My Virtual Voice

April 9, 2008

Maret 2008, bulan penuh tantangan

Filed under: My Voice, Aktivitas

Bismillahirrohmanirrohim,

Alhamdulillah waa syukurillah Allah senantiasa berikan rahmat dan petunjuknya dengan jalan yang tidak pernah disangka-sangka. Di tengah kesibukan dan permasalahan yang sedang dihadapi Allah tidak akan pernah lupa melimpahkan nikmat dan karunianya kepada hamba-hambanya. Bulan Maret yang telah berlalu memberikan banyak pelajaran dan hikmah yang tidak akan pernah terlupakan. Perjalanan yang telah saya lakukan di bulan Maret adalah sebagai berikut : 

1. Awal Maret (7,8 dan 9 Maret 2008) Menghadiri acara Latihan dasar dan kepemimpinan calon aktivis dan pengurus Himtek untuk binussian angkatan 2007 di gunung Bunder (saat itu adalah minggu final exam dan pengumpulan outline thesis, tapi demi masa depan Himtek harus disempatkan sekalian untuk meng-f5-kan pikiran biar segar kembali).

Reborn 2005 niy 

2. Pertengahan Maret (19-23 Maret 2008) Jalan-jalan ke JOGJA bersama dengan teman-teman FOSILMATA (Forum SIlaturrahim Alumni MT 2003), perjalanan ke JOGJA ini merupakan yang pertama kali. Hal lain yang lebih penting adalah bukan jalan-jalan ke objek wisatanya tapi nutrisi rohani yang didapatkan selama proses menuju objek-objek wisata tersebut (Astaghfirullah..Alhamdulillah..Subhanallah..Allahu Akbar). Dan yang tak kalah penting adalah saya jadi lebih dekat dengan Sri yang selama ini terlihat pendiam dan introvert (setelah beberapa hari dalam satu kamar dengannya saya jadi lebih tahu teman yang satu ini…terimakasih ya Sri untuk masukan dan ceritanya dan juga mau dengerin saya….Sory niy klo di kamar sering ngecengin,,,,,peace!!!)

RIHLAH-ALL-CREW 

Karena Sri juga saya jadi memantapkan diri untuk ikut ke JOGJA, karena saya yang menginformasikan ke dia tentang acara Rihlah ini dan setelah saya berbicara via YM dan telpon bersama dia, dia akan mengikuti acara rihlah ini dan akan merayu orang tuanya dulu. Setelah beberapa jam kemudian dia pun berhasil merayu orang tuanya dan dia mengatakan kepada saya kalau dia bisa ikut. Untuk itulah, walaupun saat itu kondisi kurang fit setelah gempuran beberapa kewajiban kuliah dan beberapa permasalahan lain yang datang saya pun melanjutkan langkah untuk ikut acara ini dan pembayarannya pun saya lunasi ketika hari pemberangkatan (padahal bendaharanya teman sekosan yang tiap hari ngingetin saya…tapi masih blm mantap..saya delay dulu sampai dengan ada kepastian dalam diri saya). 

ME&SRI 

3. Akhir Maret (29 maret 2008), saya diperintahkan oleh abang saya untuk berangkat ke Dumai,Riau untuk sebuah urusan keluarga (bukan untuk urusan kerjaan dan juga perjodohan seperti yang dipersepsikan oleh beberapa teman-teman), satu pernyataan untuk hal ini adalah "Jika bukan karena ibu saya, saya gak mau ke sana". Hari sabtu dan Minggu itu saya punya beberapa agenda dengan teman-teman Himtek dan Fosilmata, Sabtu sore ada acara makrab Himtek di kampus yang sudah saya rencanakan dengan anggota dewan penasihat/pembina yang lain untuk menyisipkan 2 agenda waca, yaitu : baksos dan forum alumni. Sedangkan hari minggunya ada acara silaturrahim ke rumah Isnan dan Devi untuk memberikan selamat atas pernikahan yang telah dilaksanakan seminggu yang lalu. Agak berat juga meninggalkan 2 tanggung jawab itu karena saya sudah berjanji untuk datang dan hadir, tapi apa daya???keluarga saya sedang memanggil dan saya harus mendengarkannya walaupun saya cukup kesal juga ketika abang saya meminta secara mendadak untuk ke sana, saya katakan kepada dia "kenapa gak kamu aja siy yang ke sana, aku tuh capek, ntar malem aja deh nelp lagi, aku lagi makan skrg", kemudian abang saya bilang "klo aku bisa dan gak berhalangan, ngapain aku tega nyuruh kamu, aku tau klo km capek" (dengan nada yg agak merendah suaranya, karena abang saya tahu gmn karakter saya). Sambil makan saya berpikir, terlalu banyak pengorbanan dan perjuangan yang telah diberikan oleh Ibu saya untuk saya mulai dari mengandung selama 9 Bulan, menyusui saya, membesarkan dan sampai saat saya segede ini ibu saya masih memperlakukan saya seperti anak kecil saja (udah gede niy…malu kan klo diliat ama shabrina & ponakan-ponakan yang laen). Membayangkan senyum, air mata dan suara ibu saya akhirnya saya memutuskan untuk pergi dan kebetulan juga minggu itu adalah minggu gajian dan kesempatan inilah adalah kesempatan untuk menyisihkan uang saya untuk keberangkatan saya ke sana demi ibu saya, karena saya tahu Ibu saya tidak akan meminta gaji saya (malah saya yang sering minta sama beliau), dengan cara ini Allah tunjukkan kepada saya bahwa banyak cara untuk memberikan apa yang sudah kita usahakan untuk orang yang paling kita cintai.Walaupun harga pesawat ke pekan baru terbilang fantastis untuk ukuran penerbangan domestik dan belum tentu juga saya dapat hari itu, dengan niat untuk lebih belajar berbakti kepada orang tua (khususnya Ibu0 alhamdulillah saya dapat tiket garuda Indonesia menuju pekan baru jam 15.15 Wib (saya bisa switch dari class youngky ke class m…jadi lebih murah harganya…emang rejeki gak kemana..klo kata bapak saya "rejeki udah ada yg ngatur..ada yg dapet secangkir ada yang dapet segelas..makanya jangan lupa ikhtiar dan do’a..sholat dhuha bisa mempermudah rejeki dan urusan orang"). Tiba di pekan baru sekitar jam 16.30 Wib dan untuk menuju ke Dumai masih menempuh perjalanan 5 jam lagi. Travel yang dipesan oleh abang saya jam 17.00 Wib ternyata sudah berangkat duluan sehingga saya harus naik shif selanjutnya, yaitu jam 20.00 wib (astaghfirullah..sendirian pula, gak kenal medan daerah sana dan naek travel pula…selamet gak ya kira2???). Seperti biasa, ibu menghubungi terus dari hp saya dan selalu bilang "masyaAllah..km sendirian dan malem lagi brangkatnya..km gak takut" terus saya bilang "ya udah gpp..do’ain aja biar selamet dalam perjalanan sampai tujuan". Berulang-ulang ibu menghubungi saya, terus saya bilang "Do’ain aja..insyaAllah selamet..lagian ini niatnya bukan buat ngapa2in". Terus ibu bilang "ya udah nak..ati2 di jalan dan selamat dlm perjalanan". mendengar ungkapan beliau yang seperti itu saya menjadi semakin tegar dan berani dalam mengarungi perjalanan ini (teringat cerita bapak saya tentang seorang dokter yang juga teman beliau di sekolah-dokter syafii namanya, sebelum berangkat ujian di dokter ini selalu meminta restu dan do’a ibu nya dan dalam keberangkatannya menuju ke sekolahnya ibu nya selalu bilang "kamu lulus nak" dan akhirnya kata bapak saya si dokter ini lulus dalam tiap ujian, Menurut bapak saya lagi "jadi orang tua itu jangan berkata berlebihan dan kasar karena do’a orang tua-khususnya ibu itu mengandung do’a, takutnya do’a yang jelek itu mengandung do’a yang dikabulkan", sekedar masukan dari saya ketika orang tua kita sudah emosi tingkat tinggi lebih baik kita diam dan dengarkan saja, tidak usah merespon dengan hal yang sama juga). Alhamdulillah saya sampai di Dumai dengan selamat dan tentunya dengan nutrisi rohani yang bertambah pula (lumayan untuk bekal saat ini dan masa yang akan datang..)

Birrul walidaini kunci keberhasilan manusia
Do’a ibu merestui 

Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by B A Khan