Menghargai Pahlawan dan Belajar dari Pahlawan
Sebelum merangkaikan kalimat lanjutan tentang penghargaan terhadap pahlawan, saya ingin mengucapkan sebaris kalimat untuk negeri tercinta ini, yaitu “DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA YANG KE 62 TAHUN, SEMOGA JIWA-JIWA MERAH PUTIH SENANTIASA BERSEMI DAN BERSEMAYAM DALAM DIRI TIAP GENERASI PENGHUNI NEGERI INI”.
Berbicara tentang pahlawan maka pikiran kita pun langsung tertuju kepada para pejuang yang telah gugur di medan perang untuk merebut sebuah kedaulatan bangsa dan negaranya. Definisi tersebut tidak salah, jika pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kontemporer. Sedangkan untuk jaman sekarang, definisi tersebut sudah tidak relevan lagi, mengapa??? Karena definisi pahlawan bukan hanya untuk mereka yang telah berjuang secara fisik dan gugur di medan laga, namun definisi pahlawan untuk era sekarang lebih kepada orang yang telah mengharumkan nama bangsa dan memberikan kontribusi untuk kemajuan bangsanya. Beberapa contohnya adalah pahlawan lingkungan yang biasanya diberikan penghargaan berupa kalpataru, pahlawan pertanian, pahlawan olah raga, mantan pejuang kemerdekaan (veteran), pahlawan revolusi, pahlawan pendidikan dan pahlawan-pahlawan yang lain.
Dalam hal ini, pahlawan yang akan saya bahas adalah pahlawan olah raga (yang biasa dikenal dengan sebutan atlet) dan veteran, kenapa????karena saya bangga memiliki pahlawan seperti mereka dan bisa menjadi bahan introspeksi bagi diri saya.
Ketika itu saya menonton acara KICK ANDY di metrotv, kebetulan topiknya tentang kehidupan masa tua atlet nasional Indonesia yang telah mengharumkan nama bangsa di kancah internasional. Tidak seperti biasanya, jika menonton selalu diselingi dengan kegiatan lain (misalnya : membaca, berselancar di internet dan hal-hal yang lain), karena topik ini maka diri ini pun memfokuskan diri untuk mengikuti alur cerita dalam acara tersebut. Berikut ini merupakan catatan singkat dari kehidupan para atlet nasional tersebut :
Sukarna, mantan atlet nasional LEMPAR LEMBING yang sudah memberikan perunggu untuk Indonesia dengan mengibarkan merah putih di Tokyo. Tak pernah ada manusia yang tahu tentang rencana Tuhan kepadanya, begitupun dengan seorang Sukarna, ketika beliau berusia 40an tiba-tiba berubah kelamin menjadi seorang pria dan ini merupakan kejadian alamiah (tanpa campur tangan manusia), sekarang beliau dikenal dengan nama Iwan Setiawan.Masa tuanya beliau lalui dengan didampingi istrinya tercinta yang selalu setia dan menerima beliau apa adanya. Beliau tinggal di sebuah rumah yang sangat sederhana sekali di sebuah perkampungan dengan bermatapencaharian sebagai petani (memang…nasib manusia siapa yang tahu kecuali sang khalik).
Budi setiawan, mantan atlet taekwondo. Demi mengobati anaknya yang saat itu sedang sakit beliau sampai-sampai menggadaikan piala yang telah diraihnya seharga Rp. 150,000.00 kepada salah seorang temannya (yang sampai saat ini temannya tersebut tidak diketahui keberadaannya dimana). Sampai saat ini, beliau menjadi salah satu pelatih taekwondo di al azhar dengan penghasilan yang sangat pas-pasan (alangkah besar rasa cinta beliau kepada anaknya dan negeri ini….).
Surya lesmana, atlet sepak bola dengan posisi sebagai gelandang TIMNAS INDONESIA pada tahun 1960-1970, memenangkan kejuaraan ”Merdeka Games” di malaysia dan juga Piala raja di Thailand. Tidak seperti kebanyakan keturunan tionghoa yang lebih menyukai olah raga basket, badminton dan berdagang, atlet yang satu ini memilih jalur sepak bola sebagi bentuk pengabdian dan kecintaannya kepada republik ini. Sampai saat ini beliau masih melajang (semoga didekatkan jodohnya dan mendapatkan istri yang baik..amin) dan masih menumpang di rumah temannya di dalam sebuah kamar yang sempit. Selain itu beliau juga mendermakan dirinya untuk menjadi pelatih sepak bola di kampungnya (semoga senatiasa diberikan kemudahan dan kelancaran dalam setiap urusannya).
Tati sumirah, atlit bulutangkis yang mampu mengibarkan sang merah putih di negeri tetangga. Sampai saat ini beliau membantu usaha warung milik sang adik dan masih elum berumah tangga juga (waktu itu audience di KICK ANDY pada ngecengin Ibu Tati dan Pak Surya..Ehem ehem..seru juga tuh klo kejadian beneran..saling melengkapi satu sama lain..lha!!!kok malah ngecengin juga..ya semoga Ibu Tati mendapatkan suami yang sholeh dan diberikan kemudahan rezeki..amin yaa robbal ’alamin)
Melihat kondisi diatas, sungguh merupakan suatu kondisi yang tidak kondusif untuk perkembangan dunia olah raga di masa depan, siapakah yang mau jadi atlet jika masa tuanya akan menjadi seperti cerita-cerita atlet diatas???. Padahal lagu Indonesia Raya dinyayikan dan Sang merah putih dikibarkan adalah pada saat ada 2 perhelatan besar, yaitu pada saat pertandingan olah raga internasional dan kunjungan presiden ke suatu negara.
Hal yang mengharukan dari acara KICK ANDY ini adalah pemberian penghargaan dan tanda mata kepada masing-masing atlet berupa sebuah rumah tinggal dari Bapak Adhyaksa Dauld selaku menteri pemuda dan olah raga (alangkah senangnya..jadi berlinang air mata..hiks hiks hiks..selamat ya buat anda semuanya..Para Atlet Nasional..Pengharum negeri ini di negeri orang…Pemberi teladan dan motivator untuk generasi yang lain…semoga ini bukan merupakan ujung dari sebuah perjalanan panjang tapi merupakan pangkal dari sebuah perjalanan selanjutnya). Selain itu ibu Tati juga diberikan kesempatan untuk bekerja di sebuah perusahaan yang kebetulan top managernya dipegang oleh mantan atlet bulu tangkis, kebetulan wawancara yang dilakukan via telephone dikarenakan yang bersangkutan tidak dapat hadir secara langsung di stasiun TV.
Selanjutnya, saya akan menceritakan sekilas tentang veteran (sesepuh pejuang kemerdekaan, red). Sekitar satu bulan yang lalu (juli, red), saya dan beberapa teman saya pergi ke blok M plaza, dikarenakan sorenya ada keperluan yang lain maka saya pun memohon diri untuk kembali ke kosan. Saya pun menuju terminal blok M seorang diri dengan sederetan alunan musik yang mengayun di telinga saya. Sambil menunggu bus yang menuju slipi, saya pun menikmati pemandangan di depan-belakang-kanan-kiri dengan iringan lagu. Tiba-tiba dari arah kanan saya tampak seorang bapak berseragam veteran lengkap (lengkap attributnya). Melihat bapak ini saya pun langsung memandang sekilas kemudian saya berpikir dalam benak saya tentang perjuangan dan kehidupan masa tua para veteran Indonesia berdasarkan cerita yang saya tonton di televisi maupun media yang lain. Sang bapak ini rupanya membeli sesuatu dari pedagang kaki lima yang kebetulan mangkal beberapa meter di sebelah kiri saya, beberapa menit kemudian sang veteran ini kembali ke arah kanan lagi, kebetulan melintas depan saya maka saya pun melebarkan senyum untuk sang veteran ini. Ya..senyuman ini merupakan salah satu bentuk apresiasi atas kebanggaan saya memiliki seorang pejuang veteran yang masih menghargai republik ini dan memaknai nilai-nilai perjuangan serta mampu membuka diri tentang pengetahuan akan sisi lain kehidupan seorang veteran (semoga apa yang telah para pejuang veteran berikan dapat memberikan pelajaran berharga bagi generasi selanjutnya..Semoga semangat kalian menjadi trigger buat kami semua).
Berdasarkan cerita diatas, dapat disimpulkan bahwa tidak ada sesuatu yang abadi di dunia ini, ada saatnya manusia mengalami kejayaan dan tanpa pernah diduga akan ada masa keruntuhannya, ya..manusia harus siap dengan itu semua. Tidak perlu menjadi pribadi yang perfeksionis dan idealis, karena kehidupan itu dinamis, tapi jadilah pribadi yang tepat, tepat menurut agama, keluarga, masyarakat dan lingkungan sekitar.