My Virtual Voice

February 11, 2008

Sang Juara yang menjadi rebutan

Filed under: Humaniora

Sebagai insan yang terlahir di Indonesia dan tumbuh serta berkembang di Indonesia dan kemudian menjadi warga negara Indonesia sudah sepatutnya saya bersyukur atas nikmat yang telah dilimpahkan olehNya atas ke-Indonesiaan saya ini. Pernyataan hati yang dapat saya ungkapkapkan untuk negeri ini adalah I Love You Indonesia.

Peribahasa yang sangat ears catching mengibaratkan negeri tercinta ini adalah Gemah Ripah Loh Jinawi karena kesuburan tanah di negeri ini, ada sedikit lirik yang bisa menggambarkan kondisi ini yang berbunyi "tanam jagung tumbuh jagung, tanam salak tumbuk salak, tanam tongkat tumbuh ginseng (:D..lirik tambahan yang ini). Sedangkan pada saat  kerajaan Sriwijaya dan Gajahmada Indonesia terkenal dengan sebutan negeri maritim dan agraris. Betapa kayanya negeri ini, banyak kekayaan alam yang tersedia dan Tuhan telah berikan secara gratis untuk negeri kita ini, seperti : Lautan, Hutan, Pegunungan, Rempah-rempah, Sungai dan kekayaan alam lainnya. Tapi mungkin karena warga dan pemerintahnya memiliki kesibukan yang lain sehingga kami pun tidak sempat mengelola anugerah tersebut dengan baik. Serring keserbaadaan ini membuat kami menjadi bangsa yang manja sehingga kedelai saja harus impor padahal Indonesia adalah penghasil biji-bijian peringkat keenam dunia. Termasuk dalam golongan biji-bijian adalah beras, jagung, kedelai, kacang hijau dan lain-lain. Demikian juga dengan beras, Indonesia pun masih mengimpor padahal Indonesia penghasil beras nomer tiga dunia setelah China dan India. Tidak berhenti disitu saja prestasi yang didulang oleh republik tercinta ini, ia juga meraih peringkat produsen teh nomer enam di dunia, kopi nomer empat dan coklat nomer tiga. Juara demi juara pun disabet oleh negeri pemrakarsa nonblok ini,yang akhirnya mampu mencapai pucak juara, yaitu untuk pala, lada putih dan cengkeh. Sedangkan yang berada di posisi 2 besar di dunia adalah komoditas karet alam dan minyak sawit. Belum puas dengan prestasi-prestasi itu sang juara pun masih meraih juara yang lain, yaitu peringkat tiga untuk lada hitam.

Dari prestasi yang telah diraih ini, pantas saja jika dahulu kala Belanda adem ayem tinggal di Indonesia, tak terasa 350 tahun mereka menikmati hidup di bumi Indonesia, bagaimana tidak??? Nikmat alam yang didapatkan secara gratis membuat negeri itu enggan untuk memindahkan comfort zone ke wilayah yang lain. Belanda dengan VOC-nya mampu membangun negerinya tidak hanya di Belanda tapi juga di Indonesia, dampak secara sosial budaya pun terasa dari lamanya kekuasan tersebut, yaitu rakyat Indonesia menjadi rakyat yang feodal seperti halnya rakyat Belanda pada umumnya. Melihat keasyikan si Belanda di Indonesia, Inggris pun tak mau kalah ingin mencicipi santapan nusantara Indonesia, Inggris dengan EIC-nya mampu menginap di Indonesia dalam kurun waktu kurang lebih 3.5 tahun.

Sang juara menjadi rebutan negara-negara barat, karena limpahan alamnya menjadi faktor pendorong datangnya orang-orang luar ke Indonesia. Sebut saja Arab, India, Jepang, China dan negara-negara yang lain. Karena perebutan itulah menjadikan negeri ini semakin membludak saja penduduknya dari tahun ke tahun. Prestasi pun terukir kembali menjadi negara yang paling padat penduduknya setelah RRC.

Fenomena yang terjadi di Indonesia ini pun menjadi pelajaran dan riset yang berharga bagi kaum imperialis dan kapitalis di negeri-negeri sebrang sana. Ya, kekayaan alam yang melimpah, jumlah penduduk yang banyak dan masih dalam kategori negera sedang berkembang. Alih-alih mengulurkan bantuan pun disodorkan untuk Indonesia dengan dalih untuk membantu pembangunan di Indonesia namun apa yang terjadi dengan bantuan tersebut Indonesia Makin Fakir saja sehingga membuatnya tergantung terhada negara donor. Negara donor pun tidak mau rugi, dalam kondisi keterjepitan Indonesia itu pun ia menyodorkan serangkaian kontraprestasi yang banyak merugikan bangsa Indonesia, namun untung bagi pihaknya dengan cara melakukan interfensi dalam kebijakan moneter dalam negeri Indonesia sehingga menyebabkan harga komoditas utama menjadi murah dan ketika komoditas tersebut telah terbeli dan dijual kembali oleh mereka harganya menjadi naik berkali-kali lipat. Seperti dikutip dari majallah gatra :

"Ada kepentingan luar yang tidak menginginkan kita tenang. Seperti kita simak di buku The Confessions of an Economic Hitman karangan John Perkins. Pengarangnya mengaku bahwa ia ikut melakukan rekayasa untuk membuat ekonomi negara berkembang bergantung pada negara kuat. Dan dalam buku itu disebutkan bahwa Indonesia menjadi target mereka. Lebih mengagetkan dari pengakuan John Perkins, banyak lembaga dunia yang selama ini kita percaya akan membantu ternyata bagian dari konspirasi tersebut. Luar biasa!

Termasuk IMF. Lembaga berkedok pendanaan (funding) itu menganjurkan penjualan 300.000 hektare kebun kelapa sawit milik Salim yang diambil alih BPPN, lalu "dimenangkan" oleh Gudri. Apakah ini bukan rekayasa asing? Pada waktu itu, harga CPO US$ 220 per ton. Hari ini melesat hingga US$ 800 per ton. Kita jual kebun sawit dengan harga Rp 12 juta per hektare. Hari ini, harganya melonjak hingga Rp 75 juta per hektare.

Begitu pula CCB (container crude barrier) yang dijual pada waktu harga baja sangat murah. Sekarang harganya naik berlipat-lipat. Itu bukti bahwa kita diakali oleh kepentingan luar. Kini tidak boleh ada yang mengakali kita."

untuk itulah, sebagai warga negara marilah kita cintai Indonesia dengan ke-Indonesiaan yang kita miliki, mulailah cintai Indonesia dari yang sekatarian (per sektor) yang kita pahami tentang Indonesia. Jangan melihat dari  semua hal jika kita tidak memiliki filter yang bagus dari dalam diri kita tentang Indonesia, karena hanya akan akan menambah daftar orang Indonesia yang tinggal di Indonesia tapi kerjaannya hanya mencaci Indonesia tanpa membuat sedikit persembahan yang bernilai. Dimulai dari yang sedikit dan yang kecil dan dari diri sendiri untuk kemudian imbasnya kepada orang lain.

I LOVE INDONESIA. 

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://iisrasjeed.blogsome.com/2008/02/11/negeri-serba-ada-tapi-rajin-import/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by B A Khan