My Virtual Voice

January 29, 2008

Bubur Ayam Musholla Anggrek

Filed under: Humaniora

Assalamu’alaim Wr Wb,

Dalam perjalanan menuju tempat kerja di Daan Mogot, saya menyempatkan diri dulu untuk membungkus sebuah bubur ayam yang sedang parkir di samping Musholla kampus Anggrek, Universitas Bina Nusantara, Jakarta. Sebelumnya, sesekali pernah memakan bubur ini di tempat yang sama, namun masih belum menyatu rasanya dengan lidah saya, mungkin dikarenakan ketika saya mencicipinya perut saya masih dalam keadaan kenyang.

Terhitung untuk yang ketiga kalinya (mungkin…) saya menikmati bubur ini kembali tapi dengan dibungkus, karena tidak memungkinkan juga jika saya makan di tempat (jam menunjukkan jama 8 kurang 5 menit…padahal masuk kantor jam 8..telat maning telat maning). Saya pun membungkusnya dan saya pun membayar dengan uang 50 ribuan dan saya mendapatkan kembalian sebesar Rp. 43,000.00 (jadi berapa tuh harganya?????itung sndiri ya..caranya gampang kok –> Total Pembayaran - Total Kembalian = Harga Pembelian….kayak anak SD aja). Setelah mendapatkan kembalian, saya pun mempersilahkan bungkusan bubur itu nongkrong dulu di cantolan yang ada di motor saya. Saya pun melajukan motor ke arah Daan Mogot dengan rute : Kampus Anggrek –> Jalan Panjang –> Putar Balik –> Ambil ke arah Relasi –> Ambil jalur yang ke Daan Mogot —> AMbil yang ke arah Tangerang –> ada putaran balik setelah halte busway samsat barat –> Beberapa meter setelah putar balik sampailah di kanor saya.

Selama dalam perjalanan, saya selalu memperhatikan pergerakan bungkusan bubur saya karena saya khawatir bubur tersebut "blepetan" kemana-mana, dari luar tampak sambalnya merembes ke bagian luar steorofom dan saya pun udah su’udzon jika bubur tersebut sudah tumpah-tumpah ke bagian-bagian yang lain (maaf ya bur udah su’udzon….!!!). Melihat kondisi ini, saya membiarkan saja karena saya harus fokus pada medan perjalanan saya dan saya pun berpikir bahwa jika besok atau lusa saya membungkus bubur kembali seharusnya saya membawa tupperware agar lebih aman dan terjamin. Dan perlu anda ketahui juga bahwa ketika kita membungkus makanan dengan menggunakan eorofom dan kita langsung membuang steorofom tersebut maka kita adalah bagian dari elemn di dunia ini yang menyumbang polusi dan global warming, karena sampah steorofom merupakan sampah yang tidak mudah hancur (diperlukan waktu yang sangat lama untuk menghancurkan sampah jenis ini). Coba anda bayangkan jika semakin banyak orang yang menggunakan steorofom maka akan mengakibatkan semakin tinggi tingkat global warming yang terjadi di dunia ini. Coba bandingkan jika anda membeli bubur bawa tempat/wadah sendiri maka akan mengurangi tingkat global warming, karena wadah yang anda gunakan tidakakan langsung dibunag melainkan dicuci lagi dan kemudian dipergunakan kembali sebagai tempat makanan yang lain. Ini lah salah satu bentuk harmonisasi alam. Solusinya : untuk mengurangi global warming lebih baik  menggunakan wadah/tempat/tupperware yang reuseable (bukan yang sekali pakai habis)…..ntar akan dicoba tips ini!!!! (lumayan juga iseng-iseng nulis jadi inget ttg topik harmonisasi alam…alhamdulillah diingatkan kembali dengan hal ini).

Beberapa menit kemudian, saya pun sampai ke kantor, parkir motor di dekat musholla (malas klo di tempat parkiran..kejauhan n panas lagi) kemudian masuk ruangan dan kemudian mendudukmaniskan bungkusan yang berisi bubur tersebut, menyalakan komputer dan kemudian menikmati bubur ayam tersebut. Apa yang terjadi ????? ternyata bubur itu tidak tumpah kemana-mana hanya sambalnya aja yang merembes ke luar steorofom (indikasinya : berarti tukang bubur bikin niy bubur gak asal-asalan…mantap deh..ajib banget buburnya). Bubur pun saya makan, dalam gundukan bubur tersebut terdapat beraneka ragam aksesoris yang mendukung, seperti : ayam (so pasti..namanya juga bubur ayam…klo bubur cendol!!!!ngapain capek2 nangkep ayam…bikin aja sndiri cendolnya), kacang, sambal,kecap dan aneka daun yang kurang saya kenal namanya (klo mo pasti silahkan tanya ke tukang bubur). Alhamdulillah, saya merasakan alangkah nikmatnnya rasa dan aroma bubur ini, sepertinya saya harus ke tempat ini tiap pagi untuk bekal ke kantor (jangan lupa bawa tupperware…biar kgk usah pake sterofom..lebih terjamin, aman dan mengurangi global warming).

Perlu anda ketahui bahwa jenis makanan seperti bubur ini, waktu untuk memakannya fleksibel sekali, karena bisa dinikmati kapan saja, baik sarapan pagi, mkaan siang dan makan malam sekalipun.

Pesan sponsor : "jadi klo anda melintasi kawasan kampus anggrek dan sekitarnya, jangan lupa untuk singgah di bubur samping musholla kampus anggrek, dijamin deh enak!!!apalgi di situ banyak jenis makanan yang lain yang berjejer dengan bubur…pokoknya top deh !!!!" (gratis bubur ya bang 100 mangkok…….:D).

Wassalamu’alaikum Wr, Wb. 

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://iisrasjeed.blogsome.com/2008/01/29/bubur-ayam-musholla-anggrek/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by B A Khan