My Virtual Voice

April 24, 2008

Kena tilang karena Helm

Filed under: Humaniora, My Voice

Kemarin sore sepulang kantor saya kena tilang di sekitar area jalan daan mogot menuju jalan panjang. Kondisi saat itu adalah lampu merah sehingga untuk menghindari kemacetan di belakang saya, saya pun bergerak maju ke sisi depan jalan dan oooopsss saya lupa bahwa penumpang saya tidak mengenakan helm. Seorang polisi pun ‘memanggil’ saya dan meminta saya minggir dengan bahasa sandi. Bahasa sandi itu saya dekripsikan karena saya tahu kesalahan saya. Kami (saya dan henny–teman kantor divisi SAP) mempertanggungjawabkan kesalahan kami dan seperti biasanya Bapak Polisi melakukan introgasi seperti tertulis dibawah ini :

Saya dan Heny : Saya membuka helm dan cadar, Heny turun dari motor

Polisi : Selamat sore, bisa dilihat surat-suratnya??? /* si Polisi memelototi bodi motor saya */

Saya : Tanpa berkata apa-apa (karena malas banyak ngomong lg ngejar waktu utk ke kampus karena ada jadwal presentasi kelompok), saya keluarkan STNK dan SIM yang tersimpan di dompet saya.

Polisi : Bisa ikut ke dalam (ke dalam : semacam kantor untuk berteduh) /*sang polisi sambil tersenyum*/

Saya : /*balas sedikit senyumannya karena senyum juga ibadah*/ Saya berjalan ke dalam mengiringi langkah sang polisi

Henny : Is..klo mo damai biar ntar gue bayar

Saya : Nyantai aja lagiBerhubung ruangan introgasinya terbatas maka sebelum mengijinkan saya masuk ke dalam ruangannya sang Polisi menunggu seorang korban tilang untuk keluar. Setelah orang itu keluar, maka yang ada di dalam ruangan itu adalah 2 orang polisi (satu yang menilang saya dan satu lagi yang akan menikmati Indomie+Telor) dan saya.

Polisi pengintrogasi saya : Kira-kira sibuk gak ??? /*sambil membuka surat tilang untuk menuliskan kesalahan saya karena penumpang saya tidak membawa helm*/

Saya : Saya sibuk klo hari ini pak, karena nanti malam ada kuliah dan ada tugas presentasi juga.

Polisi : OOO..masih kuliah, maksudnya ada waktu untuk sidang tanggal 6 gak???

Saya : tanggal 6 kapan pak??

Polisi : bulan depan

Saya : Saya bisa pak, dimana?? /* saya tidak mau berdamai atau membayar uang sepeserpun untuk urusan yang beginian*/

Polisi : Di S.Parman, deket slipi Jaya

Saya : Saya bisa pak

Polisi : Kamu orang Bangkalan, Madura ya???

Saya : Ya

// Seorang polisi yang lain menawarkan saya Indomie…tapi saya bilang terimakasih sebagai bentuk penolakan halus saya//

Polisi : Saya juga orang Jawa timur /*sambil tersenyum */

Saya : /* Diam saja karena naluri untuk basa-basi dan becandaan saya lagi di-Offkan…udah bukan saatnya tebar-tebar pesona dan basa-basi gak jelas*/

Polisi : Ya udah lah..sama-sama Jawa timurnya,

Saya : Terimakasih pak, teman saya nebeng cuman sampe depan kok

Polisi : jangan lupa pake helm ya

Saya keluar dari ruang introgasi dan kami melanjutkan perjalanan menyusuri green garden menuju jalan panjang dan berlabuh di JWC. Si Heny turun di taman ratu dan dia pun tertawa setelah mendengar cerita dari saya.

Banyak hikmah dari kejadian ini, yaitu :

1. Berniat menolong orang lain akan selalu ada pertolongan Allah dalam bentuk yang lain.

2. Rasa pengakuan yang kuat dengan mengatasnamakan Jawa Timur, walaupun Madura sebenarnya tidaklah sama dengan Jwa Timur, Madura itu pulau sendiri, sedangkan jawa timur adalah kumpulan beberapa regional di wilayah Jawa bagian timur, suku Madura adalah salah satu komponen pembentuk/unsur budaya di wilayah jawa timur.

3. Saya siap untuk disidang karena kesalahan saya, karena dengan disidang maka berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari suami kakak saya maka uangnya akan masuk ke kas negara. Jika saya tidak disidang berarti uangnya masuk ke kas si oknum.

4. Gara-gara hal ini saya terlambat ke kampus dan Alhamdulillah dosennya juga telat datang (kira-kira jam 1/2 8 malam baru sampai) sehingga saya tidak perlu berulang-ulang membaca kasus yang sudah kami diskusikan malam sebelumnya di perpustakaan.

5. Menjadi diri sendiri ketika menghadapi permasalahan seperti ini, jangan mentang-mentang motor tersebut ada attribut polisinya maka membawa nama orang lain untuk memperlancar urusan ini. Kata Rosulullah : "Pemuda (bisa juga pemudi) yang baik adalah pemuda yang bisa menyatakan inilah saya, bukan yang menunjukkan inilah keluarga saya". So..bangunlah diri kita sendiri dengan bekal yang telah diberikan oleh orang tua kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari keluarga kita dan sesuai dengan harapan orang tua secara umum.

Special thanks : terimakasih Bapak Polisi.

Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by B A Khan