Penggunaan Bahasa Madura
Jelas, Bahasa Madura adalah bahasa yang digunakan oleh orang Madura, namun demikian, saya sebagai orang Madura cukup bisa membedakan tentang ciri khas bahasa Madura yang digunakan oleh orang Madura asli dan bahasa Madura yang digunakan oleh orang Madura yang tinggal di luar wilayah Madura.
Secara regional, Madura terbagi atas 4 wilayah, yaitu Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Bangkalan yang merupakan pintu gerbang Madura terkenal dengan kegaulan bahasanya dalam penggunaan bahasa Madura (biasa dijuluki Surabaya-nya Madura). Sementara Sampang terkenal dengan kekhasan, kelugasan, ketegasan dan penekanan dalam penggunaan bahasanya. Pamekasan berada diantara kekhasan Sampang dan Sumenep. Dan Sumenep yang merupakan ujung Madura terkenal dengan kesantunan dan kehalusan dalam penggunaan bahasa Madura-nya (secara!!! ..Sumenep kan pusat peradaban Madura..biasa dijuluki Solo-nya Madura).
Pada intinya, ada 3 tingkatan dalam Bahasa Madura, yaitu :
1.Bahasa Enja’-Iya (EI), merupakan tingkatan yang digunakan jika berkomunikasi dengan orang yang lebih muda.
Contoh : Ke adik kita, kita memanggil dengan kata sapaan “Be’e/Be’na” yang berarti “Kamu”. Sementara itu, kita menyebutkan diri kita sendiri dengan kata sapaan “Sengko’/Engko’” yang berarti “Saya”.
2.Bahasa Enggi-Enten (EE), merupakan tingkatan yang digunakan apabila kita berkomunikasi dengan orang yang seumuran dengan kita. Namun pada perkembangannya tingkatan EE ini disamakan dengan EI.
Contoh : Ke teman sekelas kita, kita memanggilnya dengan kata sapaan “Dhika” yang berarti “Kamu”. Sedangkan kita menyebutkan diri kita dengan kata sapaan “Bula” yang berarti “Saya”
Sepengetahuan saya, kalimat sapaan “Bula” dan “Dhika” jarang sekali digunakan oleh para anak muda dan teman sebayanya, kebanyakan mereka lebih menggunakan kalimat sapaan “Engko’” dan “Be’e” dalam kata sapaan sehari-hari dengan teman sebayanya. Perlu ditambahkan juga, tingkatan bahasa yang kedua ini biasanya juga digunakan untuk berkomunikasi dengan orang yang baru dikenal. Seiring dengan perkembangan bahasa dan budaya, tingkatan ke 2 ini jarang sekali digunakan dalam komunikasi sehari-hari.
3.Bahasa Enggi-Bunten (EB), merupakan tingkatan bahasa paling tinggi dan digunakan untuk berkomunikasi dengan orang yang lebih tua dan orang yang dihormati.
Contoh : Memanggil guru kita dengan kata sapaan “Panjennengngan/Ajunan” yang berarti “Kamu” dan memanggil diri kita dengan kata sapaan “Abdhina”
Penerapan bahasa tingkat ke 3 ini biasanya diimplementasikan dari anak ke orang tua, santri ke kyai, murid ke Gurunya, staff ke atasannya dan sejenisnya.
So, mari kita lestarikan bahasa daerah yang merupakan bagian dari budaya daerah. Kalau bukan kita siapa lagi!!!!Jangan malu dan jangan malu-maluin untuk mengungkapkannya!!!Tapi jangan lupa juga untuk tetap melestarikan dan menggunakan Bahasa Indonesia, karena aku cinta Indonesia.
Hallo…nama saya dimas, ayah saya orang madura dan menguasai bahasa madura, tetapi saya tidak pernah diajarkan bahasa madura oleh ayah saya. Saya ingin sekali belajar bahasa madura mengingat bahwa bahasa ini adalah “bahasa” akar saya, mungkin bapak bisa membantu saya untuk bisa mengenal atau belajar bahasa ini. Bapak bisa menghubungi saya lewat alamat email yg saya cantumkan. Terima kasih (mator sakalangkong)
Comment by Dimas Hifni R — June 9, 2008 @ 11:13 am
Hallo salam kenal dari saya, nama saya Iswarti Utami a.k.a IIS, boleh2 aja klo mo blajar bhs Madura, km bs nanya apapun ttg bhs Madura dan saya akan berusaha menjawab sebisa saya.
Comment by iisrasjeed — June 14, 2008 @ 5:56 pm
masih ada satu lagi tingkatan bahasa madura di Sumenep, namun sudah sangat jarang dipakai yaitu tingkatan AD (Abdhi Dhalem) itu biasa digunakan di dalam keraton sumenep. tapi karena sekarang anggota keraton sendiri sudah banyak yang tidak mengetahui bahasa ini, maka bahasa ini bisa dikatakan 80% sudah punah, hanya sebagian kecil bangsa keraton (Raden) yang masih bisa, itu pun mereka yang sudah berusia lanjut.
Comment by bhuwat — December 31, 2008 @ 10:27 pm
ada satu lagi tambahan tingkatan bahasa yaitu AD (Abdhi Dhalem) digunakan oleh banga keraton (Raden) di jaman kerajaan sumenep. sekarang sudah tidak dipakai
Comment by bhungkel — December 31, 2008 @ 10:47 pm
akum
saya arya orang madura asli (MA),,saya senang kalo bahasa madura masuk ke internet juga
hidup Madura
(sengko’ arya oreng madura asli (MA),, sengko’ senneng mon bahasa madura masok ka internet keya
odi’ madura
Comment by arya — February 14, 2009 @ 11:38 pm
duh aku jadi pengen pulang kemadura juga nich, sumpah baca blok ini aku jadi kangen pengen pulang kampung
I Love Msdura
Comment by musyarrofah — May 19, 2009 @ 5:05 pm
bagus mbak IIS…!!!
sengko’ dukung dhari budhih..
chayooooooo
Comment by fifin burneh — July 13, 2009 @ 7:37 pm
bagus mba’ IIS!!!
lanjutkan…
sengko’ dukung dhari budhih…
chayoooooooooooo
Comment by fifin burneh — July 13, 2009 @ 7:38 pm