Gathering Himtek @ Cibubur
Bismillahirrohmanirrohim,
Ketika menuliskan judul ini, kita pasti teringat dengan salah satu lagu yang dibawakan oleh spice girl yang dalam bahasa inggrisnya adalah "When to become one". Tapi kali ini saya tidak sedang membicarakan lirik lagu tersebut. 2 hari yang lalu sepulang kuliah (sekitar jam 10an malam) seperti biasa saya mandi, sholat, nonton tv sebentar dan kemudian tidur dengan mematikan tv atau mendengarkan radio. Sekitar jam 1 Malam, saya terbangun karena ada yang air yang menetes di kaki saya dan ooooopsss rupanya genteng di kamar saya bocor. Oleh karena itulah saya bangun (walaupun dengan kondisi tidak rela) dengan menepikan kasur saya agar tidak basah. Karena ada 2 kasur, maka kasur yang satunya saya tepikan ke dinding dan yang satu lagi saya tepikan ke sisi yang lain agar saya bisa tidur dengan kasur. HUFFFH!!!! Kasur yang saya tepikan ke sisi yang lain ternyata masih mendapat sinyal tetesan air, untuk itulah saya tepikan dua-duanya ke dinding dan saya tidur dengan menggunkan karpet kasur yang ada di kamar dan diatasnya dialasi lagi dengan selimut biru yang ada di kamar dengan tujuan untuk kenyamanan tidur. Saya pun melanjutkan tidur dengan mematikan lampu di kamar, berusaha saya untuk tidur tapi belum bisa juga karena tenaga terkuras untuk mengangkat kasur tadi dan mengambil gayung untuk menampung tetesan air dari atap yang bocor (sebenernya gak capek!!!biasa2 aja!!!!lebai ceritanya). Karena belum bisa tidur juga, saya pun memencet remote TV dan menonton TV. Saya pindah-pindahkan channel di TV untuk mencari acara yang bagus, namun yang saya temui adalah acara-acara tidak jelas dan ditambah lagi banyak semutnya di stasiun tv nya. Malas untuk memindahkan posisi antenna, saya pun mencari stasiun TV yang pasti-pasti aja yang bisa saya lihat tanpa adanya gangguan semut. Lelah bermain-main dengan remote, saya pun memencet angka di remote secara random dan dari ketidaksengajaan tersebut saya mendapatkan stasiun TV yang sedang menayangkan program RENUNGAN MALAM. Saya berhenti di stasiun TV tersebut sejenak, beberapa saat kemudian muncul Ustadz Arifin Ilham yang akan menyampaikan taushiyah. Adapun topik taushiyahnya malam itu adalah "Mengapa aku menikah".
Berikut point-poin yang bisa saya simpulkan dari taushiyah yang singkat tersebut dan saya kombinasikan dengan artikel yang tidak sengaja saya dapatkan di internet dalam bahasa inggris :
Menikah itu bukan untuk sebuah status sosial, insting sebagai manusia, pabrik produsen ras (baca : anak), gaya hidup dan alasan-alasan hedonis yang lain. Dalam taushiyahnya, Ustadz Arifin Ilham menyatakan mengapa menikah :
1. Karena perintah Allah
Ciri-ciri orang yang bertaqwa adalah menjalankan perintahNya dan menjauhi segala laranganNya.
2. Merupakan tuntunan Rasulullah
Sebagai umat Rosulullah, tentunya kita sudah tahu dengan maksud ini.
3. Menikah sebagai pintu pembuka keberkahan dan rezeki
4. Menikah adalah FURQAN (pembeda)
Menikah adalah pembeda antara kita (sebagai manusia) dengan binatang. Dengan demikian menikah menjadi proteksi moral bai kita sebagai manusia.
Tambahan dari sumber yang lain adalah :
5. Pemeliharaan ras manusia, karena dengan menikah nantinya akan terbentuk sebuah keluarga, dimana keluarga merupakan sebuah institusi yang dapat melindungi proses kehidupan sesorang secara holistik/keseluruhan (dari fase awal sampai pemetikan hasil). Laki-laki, wanita dan anak-anak membutuhkan institusi yang permanen dan jangka panjang untuk memainkan perannya dan hal tersebut didapatkan di keluarga.
6. Stabilitas psikis-emosional. Objektivitas sebuah pernikahan adalah untuk mencapai jalinan pertemanan psikologis, emotional dan spiritual. Hubungan dalam keluarga, anatara semua anggotanya dan yang paling penting dari semuanya adalah, antara suami dan istri, bukan sekedar hubungan yang berasas manfaat belaka.
Pernikahan merupakan hubungan spiritual, menopang dan menumbuhkan cinta didalamnya, kebaikan belas kasih,saling percaya, pengorbanan diri,penghibur dan saling membantu satu sama lain.
Keluarga merupakan iklim yang paling cocok untuk mengembangkan dan memenuhi kepribadian manusia. Oleh karena itu Rasulullah SAW bersabda bahwa RUMAH ADALAH TEMPAT YANG PALING BAIK DI DUNIA.
Pada lain hal, hubungan antara pasangan diibarakan dengan tubuh dan pakaian {They are garments for you and you are garments for them.} (Al-Baqarah 2: 187)
Sebuah pakaian adalah sesuatu yang paling dekat dengan tubuh manusia dan merupakan bagian dari dunia luar yang menjadi bagian kepemilikan kita. Seperti juga halnya dengan hubungan antara pasangan. Pakaian adalah sesuatu yang menutupi tubuh dan melindunginya. Pasangan adalah penjaga dan pelindung satu sama lain. Suami dan istri saling melengkapi satu sama lain, satu melengkapi dan menyempurnakan dan mengindahkan satu sama lain.
Semua aspek ini dapat diistilahkan dalam satu frase yang ringkas, yaitu :
"You are like a garment for each other."
Untuk itulah, yang menjadi pertanyaan adalah bukan sudah siap atau belum siap untuk menikah??? tapi apa, siapa, dimana, kapan dan bagimana????????????????????????????????????????????????????. Mampukah mengarungi bahtera yang tidak pernah kita tahu kemana alirannya?????.
Terimakasih atas tanggapannya!!!!
Selama beberapa kali menggagas baksos dan menjadi panitia baksos, baru kali ini mendapat tanggapan "SOK-SOK BIKIN BAKSOS!!!", agenda yang seharusnya tidak menyingkirkan agenda prioritas justru menjadi hal yang membuat saya speechless dan terdiam beberapa saat (agak tersinggung aja sbenernya!!!tapi mencoba menggali diri agar tidak terpancing dengan hal itu, mungkin hal ini lemparan batu buat saya agar saya sadar bahwa jika menyampaikan suatu masukan harus disesuaikan dengan kondisinya).
Entah yang saya idekan ini sok-sok baksos atau malah saya sok sial yang hanya bisa speechless dan menjadi silent reader. Tapi, seringkali diam adalah emas, karena tidak guna juga jika saya menanggapinya, belajar dari medan magnet bahwa jika kutub postif bertemu dengan kutub positif akan tolak menolak, sedangkan apabila kutub postif bertemu dengan negatif maka akan tarik menarik.
Terimakasih teman buat tanggapannya, walaupun tidak tepat sebenarnya dengan kondisi emosional saya tapi justru membuat saya semakin belajar tentang arti sebuah pengendalian diri. Pengendalian diri merupakan hal yang sulit dan bersifat relatif (sedang berada di lingkungan manakah kita????, boleh jadi hal ini tidak menjadi topik yang sensitif bagi komunitas yang lain tapi menjadi hal yang sensitif bagi komunitas tertentu).
Setiap hal yang kita lakukan pasti ada resiko dan kompensasinya. Dan kita harus siap dengan semua itu.
Alhamdulillahirobbil’alamin,
‘Telepati seorang sahabat’ itulah ungkapan yang tepat yang sering kami pergunakan, setiap ada hal yang mengganjal dalam hati dan pikiran serta informasi terbaru tentang teman-teman yang lain entah kenapa kami seperti punya clockrate yang sama. Kami (saya dan Dian-sahabat dekat saya) selalu dipertemukan oleh moment, dan sebab itu pertemanan kami menjadi awet sampai sekarang (insyaAllah..tolong jaga persahabatan ini ya Allah).
Kemarin siang, saya iseng menelpon Dian dan menanyakan kabarnya dan otomatis sahabat-sahabat yang lain. Secara spontan, si Dian langsung menceritakan bahwa si Maryam (salah satu sahabat kami) telah melahirkan anak pertamanya. Mendengar hal tersebut saya kaget, karena tidak terasa si Maryam sudah melahirkan saja, padahal baru beberapa bulan yang lalu (ketika liburan natal dan tahun baru) bersua dengannya dalam keadaan perut yang membuncit dan sekarang perutnya udah kempes. Selamat menjadi seorang Ibu wahai sahabatku, semoga anakmu menjadi anak yang sholeha.
Yang ingin saya ceritakan di sini adalah perjuangan saat teman saya tersebut melahirkan. Berdasarkan cerita yang saya dapatkan dari Dian via telpon kemarin yang juga mendampingi proses kelahiran anak pertama Maryam ini, proses kelahiran anak pertamanya ini terbilang sulit dan lama. Saya pun bertanya kepada dia "sulit dan lamanya seperti apa???". Dia pun bercerita tentang pengalamannya mendampingi orang yang melahirkan (sebelumnya saya pernah dengar langsung dari dia…benar-benar perjuangan antara hidup dan mati) dan untuk Maryam adalah yang pengalaman yang ketiga kalinya mendampingi orang yang sedang melahirkan (yang pertama adalah kakaknya-Mbak Yatik, yang kedua adalah Mar-sahabat kami).
Agak berbeda dengan saya, jika Dian berpengalaman mendampingi orang yang sedang melahirkan, sementara saya mendampingi orang yang sedang ngidam saat hamil, yang ngidamnya aneh dan mintanya macam-macam bahkan tidak logis, sampai-sampai awal-awal kehamilannya masuk rumah sakit karena harus diinfus (astaghfirullah….itu pengalaman kakak saya sendiri) dan setelah sampai pada moment melahirkan, saya tidak mendampingi karena saya sedang berada di Jakarta dan yang mendampingi adalah Ibu saya. Karena kakak saya terlebih dahulu melahirkan dibandingkan kakaknya si Dian, maka pengalaman yang saya dapatkan pun saya ceritakan ke dia dan pengalaman saat kakak saya melahirkan yang saya dapatkan dari Ibu dan kakak saya ceritakan juga ke dia.
Berdasarkan cerita dan pengalaman yang saya dapat dari Ibu dan kakak saya ketika akan melahirkan sebenarnya keputusan untuk melahirkan dengan cara operasi akan dilakukan, namun kata kakak saya ketika ummi selesai menunaikan ibadah sholat maghrib entah kenapa proses kelahiran berlangsung begitu cepat dan normal sehingga keputusan operasi pun dibatalkan dan alhamdulillah lahirlah Shabrina Aisyah Syafarilla. Ketika saya ceritakan tentang hal ini kepada Dian, dia hanya mendengarkan dan diam saja dan kami pun hanya bisa meyatakan bahwa memang benar "Surga berada di bawah telapak kaki Ibu". Walau kami kadang memiliki pemahaman yang berbeda dengan ibu kami, namun dari pengalaman yang kami dapat kami mencoba untuk belajar memahami ibu kami dengan cara yang kami bisa dan bisa diterima oleh ibu kami, ketika sudah tidak ditemui titik potong pemahaman kami akan hanya akan diam dan mendengarkan saja karena jika direspon akan menambah dosa saja.
Ya sekarang, saya bercerita tentang Maryam. Menurut Dian, proses kelahiran anak pertamanya tersebut berlangsung selama 2 hari (astaghfirullah…), dalam waktu sehari saja masih berada tahap pembukaan 3 (saya pun keheranan mendengar cerita dian). Lantas saya bertanya "Bapaknya ada gak???mendampingi saat dia melahirkan??". Dian berkata bahwa Bapaknya sedang ada di Jember saat itu karena ada saudaranya yang melangsungkan pernikahan (catatan : Bapaknya pergi sebelum hari H saat Maryam akan melahirkan). Terus saya bertanya lagi "kakak-kakaknya yang lain ada di situ gak???". Dian menjawab "Gak ada". Saya bertanya lagi : "Kok bisa???". Dian :"Soalnya suaminya gak ngasi tau ama keluarganya". Saya pun diam sejenak di telpon dan Dian pun langsung memaikan telepatinya dengan mengatakan "makanya saat itu aku bilang sama dia, untuk minta maaf sama Bapaknya atau minta do’a ama beliau dan ngasi tau anggota keluarganya klo saat ini akan melahirkan (kondisi saat itu masih pembukaan 3)".
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Bidan yang membantu kelahirannya sebenarnya sang bidan sudah angkat tangan dan memilih jalur ditangani ke Rumah Sakit saja, namun atas lobi si Dian ke sang Bidan tersebut yang juga Buleknya (Bidannya adalah istri dari Om-nya–ditarik dari garis keturunan umminya) maka sang bidan pun berupaya sekuat mungkin untuk membantu sahabat sang ponakan tersebut. Esoknya (hari kedua proses melahirkan) sang suami menghubungi keluarga istrinya dan juga Bapaknya yang menginformasikan bahwa Maryam akan melahirkan. Selang beberapa saat abang tertua (kami biasa memanggil KAK FAE) datang dengan membawa air yang kemudian diminumkan ke Maryam dan setelah beberapa saat dari itu bayinya pun keluar dari rahim sang ibu dan menatap indahnya dunia yang dikelilingi oleh orang-orang tercinta.
Sekali lagi Dian mengatakan dan mengingatkan kepada saya "kenapa surga berada di bawah telapak kaki Ibu", perjuangan untuk melahirkan yang dia lihat dengan mata kepala sendiri sudah sangat cukup memberikan suplemen hidup kepada dia bahwa alangkah tak ternilainya pengorbanan yang ditorehkan oleh sang Ibu dan tak terbalas oleh apapun juga.
Selamat menjadi Ibu wahai sahabatku, selamat berjuang untuk membesarkannya, kau telah merasakan apa itu mengandung, melahirkan dan sekarang menyusui. Jadilah anak yang sholehah Mufarrihah Kumala Sari, berbakti kepada orang tua dan agama.
// Alhamdulillah nambah ponakan satu lagi….ayo2 DIAN cepet nyusul…:D//
Bismillahirrohmanirrahim,
Setiap manusia dalam hidup tidak akan pernah terlepas dari yang namanya masalah dan ujian. Yang menjadi pertanyaan adalah bukan APA masalah dan ujian yang sedang dihadapi, tapi BAGIMANA respon terhadap masalah dan ujian yang sedang kita hadapi saat ini. Boleh jadi masalah itu sepele buat kita, namun sangat kompleks bagi orang lain. Teringat akan firman Allah SWT dalam AL-Qur’an (Al Baqarah : 286) yang berbunyi : "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya". Ayat ini memberikan suatu motivasi bagi kita bahwa masalah dan ujian yang diberikan oleh kepada kita sudah diukur batas kesanggupannya dengan ketentuan yang telah Allah tetapkan. Namun, sering kita tidak sanggup dan menyerah terlebih dahulu atas masalah dan ujian yang sedang dihadapi.
Apalagi masalah dan ujian itu datang beriringan, seakan-akan kita adalah orang yang paling durjana di dunia ini. Seakan-akan waktu berhenti berputar dan semangat tak lagi hadir dalam diri ini. Subjektivitas pun muncul dan berkecamuk sehingga merusak kedamaian hati dan keimanan. Mengubah masalah menjadi rahmah begitu sulit untuk diterapkan tatkala kita semakin jauh dariNya dengan ujian dan permasalahan tersebut. Dengan masalah dan ujian tersebut, sang JABBAR memberikan peringatan dan lemparan batu agar kita mengingatNya dan menjadi manusia yang lebih baik tentunya, baik dalam artian multidimensi tentunya, yaitu baik secara hablum minallah, baik secara hablum minannas, baik dalam kehidupan masyarakat dan lingkunga dan kebaikan yang lain.
Masalah dan ujian adalah 2 hal yang membuat manusia menjadi semakin dekat sang Khalik atau semakin menjauh dari sang Khalik. Mendefinisikan masalah dan ujian dengan kompresi makna NIKMAT alangkah begitu sulitnya, karena kita sebagai manusia sudah mengkompresi bahwa masalah dan ujian adalah petaka (astaghfirullah). Introspeksi diri atas semua hal yang telah terjadi, menjemput hidayah dengan jalan sendiri melalui pemahaman dan pengembangan diri dalam aspek spiritual, menjemput hidayah melalui kisah dari lingkungan sekitar akan semakin banyak mengisi ruang-ruang ruhiyah kita yang kosong menjadi terisi dengan suatu nilai syukur disertai terucap dalam hati "Alhamdulillah, ternyata masalah yang saya alami tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan orang itu, masih bersyukur saya bisa makan, bisa minum dan bisa melakukan berbagi macam aktivitas, sementara mereka tidak tahu apa yang akan dimakan besok, dimana mereka tidur besok, kemanakah harus bercerita untuk melepas semua sesak dalam dada mereka tersebut (fiuhhh..hidup adalah pembelajaran dan perjuangan)".
Ketika masalah dan ujian itu datang, banyak-banyaklah men-tadabburi (mempelajari–>membaca dan memahami maknanya) karena isi Al Qur’an sangat representatif mewakili setiap hal yang sedang kita hadapi saat itu. Waktu itu sedang suntuk-suntuknya dengan beberapa permasalahan dan ujian-ujian yang lain, seusai shalat wajib saya lanjutkan sejenak dengan membaca Al Qu’ran yang sampai pada bacaan surat Ar-Rum dan kemudian saya baca artinya beberapa ayat, diantaranya yang membuat saya tercambuk adalah :
(Ar-Rum : 36) : "Dan apabila Kami Berikan sesuatu rahmat kepada manusia, niscaya mereka gembira dengan (rahmat) itu. Tetapi apabila mereka ditimpa sesuatu musibah (bahaya) karena kesalahan mereka sendiri, seketika itu mereka berputus asa".
(Ar-Rum : 37) : "Dan tidaklah mereka memperhatikan bahwa Allah yang melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan Dia (pula) yang membatasi (bagi siapa yang Dia kehendaki). Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang beriman".
(Ar-Rum : 54) : "Allah lah yang meciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan kuat menjadi lemah (kembali) dan berubah. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dan Dia maha mengetahui, Maha kuasa."
Kekuatan yang dimiliki seseorang berawal dari masalah dan ujian yang sering dia hadapi. Saat suatu masalah dan ujian terlewati bertambah satu kekuatan dalam dirinya dan menunggu satu kelemahan yang lain sebagai input kekuatan baru atas masalah dan ujian lain yang akan dihadapinya.
Ya BASITH berikanlah kelapangan dan jalan keluar atas masalah dan ujian yang tengah dihadapi ini. Robbana afrigh alaina shabran wa tsabit aghda mana fanshurnaa ala qaumil kafiriin = (…Ya Alloh, limpahkan kami kesabaran. tegakkanlah kaki kami kembali, Lindungilah kami atas orang-orang yang membenci kami …). Amin Allahumma Amin.
Bukan sulap bukan sihir, jangan heran ketika anda melihat ada sebuah pointer mouse di layar monitor yang jalan-jalan sendiri namun tidak orang yang duduk di depan monitor tersebut untuk mengoperasikan PC.
Itu adalah salah satu contoh applikasi remote desktop. Ada seseorang di komputer lain yang sedang menyusup masuk ke dalam tersebut dan mengontrol komputer tersebut dari jarak jauh. Dengan melakukan instalasi software remote desktop seperti VNC, maka aksi menyusup ke dalam komputer orang lain dapat dilakukan. Ada beberapa varian software VNC, yaitu Ultra VNC dan Real VNC.
Untuk melakukan proteksi komputer kita dari aksi ini maka ada beberapa cara yang bisa dilakukan, antara lain adalah :
– Memasang password untuk koneksi remote desktop
– Memasang konfigurasi permintaan konfirmasi dari user pengguna komputer
Dengan kofigurasi seperti diatas, maka setiap kali ada orang yang membuka koneksi remote ke komputer kita, dia harus memasukkan password yang sesuai dan memperoleh ijin/konfirmasi dari kita. Tanpa password, koneksi tidak dapat dilanjutkan. Jika password sudah sesuai maka di layar monitor pemilik komputer akan muncul dialog box yang menanyakan apakah kita mau mengijinkan koneksi remote desktop. Silahkan tekan OK untuk melakukan pembentukan koneksi remote desktop.
Bismillahirrohamnirrohim,
Di sela-sela kesibukan bekerja (padahal gak sibuk-sibuk banget…tapi ada saja yang dikerjain) saya mendapatkan private message dari temen yang saya pikir dia mau menginformasikan atau mengisengi saya, berikut percakapannya :
angga-bebun’03: is
ismi: yuhu
angga-bebun’03: ceramahin gw dong
ismi: knp???
ismi: ttg apa dl niy??
angga-bebun’03: ga tau nih,,lg ngerasa ga beres aja
angga-bebun’03: dorongan pengen salat kuat bgt,,tp gw nya males2an
ismi: oooo gt ya
ismi: emang lg ada msh ga skrg???
angga-bebun’03: banyak pikiran aja sih
ismi: cb ambil wudhu
ismi: trs sholat dhuha skrg
angga-bebun’03: klo bisa nangis dari kmrn,,gw nangis deh is
angga-bebun’03: blm mandi gpp is??
ismi: gpp
ismi: ambil wudhu aja
angga-bebun’03: ada bacaannya??
ismi: trs sholat dhuha
angga-bebun’03: niatnya??
ismi: 2 rakaat
ismi: niat aku sholat dhuha 2 rakaat
ismi: baca al fatihah
ismi: yg pasti
ismi: suratnya apa aja
ismi: yg tau aja deh
ismi: abis itu banyakin istighfar
ismi: setelah itu YM lg
angga-bebun’03: yaudah,,makasih ya is
ismi: ok ok
ismi: ditunggu balesannya
Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayahnya kepada kita semua dan ketenangan hati serta batin.
Alhamdulillah, saya sangat senang mendapatkan YM yang demikian dari dia, karena selama berteman dengan dia baru kali ini dia ingin "diceramahin" tentang sholat. Masih ingat salah satu statement dari teman kakak saya yang mengatakan bahwa titik sentuh batin setiap orang sholat itu beda-beda, ada yang benar-benar batinnya tersentuh ketika dia sholat dzuhur, ashar, maghrib, isya’ atau shubuh atau mungkin saat menunaikan sholat dhuha. hal ini tergantung suasana hati. Saya menyarankan teman saya sholat dhuha karena merupakan waktunya untuk sholat dhuha dan momentnya pun tepat disebabkan dia bingung dan banyak pikiran dan insyaAllah sholat dhuha akan membuka pintu-pintu rejeki dan rahmat dari Allah SWT….amin allahumma amin.
Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by B A Khan