Ketika Komitmen Itu Diuji dan Kata Diperjuangkan
Beberapa saat yang lalu seorang ketua yang baru menceritakan hal-hal yang pernah saya rasakan dahulu ketika saya jadi ketua dan ketua yang baru saja lengser sering curhatkan kepada saya. Apalagi kalau bukan masalah komitmen dan mempertahankan semangat. Sebagai seorang ketua, menurut saya itu merupakan suatu hal yang wajar. Namun sebagai seorang wanita yang harus memimpin kemayoritasan laki-laki itu bukanlah suatu hal yang wajar, belajar dan beradaptasi dengan cepat serta memiliki tameng sendiri itulah hal-hal yang dijadikan bekal.
Sebelum dilantik secara resmi menjadi ketua, sengaja saya memberikan, mengusulkan dan membantu satu acara sederhana kepada sang ketua baru ini. Awal-awalnya saya hanya mengajak beberapa orang dari teman-teman angkatan 2005 dan sengaja saya naikkan angkatan 2006 untuk menjadi ketua acara ini. Sebuah kesengajaan juga kenapa saya menaikkan angkatan 2006 dalam acara ini adalah karena berdasarkan cerita yang saya dengar dari beberapa anak di angkatan 2006 dan angkatan yang lain ada permasalahan internal di angkatan 2006 sendiri (maaf..masalahnya apa saya tidak bisa ungkapkan di sini). Untuk itulah, menyegarkan kembali semangat mereka maka kami pun mengadakan diskusi di kosan (diskusi dihadiri oleh Welli-ketua sekarang, Wahyu-Ketua periode 2006/2007 dan saya sendiri) untuk membahas hal ini. Dari hal ini, maka kami pun berusaha untuk memperbaiki kondisi menjadi lebih baik dengan menuruti apa yang mereka inginkan. Satu acara telah terealisasi dan nampaknya ada feedback positif dari acara ini. Kemudian saya pun berinisiatif bersama teman saya yang lain untuk mengadakan acara yang lain yang cukup sederhana sekali, yaitu baksos. Untuk lokasi baksos dan konsepnya sengaja langsung kami tembakkan ke teman-teman, namun untuk hal-hal teknis yang lain kami tidak ikut campur karena kami ingin membiarkan mereka dewasa menurut cara mereka yang penting kami telah memberi jalan.
Dari acara ini, lagi-lagi saya mendapatkan laporan dari teman-teman tentang perkembangannya seperti apa, baik itu yang positif maupun negatif. Dan tak ketinggalan si welli pun memberikan laporannya. Secara pribadi, menurut pendapat saya sudah berjalan dengan baik tinggal merealisasikan sesuai dengan hasil yang didapatkan selama proses teknikal tadi saja. Dari laporan dari YM, hal yang membuat saya kagum dan ini merupakan pernyataan yang saya tunggu-tunggu dari seorang ketua yang baru seperti adik saya (Welli, red) adalah "lagi bljr mutusin pke otak si ka,, jgn pke perasaan", "cepet rapuh klo perasaan ". Ya itulah sebuah pernyataan yang ingin saya dengar dari seorang ketua, pernyataan yang bukan sekedar kata-kata yang indah tapi kurang bermakna tapi lebih kepada sebuah ungkapan sederhana yang memiliki makna mendalam. Kadang-kadang orang lain menuntut macam-macam atas kepemimpinan kita, namun tuntutan mereka kadang-kadang tidak diiringi oleh kontribusi yang positif, bisanya hanya usul tapi suka ngASAL.
Sebelum naik menjadi ketua, saya sudah sering mengingatkan ke dia bahwa harus berhati-hati dalam memaparkan janji ke orang lain, karena seperti yang dikatakan oleh seorang WS.RENDRA bahwa "KATA-KATA ADALAh PERJUANGAN". Saya pernah menduduki posisi sebagai orang yang harus memperjuangkan kata-kata saya dan itu membutuhkan perjuangan yang sangat sulit sekali, itulah pengalaman yang tidak bisa saya lupakan dan dengan demikian kenapa saya sering mengatakan ini kepada para calon ketua HIMTEK sebelum berorasi di depan publik. Buatlah janji-janji sederhana tapi bisa kita realisasikan, jangan bikin janji-janji selangit tapi itu hanya ungkapan belaka. Berusaha untuk tetap komitmen dengan janji kita dengan memberikan yang terbaik atas apa yang kita miliki dan mampu serta memperjuangkan kata-kata yang pernah kita janjikan kepada orang lain walaupun menurut pandangan orang lain kurang memuaskan tapi setidaknya kita sudah berusaha. Untuk hasil yang lebih baik, kita harus senantiasa terus belajar dari orang-orang di sekitar kita dan pergunakan kesempatan ketika menjadi ketua untuk mencari teman-teman tidak hanya di lingkungan organisasi kita tapi juga di lingkungan organisasi yang lain agar kita memiliki banyak pertimbangan dan panduan ketika berhadapan dengan suatu permasalahan.
Biarlah orang lain menuntut macam-macam, karena tidak semuanya tahu kondisi sebenarnya gimana dan berikanlah respon yang positif atas tuntutan mereka tersebut berdasarkan pembawaan dan kemampuan yang kita miliki dengan tidak menyakiti perasaan dia dan menganggap bahwa tuntutan mereka itu adalah bagian dari perbaikan diri kita dan juga organisasi. Biarlah orang-orang itu mematahkan semangat kita, karena masih ada teman-teman lain yang setia menunggu untuk senantiasa memberikan motivasinya dalam perjalanan organisasi kita. Merasa tersakiti dan tertusuk dengan kata-kata orang lain itu adalah suatu hal yang biasa karena dari situ kita akan belajar menjadi seorang pembicara dan penyampai yang lebih baik. Ayo…Welli..Tetap semangat…We’re behind you..We’ll always help you…Give your best for our beloved HIMTEK!!!!!!!!!!