Menjadi Guru SD (bagian 1)
Assalamu’alaikum….
MENGAJAR di SDN SOBIH II, Kecamatan Burneh, Bangkalan
First trial, First Learning
Bagaimana kabar kalian semua ???? Baik-baik aja bukan ????
Liburan Natal dan Tahun Baru (2007 ke 2008) serta liburan Idul Adha juga (20 Desember 2007) sebulan (setahun) yang lalu saya isi dengan beberapa hal di tanah kelahiran tercinta, Pulau Madura. Salah satu hal itu adalah dengan menjadi guru SD (Sekolah Dasar) di 2 sekolah yang lokasi lumayan jauh dari rumah saya. Ide ini berawal dari kebosanan saya menjalani liburan kali ini dengan hal-hal yang permanen di rumah, di jalanan dan di rumah saudara-saudara saya. Akhirnya otak ini menerawang jauh untuk mencari topik liburan kali ini, jika sebelumnya (Liburan Idul Fitri) saya mengisi liburan dengan melakukan beberapa petualangan dengan teman-teman kecil saya di rumah (yang selanjutnya dijuluki dengan sebutan BOLANG –> Bocah Petualang), maka untuk liburan kali ini saya mengambil topik kembali ke sekolah (bisa bermain ama anak SD lagi deh).
Ide saya ini, saya ceritakan ke sepupu saya yang kebetulan menjadi guru honorer di sebuah sekolah dasar di wilayah pedesaan di kecamatan Burneh. Hal ini saya ceritakan ketika dia menginap di rumah kakak saya di Surabaya dan kebetulan kita tidur sekamar. Kemudian dia pun merespon tentang ide saya "Beneran is…???…Kamu mau???" saya pun menjawab "Ya lah". Keesokan harinya dia pulang ke Madura (Bangkalan tepatnya) karena dia harus kuliah dan mengurus murid-muridnya juga dan saya masih di Surabaya. Sesampainya di Madura, dia menghubungi saya melalui sms dan dia menyatakan bahwa dia sudah menceritakan ide saya untuk mengajarkan komputer kepada kepala sekolahnya (yang kebetulan juga salah satu teman Bapak saya dulu ketika sama-sama terjun dalam bidang pendidikan…sekalian menyambung tali silturrahim ceritanya..karena hal ini merupakan salah satu bentuk tanggung jawab sebagai seorang anak). Sang kepala sekolah pun merespon positif ide ini melalui mediator sepupu saya. Saya pun di sms kembali agar saya "turun" (baca : pulang) ke Madura secepatnya, karena hari Jum’at sepupu saya ada jadwal mengajar dan jam mengajar dia bisa saya gunakan (Alhamdulillah..akan selalu ada jalan untuk sebuah niat baik…).
Sebelum beralih ke cerita lanjutannya, latar belakang saya untuk memberikan pengajaran komputer ke daerah pedesaan adalah dengan maksud dan tujuan agar mereka (anak-anak SD di pedesaan) mengenal tentang teknologi komputer (minimal wujudnya) dan tahu fungsinya. Kebetulan waktu itu saya juga membawa laptop, jadi sekalian menambah nilai guna dari laptop itu sendiri sehingga bisa dinikmati yang lain juga.
Perlu diketahui bahwa hampir sebagian besar masyarakat yang tinggal di pedesaan hanya mengetahui bahwa fungsi komputer itu untuk mengetik, game standar (solitaire, freecell, dkk) dan untuk menghasilkan selembar kertas hasil ketikan. Well, that’s true…mereka mengetahui berdasarkan cara pandang mereka dan kita harus menghargai itu. Dan cara pandang itu sendiri pun bisa kita upgrade dan update berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang kita miliki. Inilah yang ingin saya bagi kepada mereka agar mereka lebih mengenal dan megetahui komputer lebih jauh lagi. Apalagi saya juga merupakan bagian dari komunitas mereka (walaupun lokasinya sangat berjauhan) dan saya juga menyukai dunianya anak-anak kecil, apalagi yang berhubungan dengan pendidikan dan dunia bermain (I’m lovin it).
Hari jum’at pun tiba, pagi-pagi sepupu saya sudah menelpon untuk siap-siap (Alhamdulillah saya sudah bangun, karena setelah sholat shubuh saya juga mau berziarah ke bapak saya yang kuburannya berlokasi di belakang rumah sepupu saya). Selesai ziarah, saya mendatangi rumah sepupu saya yang kondisinya masih tidur sehingga saya pun membangunkannya dan kami berbincang sebentar sambil menikmati snack yang disuguhkan oleh kakak dari sepupu saya tersebut.
Selepas dari rumah sepupu saya, saya pulang ke rumah untuk siap-siap pergi ke SDN Sobih 2, Kecamatan Burneh, Bangkalan dengan mengendarai sepeda motor. Sebelum pergi saya pamit dulu ke Ibu saya yang sedang berada di teras rumah :
Ibu : Mo kemana ???
Saya : Ke Sobih mo ngajar
I : Hah??? Ngapain ke sana??? Kan jauh abis itu becek banget (sebelum saya pegi memang sedang hujan rintik-rintik), apalagi ujan gini ujan (Ibu saya sudah mengethaui medan di sini karena dulu frekuensi ke daerah ini terbilang sering untuk urusan kantor )
S : kan mo ngajar, udah gpp, berangkat dulu ya
kemudian saya cium tangan beliau dan pamit mengatakan Assalamu’alaikum selanjutnya tancap gas menuju TKP.
Kami pun sampai ke sekolah SDN Sobih 2. Saya mengobrol, berdiskusi dan tukar pendapat dengan kepala sekolahnya sekalian meminta ijin agar diberikan waktu untuk mengajar beberapa jam saja (1 shift). Respon yang diberikan pun sangat positif sekali dan bahkan beliau bersedia memberikan waktu kepada saya tidak hanya satu hari tapi juga beberapa hari (semau saya saja…), tapi sayang saya hanya bisa sehari di sekolah itu karena keesokan harinya saya harus ke Surabaya lagi menemani Ibu saya untuk menghadiri dan membantu acara pernikahan anak dari adik laki-laki ibu saya (keponakan ya namanya….????…).
Saya pun masuk kelas, saya meminta sepupu saya untuk menyampaikan intro dulu terkait kedatangan saya ke sana, murid-murid tampak senang dan antusias. Intro selesai, sepupu saya masuk ke kelas 4 karena harus mengajar di kelas itu. Saya pun berdiri di depan kelas sendirian dengan ditemani tas ransel yang berisi laptop dan beberapa periheral yang lain. Saatnya saya mempresentasikan kemampuan saya dengan menggunakan pendekatan bahasa anak-anak, kebetulan saat itu kelasnya digabung antara kelas 5 dan 6 sehingga kondisi kelasnya menjadi sangat riuh. Tapi bersyukur saya bisa mengendalikan keriuhan tersebut dengan sedikit presentasi lisan yang saya tampilkan di depan kelas, dalam hal ini saya menawarkan kepada mereka terkait protokol (baca : bahasa) yang digunakan dalam komunikasi, mereka menjawab menggunakan bahasa Indonesia saja, namun karena iklim dan budayanya masih di Madura maka saya pun terbuai menggunakan bahasa Madura dalam komunikasi data saya dengan user-user yang ada di sana (user-user = Murid-murid).
Saya pun mengeluarkan laptop yang nongkrong dengan tenangnya dalam tas ransel saya, saya mulai memperkenalkan bagian-bagian laptop yang kemudian saya analogikan dengan bagian-bagian komputer biasa yang mungkin sudah pernah mereka lihat. Laptop seperti halnya PC biasa memiliki bagian-bagian yang hampir sama, seperti layar/monitor/LCD, keyboard, Mouse/touchpad dan sistem unit/processor. Hardware itu saja yang saya perkenalkan. Kemudian masuk ke bagian software, saya memperkenalkan tentang program applikasi yang menurut saya menarik bagi anak kecil, seperti applikasi untuk menonton dvd/vcd, mendengarkan lagu, mengetik dan beberapa program applikasi yang lain yang ringan dan mudah diingat oleh anak kecil. Pertama kali, saya mengajak mereka untuk menonton bareng, respon menjadi riuh kelasnya sehingga saya meninta mereka untuk kembali ke tempat duduk masing-masing agar tetap tenang dan menceritakan alur film tersebut secara singkat dan jelas dan saya pun memberikan umpan balik kepada mereka dengan cara menunjuk salah satu orang untuk menceritakan kembali film yang sudah ditonton dan diceritakan tersebut. Semuanya malu-malu dan tidak mau berbicara dan saya pun langsung "menembak" satu orang untuk menceritakan kembali dengan sambil menuntun dan mengarahkan ceritanya ketika dia gugup dan terbata-bata (adegan kali ini mirip dengan menjadi guru TK). Saya bertanya lagi, tentang hikmah dari film ini kepada murid-murid yang ada di sana, dengan meminta respon satu per satu dari setiap murid.
Setelah menonton, saya pun mengarahkan untuk mendengarkan musik bareng, sebenarnya saya ingin memutar lagu-lagu dangdut atau lagu-lagu anak kecil, tapi karena koleksi saya sangat minim, maka saya hanya bisa memutar lagu-lagu pop dan rock yang sering mereka dengarkan. Mereka pun mendengarkan dan sambil tertawa malu dengan senyum ditundukkan ke bumi. Melihat respon mereka yang demikian positif, saya semakin termotivasi untuk memberikan mereka hal-hal yang lain yang masih ada hubungannya dengan komputer tapi bisa menambah pengetahuan mereka untuk bidang studi yang lain, apalagi jika bukan bahasa inggris karena kebanyakan sekolah-sekolah di desa sangat minim sekali tenaga pengajar bahasa Inggris yang mumpuni. Untuk menambah koleksi vocabulary mereka, beberapa kali sering saya masukkan istilah komputer yang kemudian saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Selain applikasi audio dan video, saya juga memperkenalkan applikasi penampil foto yang dalam hal ini saya menampilkan beberapa koleksi album saya yang bersifat public foto (foto saya bersama-sama teman-teman saya dan bukan foto pribadi yang sendirian dan narsis).
Dari beberapa hal diatas, saya ingin mengajak dan menginformasikan kepada mereka bahwa komputer bukan hanya laptop dan PC tetapi applikasi komputer itu sangat beraneka ragam, seperti halnya Handphone yang mungkin sudah banyak yang memiliki, televisi yang hampir merata dimiliki oleh semua masayarakat di setiap segmen, radio yang sering mereka dengar dan peripheral yang lain yang dikontrol oleh mikrokontroller.
Setelah selesai mengajar di kelas 5 dan 6, sepupu saya meminta saya untuk mengajar di kelas 4, memang…muridnya tidak seberapa banyak di kelas sebelumnya, tapi merupakan kelas yang lebih muda dibandingkan dengan kelas sebelumnya, sehingga saya pun harus bisa menggunakan diksi yang tepat untuk berkomunikasi bersama mereka. Di hari yang sama, saya pun melanjutkan mengajar di kelas 4 dengan materi yang tidak jauh berbeda dengan materi kelas sebelumnya, namun dengan pembawaan yang cukup santai, serius dan agak-agak bermain tapi mendidik.
Well,sebenarnya mengajar seperti ini bukan pengalaman pertama saya, karena sebelumnya saya juga sudah pernah membuka kursus bahas Inggris di rumah atas dasar motivasi dari ayah saya, permintaan dari beberapa tetangga dan sepupu saya dan mengisi kekosongan waktu di rumah ketika SMU dulu.Atas dasar itulah, saya pun mengajar bahasa Inggris di rumah dengan jadwal seminggu 2 kali atau jika tidak masuk terserah kapan bisanya asalkan waktunya ba’da isya’. Mengajar di Sobih membuat saya serasa berada di dunia mengajar beberapa tahun yang lalu, bermain..bercanda..merayu anak kecil bahkan sampai menasihati anak kecil (that’s interesting experience and I won’t forget it). Terimaksih untuk Bapak Kuddin selaku kepala sekolah SDN Sobih, Fatim selaku sepupu saya dan guru di SDN tersebut serta beberapa guru yang rela memberikan waktunya untuk saya dalam mengajar komputer, terimaksih yang sebesar-besarnya saya haturkan kepada bapak-bapak dan ibu semua, karena dengan pengalaman ini membuat saya semakin membuka pikiran bahwa ternyata pendidikan itu sangat berharga dan pendidikan itu membutuhkan perjuangan dan pengorbanan. Hal ini tampak dengan perjuangan yang telah dipersembahkan oleh para pahlawan tanpa tanda jasa ini yang rela jauh-jauh ke desa untuk memberikan ilmunya kepada murid-murid mereka agar menjadi generasi yang cerdas dan terdidik. Semoga saya bisa meneladani sikap dan sifat Bapak/Ibu yang tanpa pamrih dalam dunia pendidikan. Terkhusus untuk Bapak saya tercinta, saya haturkan terimakasih karena ilmu pendidikan yang telah ayahanda berikan dan bagi ketika saya masih kecil dulu baru saja saya buka lembar-lembarnya. Semoga ini menjadi amal jariah bagi ayahanda tercinta yang sudah berpulang ke rahmatullah, insyaAllah saya akan membuka lembar-lembar ayahanda yang lain yang bisa ananda jadikan pedoman untuk derap langkah ke depan.
To be continued (dengan judul "Menjadi Guru SD-Bagian 2")
Ass,
saya masih saja kebingungan mencari cara bagaimana harus mengajar bahasa inggris pada anak kls 1 dan 2 sd. Dapatkah anda membantu saya???
Comment by hannamarpaung — August 21, 2008 @ 6:56 pm
erikut ini adalah jawaban yang bisa saya berikan untuk sahabat :
Wa’alaikum salam Warahmatullahi Wabarakatuh,
Memang mengajar anak2 kelas 1 dan 2 SD itu membutuhkan kesabaran yang
ekstra. Karena susah mempertemukan antara harapan kita untuk mereka dan
keinginan belajar mereka yang masih banyak main-mainnya. Klo menurut
saya, buatlah suasana belajar sebagaimana suasana yang mereka dapatkan
dalam bermain. Jangan terlalu serius dan ajak meereka untuk mencari
hal-hal baru, karena klo harus selalu mendengarkan mereka akan bosan. Klo
saya sendiri dalam mengajarkan bahasa inggris ke beberapa anak seumuran
SD dengan cara memberikan materi beberapa menit (kurang lebhih 20-30
menitan), setelah itu memberikan soal dari materi tadi (hanya mengulang
saja), Bagi yang selesai dikumpulkan dan langsung dikasi nilai karena
karakter anak seumuran sd itu senang klo apa yang sudah mereka lakukan itu
dihargai dan dinilai, kadang2 menyelipkan conversation dan tebak2an
ala bahasa inggris (semacam kuis gitu lah), selain itu juga saya kadang
mengajak mereka menyanyikan bahasa inggris bareng melalui dvd/cd
player yang ada di rumah (yang tentunya ada teks lagunya…karaokean
neh critanya), dan lain-lain.
Masih banyak metode yang digunakan utk mengajar dan mendidik mereka.
Semoga share yang saya berikan bermanfaat dan dapat ditanyakan klo ada
hal yang kurang dimengerti. Sekian dan terimakasih. Semoga bermanfaat.
Mari kita majukan pendidikan Indonesia.
Best Regards,
-IIS-.
Comment by iisrasjeed — August 22, 2008 @ 8:49 am