My Virtual Voice

November 24, 2007

Pengorbanan seorang Bapak

Filed under: My Voice, Aktivitas

 

Bukan hanya kasih ibu sepanjang masa, tapi kasih bapak juga sepanjang zaman. Tulisan ini terinspirasi oleh sebuah hal yang saya lakukan tadi pagi. Untuk mengatur gaya hidup yang kurang sehat dan teratur maka sudah 2 minggu ini setiap hari jum’at pagi saya menyempatkan diri untuk melakukan olah raga di lapangan Senayan, Jakarta Selatan.

Seperti biasanya saya memarkir si KazeR di sekitar area di pintu V lapangan itu, setelah memarkir saya pasang earphone saya untuk mendengarkan beberapa lagu, kemudian dilanjutkan berlari-lari kecil mengelilingi lapangan itu. Setelah kurang lebih 1 jam-an mengelilinginya saya pun beranjak pulang ke kosan dan seperti biasanya lagi saya melepas dahaga dengan membeli air mineral ukuran 0.5 liter di dekat area parkiran tersebut. Karena si penjual (ibu X) dengan ramahnya menyapa saya di hari Jum’at sebelumnya, maka saya pun penasaran ingin mengenal lebih lanjut sang penjual ini, si Ibu ternyata sedang pergi dan saya melakukan transaksi dengan anaknya yang laki-laki.

Sambil mengeringkan keringat denagan desiran angin yang berhembus di sekitar lapangan Senayan saya pun duduk-duduk santai di dekat sang penjual air mineral tersebut. Beberapa saat kemudian si Ibu datang dan saya pun “mengobrol-ngobrol” sedikit dengan sang Ibu.

Pada saat yang bersamaan, ada seseorang yang menawarkan dagangannya berupa makanan kecil (snack) tradisonal (seperti : kacang, krupuk kulit…hanya selayang pandang saja, saya gak melihat semuanya apa yang dijualnya soalnya gak kliatan sperti orang jualan), karena persediaan makanan kecil saya di kosan masih ada maka saya tidak tertarik untuk membeli produk yang ditawarkan tersebut. Saya pun melanjutkan minum air mineral yang sudah saya beli sampai hampir habis (saya sangat suka minum air putih..sering sekali klo gak ada snack solusi yang saya pake adalah minum air putih sebanyak-banyaknya). Saat itu juga, sang penjual snack itu juga menawarkan ke orang lain yang berkelibat di sekitar area itu.

Setelah keringat saya sudah lumayan mengering, maka saya pun memtuskan untuk berpindah haluan ke lahan parkiran motor saya, membuka jok motor, mengambil helm, mengenakan jacket dan mendengarkan audio yang lain. Sambil melakukan eksekusi terhadap hal-hal tersebut saya pun berbicang-bicang sedikit dengan tukang parkir, pendatang baru yang parkir di sebelah kanan penjual snack, penjual snack dan Ibu penjual mineral. Perbicangannya memang tidak terlalu penjang karena saya lebih banyak mendengarkan (wah dimana ceritanya niy ya??? Sabar dulu dunk!!!sedang multitasking juga ini!!!).

Dalam perbicangan itu, si penjual snack bercerita tentang cara-cara yang digunakan dalam mendistribusikan barang dagangannya yang direct selling dengan berpindah dari satu pintu Senayan ke pintu Senayan yang lain, dari satu lapangan ke lapangan yang lain dan dari satu tempat ke tempat yang lain. Karena perbicangan ini cukup menarik maka saya melakukan aksi slow motion terhadap diri saya dengan maksud saya ingin mendengar sedikit cerita lagi dari pedagang snack tersebut. Ia mengatakan bahwa dia sudah ke lapangan renang di Senayan kemudian ke pintu-pintu yang lain di Senayan dengan mengendarai sepeda motor namun yang laku hanya 3 jenis snack saja, Ia menuturkan bahwa sebenarnya dia sudah mempunyai pelanggan tetap di beberapa tempat (misalnya di Pondok Indah) namun di Senayan ini kebanyakan orang tidak tahu bahwa Ia sedang menjual makanan kecil, karena terbungkus plastik hitam, kemudian saya menyarankan kepadanya “kenapa gak pake gambar aja pak di motornya yang menandakan bahwa Bapak menjual produk tersebut”, kemudian Bapak itu merespon masukan saya tersebut dengan positif. Masih menurut cerita sang Bapak, dia juga mengatakan bahwa keberadaan Satpam di lapangan panah dan sekitarnya di  Senayan sangat ditakutkan dibandingkan preman-preman yang ada di lapangan tembak Senayan (Lapangan panah dan lapangan tembak senayan lokasinya terpisah, di sekitar lapangan panah ada lapangan sepak bola, softball dan lain-lain). Saya pun bertanya “kok bisa gitu pak” dalam hati saya mengatakan bahwa “lapangan di sini baik-baik aja Satpamnya” kemudian ia melnjutkan bahwa “klo di lapangan panah dan sekitarnya ketauan satpam jualan makanya barang-barang dagangannya bakal dibuang” (parah juga ya!!!mending berteman sama preman ya pak!!!). Karena sang Bapak ingin melanjutkan perjalanan selanjutnya untuk menjual barang-barang dagangannya maka kami pun melakukan terminasi komunikasi, saya mengatakan kepadanya “semoga barang dagangannya laku” dan beliau merespon dengan ucapan “terimakasih”. Kemudian saya memakai helm saya dan menancap gas menuju kosan dengan iringan audio yang mengalun di telinga saya.

Ummmm…dalam perjalanan Senayan-Warteg Dago dekat parkiran keluar kampus Sahdan (Kampus Lama Universitas Bina Nusantara, red) saya berpikir bahwa alangkah mulianya usaha Bapak ini, untuk menafkahi keluarganya dia harus rela banting setir ke sana ke mari untuk memperdagangkan barang bawaannya, tidak peduli satpam dan preman semuanya dia taklukkan agar kebutuhan keluarganya terpenuhi.

Seketika itu, saya juga mengingat tentang pengorbanan soerang Bapak juga yang pernah saya temui dengan beberapa orang teman saya di kampus untuk mengobati puteri semata wayangnya yang sedang sakit dan perlu dioperasi. Dengan keterbatasan yang beliau miliki, beliau mampu menembus keterbatasan tersebut dengan menjual beberapa barang berharga yang dia miliki agar putri yang ia sayangi sembuh dari penyakit yang ia derita. Sampai-sampai karena rasa sayangnya yang amat sangat terhadap anaknya sampai-sampai beliau mengikuti perkembangan rasa sakit putrinya ini dari hari ke hari dan malam ke malam dengan memberikan obat secara langsung ke daerah yang dirasa sakit oleh putrinya, dalam sholat malamnya pun beliau tidak akan mungkin lupa berdo’a untuk kesembuhan putrinya ini. Karena rasa sayangnya terhadap istrinya beliau juga tidak mampu menceritakan secara transparan dan terus terang keadaan putrinya ini (karena istrinya pada saat itu sedang sakit juga..maka beliau tidak mampu untuk menceritakannya supaya si istri ini tidak banyak pikiran). Mungkin tulisan ini tidak mampu menggugah naluri kemanusiaan kita, namun ketika mendengar ceritanya langsung dari Sang Bapak maka saya pastikan hati anda akan merintih mendengarnya. Di setiap alur cerita yang beliau narasikan itu tidak henti-hentinya beliau menyanjung dan memuji putrinya tersebut karena prestasi akademik yang dia miliki dan ketabahan dari teladan yang diajarkan oleh Bapaknya terhadap putrinya ini (memang benar..orang tua tidak pernah mengharap balasan apa2 kecuali patunya anak terhadap orang tua dan bisa menjaga kepercayaan yang diberikan…itu sudah cukup balasan yang berharga).

Mungkin ini hanya secuil cerita tentang perjuangan seorang bapak, masih banyak cerita-cerita yang lain yang tidak bisa saya ungkapkan di sini karena amat terlalu banyak. Bukalah diri kita untuk berbagi dengan orang lain agar kita lebih menyadari betapa berharganya diri kita untuk Bapak kita dan betapa berharganya setiap pengorbanan yang telah diberikan oleh Bapak kita terhdap diri kita serta kakak-kakak dan adik-adik kita. Semoga kita senantiasa diberikan petunjuk menjadi anak yang berbakti terhadap Bapak dan Ibu kita karena BIRRUL WALIDAINI merupakan keberhasilan manusia.

Hanya ingin menambahkan cerita saja, karena masih berhubungan dengan judul ini. Kemarin, saya bertemu dengan beberapa teman kelas saya di Kantin Kampus JWC (Joseph Wibowo Center = Kampus Binus, red). Karena saat itu kami tidak ada kelas (libur) maka pada hari itu kebanyakan teman-teman sekelas yang ke kampus dalam rangka mengerjakan tugas. Sebelum bertemu dengan teman-teman kelompok saya yang sudah berkumpul dan berdiskusi di lantai 1 saya mengisi perut dulu karena dari pagi belum diisi Nasi (kebiasaan orang Indonesia, klo belum makan nasi berarti belum makan), saya pun memesan makanan seharga 10 ribu per porsinya dengan menu hari itu adalah pepesan tahu, cumi, rempeyek udang, nasi, krupuk dengan pencuci mulut semangka sedangkan air minum disediakan secara gratis di setiap lantai kampus (harga 10 ribu sudah termasuk buah, nasi, krupuk, lauk..perlu diketahui bahwa harga 10 ribu ini berlaku untuk tiap harinya walaupun dengan menu yang selalu berubah-ubah tiap harinya). Setelah mengambil makanan, maka saya pun mengambil posisi untuk makan, teman sekelas saya yang sedang mengerjakan tugas kelompok di kantin mempersilahkan saya untuk duduk bersama di posisi dekat galon minum tersebut. Saya pun makan dan sambil berbincang sedikit dengan teman-teman saya tersebut mengenai tugas apa yang dikerjakan serta topik-topik yang lain. Di tengah pembicaraan itu, ada seorang Bapak dengan postur tubuh tinggi dan besar mengambil minum yang berjarak kurang lebih 3 langkah kaki di sebelah tempat duduk kami, kemudian Bapak ini mencuci tangan di wastafel dekat tempat air minum tersebut kemudian kembali ke tempat duduknya kembali. Pada waktu itu saya hanya memperhatikan sosok ini sekilas saja, karena saya sering juga melihat Bapak ini beredar di sekitar kampus. Beberapa menit kemudian, Bapak ini pun menuju toilet yang letaknya lumayan dekat dari kantin, ternyata teman saya (Nana, red) memperhatikan gerak-gerik Bapak ini dari tadi (Nana udah nyampe kampus duluan dibandingkan saya, sekitar jam 5an sore dia udah di Kantin). Si Nana pun bercerita kepada saya tentang adegan yang telah dilakoni oleh Bapak ini dari tadi sore.

Nana : " Is..lu tau gak klo Bapak ini anaknya kuliah juga di JWC"

Iis     : " Gak..emang kenapa???"

Nana : " Jadi tadi sore gue liat Bapak ini bawain bekal buat anaknya terus dia nata bekal itu di meja tempat mereka (Bapak dan anak, red) duduk di kantin, kemudian sang Bapak ini nungguin anaknya makan"

Iis    : "Trus???"

Nana : "Lu tau gak???Anaknya itu abis makan langsung pegi gitu aja tanpa ngomong basa basi gitu ke Bapaknya dan gak rapiin bekal yang dibawa Bapaknya tadi"

Iis    : eeeemmm (mode on : mendengarkan)

Nana : "Sekarang itu Bapaknya lagi nunggu sampai Bapaknya selesai kuliah, tega banget ya tuh anaknya padahal gue aja klo gue ditungguin ama bokap (Bapak, red) gue gak akan biarin Bokap gue nunggu lama, tuh anak malah gak menghargai Bokapnya padahal Bokapnya udah bawain dia bekal dan udah nungguin dia..eh dia pegi gt aja, ajak kek Bokapnya ngobrol, apa dia malu ya karna Bokapnya masih memperlakukan dia kayak anak kecil secara dia udah kuliah gitu"   

Iis : terdiam sejenak, meresapi makna pernyataan teman saya tadi, dan pikiran pun melayang ke dimensi waktu dimana saya tiap hari saya melihat Bapak itu beredar di sekitar kampus mulai dari lantai 1, parkiran serta kantin tapi saya gak tau klo Bapak ini ternyata menunggu anaknya yang sedang kuliah di kampus. Kemudian saya katakan kepada teman saya "jangan ngomong gt dunk na..!!! Jadi sedih niy pengen nangis karena merasa simpati dan empati melihat pengorbanan Bapak ini" kemudian saya lanjutkan lagi "Mungkin dia anak satu2nya kali jadi Bapaknya merasa harus melindungi dan menjaga anak itu"

Nana : "Mungkin juga siy"

Bapak itu pun hilang dari pandangan kami dan menu saya pun sudah habis dan saya harus melanjutkan tanggung jawab saya untuk menyelesaikan tugas presentasi saya, maka saya pun undur diri.

Semoga dari cerita diatas, dapat menambah pemahaman kita semua tentang makna memahami dan menghormati orang tua. Bukan saatnya lagi kita adalah anak yang senantiasa mau dimengerti dan dipahami orang tua, tapi sejak saat ini berusahalah untuk menjadi anak yang senantiasa memahami orang tua kita walaupun itu sulit, Ingatlah bahwa tidak akan ada langkah seribu jika tidak ada langkah pertama….Just do it NOW…dan rasakan hasilnya???Akan selalu ada kemudahan yang kita temui untuk setiap kesulitan yang kita hadapi jika kita menghargai, menghormati, memahami dan menyayangi Bapak dan Ibu kita. 

 

 

 

 

 

 

2 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://iisrasjeed.blogsome.com/2007/11/24/pengorbanan-seorang-bapak/trackback/

  1. di JWC ngambil s2 ya mas? emang gak cuma ibu aja ya, bapak juga sangat sayangnya pada anak2nya. btw, yang bawain makanan itu bapaknya apa supirnya mas? soalnya dikampus jwc emang supir2 biasa duduk2 dan beredar dilantai basement nungguin anak2 bosnya. tapi kalo emang bapaknya, keterlaluan juga tuh, dhudhudhu.. salam kenal sebelumnya ^_^

    Comment by aulia ali — December 2, 2007 @ 4:13 pm

  2. Ya saya ngambil s2…Maaf ya saya bukan MAS (hiks hiks hiks…tp gpp jg siy..udah biasa kok). Klo supir2 yg nunggu di basement saya juga tau, tp ini msh berdasarkan pengamatan teman saya, ambil hikmahnya aja…Semoga kita bukan merupakan bagian dari org yg tidak menghargai pengorbanan Bapak kita. Salam kenal balik dari saya.

    Comment by iisrasjeed — December 14, 2007 @ 2:24 pm

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by B A Khan