswa baru di Binus) gue merasa perjalanan gue bakal panjang di Binus"tuturnya

Saya pun menjawab : " iya..inget banget…kayaknya penuh dengan penderitaan dan bakal panjang ceritanya"

Kemudian dia melanjutkan obrolannya : " Pas POM kita kan di ruang H2B dan pas sidang kita juga di ruangan yang sama, sepertinya semuanya berawal dan berakhir di ruangan itu"

Kemudian saya pun tersenyum 5 cm dan tertawa tidak terlalu panjang karena otak saya menggiring ke masa lalu seraya membenarkan apa yang sudah teman saya ucapkan.

Kemudian dia berkata lagi : "Is..ini bukan akhir perjuangan kita..tapi ini justru awal perjuangan kita…kehidupan di masa kuliah gak ada apa2nya dibandingkan dengan kehidupan di dunia kerja, kita blm tentu menemukan tmn2 spt kt kuliah"

Saya pun jadi berpikir lg tentang perkataannya tersebut "Benar juga siy..jadi inget kata-kata dari ketua Jurusan SK…beliau berkata bahwa skripsi bukanlah akhir segalanya..Skripsi bukanlah tujuan tp lebih kepada sebuah perjalan hidup’ "

Kemudian setelah membicarakan beberapa hal, kami pun melakukan terminasi pembicaraan dikarenakan adanya urusan yangperlu diselesaikan oleh kami masing-masing.

Wah..benar-benar teman saya yang satu ini mampu memberikan motivasi kepada teman2nya tidak hanya saat kuliah tapi juga udah lulus pun tetep memberikan masukan dan kontribusi, thx banget teman (ouw ya jangan lupa cd materi kuliah dari smt 1 s.d smt 7 mo dibagiin ke adik-adik di SK)

Adapun sinopsis dari cerita tersebut adalah bahwa betapa cepatnya waktu berlalu yang sudah dilalui di bangku kuliah sampai-sampai kita sendiri tidak pernah menyadari bahwa status kemahasiswaan sudah tidak kita sandang lagi. Boleh jadi kita merasa jenuh dengan kehidupan kuliah saat itu tapi setelah kita melalui hal itu alangkah kita ingin kembali ke masa-masa itu. Waktu tidak akan pernah kembali memang, namun bagaimana menggunakan waktu yang telah ada untuk mengenang dan belajar dr masa lalu itu lbh baik drpd hrs menghabiskan waktu dgn khayalan2 masa lalu yang blm terealisasi, Karena hidup bukan untuk masa lalu  dan bukan juga untuk masa depan…tapi hidup untuk saat ini.

Wassalamu’alaikum wr,wb.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by B A Khan