My Virtual Voice

June 15, 2007

Esensi dan Eksistensi Sahabat Pilihan

Filed under: My Voice

 

 

 

Alhamdulillah wa syukurillah, itulah kalimat yang dapat saya panjatkan atas segala nikmat yang telah Allah berikan kepada saya, khususnya nikmat berupa teman, karena Allah telah menganugerahkan teman-teman dan sahabat-sahabat yang senantiasa mengingatkan dan mendukung saya dalam segala hal. Kehadiran 3 orang teman dekat dalam kehidupan saya merupakan suatu anugerah yang tak ternilai harganya. Teman dekat melebihi dari sebuah persahabatan dan pertemanan. Teman dekat laksana saudara. Teman dekat bagaikan keluarga kedua.

 

Kebetulan saya memiliki 3 teman dekat yang kesemuanya berdomisili di tanah air tercinta, si pulau garam. Mereka adalah dian,mar dan maryam. Jalinan ini terjalin sejak kami sama-sama duduk di sekolah dasar sampai dengan sekarang. Menjadikan mereka sebagai teman dekat bagi saya dan menjadikan saya sebagai teman dekat bagi mereka bukan merupakan proses yang instan tetapi membutuhkan proses yang panjang. Betapa tidak, walaupun kami berempat sejak TK, SD, SLTP (kecuali dian) satu sekolah tapi jalinan itu tetap kami rangkai secara alamiah, tanpa ada suatu pernyataan lisan bahwa kami adalah sahabat dan teman dekat. Karena teman dekat adalah teman dimana dia tidak pernah mengatakan bahwa dia adalah teman atau sahabat kita, tidak ada pengakuan lisan bahwa kita adalah teman dekat baginya, semuanya berjalan dan mengalir apa adanya sehingga pada suatu titik kehidupan kita akan dirangkai dalam suatu jalinan yang indah ini.

Mengapa mereka dikatakan sebagai teman dekat bagi saya???, padahal saya sendiri dan 3 teman dekat saya yang lain memiliki teman/sahabat yang cukup banyak (tersebar dari sabang sampai merauke). Jawabannya adalah karena hati dan perasaan nyaman yang saya rasakan saat bersama mereka. Kedekatan kami bukan dalam tahap itu saja, tapi kami sudah mengenal keluarga dan anggota keluarga masing-masing sampai-sampai sepupu dan kerabat kami yang lain kamipun mengenalnya. Kami menggunakan kalimat sapaan kepada orang tua teman kami sebagaimana dia memanggil orang tuaya. Perasaan ”JAIM (jaga image)” itu sudah tereliminasi dalam diri kami, kami tetap menjadi diri kami sendiri dengan segala kelebihan dan kekurangan kami. Orang tua mereka bagi saya adalah seperti orang tua kedua, setiap kami berkunjung ke rumah masing-masing pasti dan selalu memberikan ”sesuatu” seperti anak mereka sendiri. Kadang-kadang kami juga memanggil nama teman kami dengan nama panggilan orang tua laki-lakinya, misalnya nama bapaknya ”budi” maka kami panggil dia dengan sebutan ”Bud” (hal ini tidak kami lakukan di depan orang tua yang bersangkutan..bisa-bisa dipecat jadi anak angkat nantinya). Hal yang lebih mengesankan lagi adalah bahwa kakak-kakak dan adik-adik mereka sudah kami anggap sebagai saudara kami juga. Selain itu ada sebuah statemen dari saya bahwa teman / sahabat dari mereka adalah teman / sahabat dari kita juga. Kami saling mengenal komunitas kami masing-masing. Walaupun pada saat ini saya berdomisili paling jauh, namun perkembangan dan pengalaman saya di Jakarta sering saya bagi ke mereka. Diantara 3 teman dekat saya tersebut yang terdekat adalah dian (bahkan sampai saat ini..masih belum menemukan yang seperti dia). Saya sendiri tidak tahu mengapa demikian, hal ini mengalir begitu saja tanpa pernah saya merencanakan dan memilih dia sebagai teman terdekat saya. Dia sudah mengerti bagaimana saya dan begitupan saya terhadap dia. Pada suatu moment tertentu, saya tidak perlu berbicara apa yang harus dia ceritakan dan apa yang tidak harus dia ceritakan. Dan dia juga cukup mengerti pada saat saya diam dan tidak mau berkomentar apapun atas suatu hal. Dia tidak pernah menanyakan kenapa saya diam, tapi dia hanya melihat ”body language” saya dan menerjemahkan sorot mata saya. Sebelum saya meminta sesuatu, dia sudah bisa megartikan dan memberinya. Sering sekali kami berdua jika tidak bersama, pasti ada yang menanyakan “Mana dian..is???” dan begitupun sebaliknya. Hubungan saya dengan keluarga saya juga dekat tapi untuk suatu hal yang bisa saya pecahkan sendiri dan tidak perlu diketahui oleh keluarga biasa saya tumpahkan ke dian. Dia adalah teman curhat terbaik bagi saya dari hal yang privasi sampai dengan yang umum yang tidak diketahui oleh sahabat bahkan kedua teman dekat saya yang lain,  dian adalah orang yang sudah cukup paham tentang pribadi saya. Kadang-kadang kakak saya dan anggota keluarga yang lain suka mengorek-ngorek informasi dari dian, namun dengan bijaknya dia hanya merespon dengan senyuman dan beberapa tutur yang cukup mewakili. Satu hal yang membuat kami menjadi dekat adalah cara pandang kami terhadap suatu hal hampir sama. Kami berdua banyak mendiskusikan suatu hal yang bisa mengingatkan dan mengembangkan diri kami berdasarkan pengalaman yang kami dapat di komunitas masing-masing. Satu hal yang membuat saya nyaman memiliki teman seperti dian adalah bahwa dia senantiasa mengkritik dan mengingatkan saya pada moment yang tepat. Dia tahu betul kapan saya tidak menginginkan sebuah masukan dan kapan saya menginginkannya.Diantara kami berdua tidak ada pihak yang dominan maupun resesif, karena dalam sebuah pertemanan kami tidak mengenal hirarki organisasi, semuanya memiliki kedudukan sama dan saling mendukung satu sama lain. Untuk urusan yang bersifat personal, maka kami tidak mencampuri urusan masing-masing dan kami pun saling memberikan ruang pemisah untuk tidak menginterfensi hal tersebut, bertanyapun tidak, jika memang yang bersangkutan yang mau bercerita dipersilakan, jika tidak maka cukup mengalihkan ke topik lain yang umum. Walaupun jarak memisahkan kami berdua, tapi informasi yang up to date tentang saya dia pasti tahu, saya sendiri sampai bingung darimana dia tahu tentang hal tersebut (ternyata yang membongkar informasi ke dia itu adalah ibu dan kakak/abang saya) dan saya pun tidak bisa mengelaknya sehingga mau tidak mau saya menceritakannya.

 Mengalir apa adanya..Tenang dan menghanyutkan

Tidak ada sesuatu yang abadi dalam dunia ini, semuanya fana belaka, begitu pula dengan pertemanan ini,  karena keabadian itu hanyalah milik Allah semata. Karena nikmat yang dikaruniakan oleh Allah dipergilirkan ke setiap mahluknya. Maka sebagai mahluk ciptaannya kita juga harus siap sedia ketika nikmat berupa moment-moment indahnya pertemanan itu harus berganti dengan nikmat Allah yang lain. Yang penting hikmah dari jalinan pertemanan itu tetap terpatri di hati sanubari masing-masing dan bisa menjadikannya sebagai salah satu bekal dalam mengarungi aliran kehidupan yang lebih deras lagi nanti. Untuk mar (maaf baru dapat kabar dari dian)..semoga anaknya menjadi anak yang sholeh dan berbakti kepada orang tua. Untuk Maryam dan Dian selamat menempuh hidup baru, semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Terkhusus untuk dian, salam buat mashuri…semoga suamimu masih demokratis dan tetap tidak posesif tapi tetap lebih baik lagi. Saluuuuuuuuut buat dian, walaupun sudah berumah tangga tapi masih tetap seperti yang dulu, yang berubah hanyalah status dan kematangan berpikir. Masa boleh berganti, namun esensi dan eksistensi dari sebuah jalinan ini tidak akan tergantikan…Amin Allahumma Amin.

 

 

 

 

 

 

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://iisrasjeed.blogsome.com/2007/06/15/esensi-dan-eksistensi-teman-dekat/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by B A Khan