My Virtual Voice

May 19, 2008

Gathering Himtek @ Cibubur

Filed under: My Voice, HIMTEK, Aktivitas
Masih terasa teparnya!!!! itulah ungkapan yang bisa saya ungkapan. Dengan kondisi agak 1/2 tepar saya berusaha masuk kantor untuk menunaikan tanggung jawab saya.
 
Berkibarlah Himtek @ Cibubur 
Kemarin sampai dengan hari ini (18 Mei-19 Mei 2008) kami bersama junior-junior Himtek pergi ke Cibubur bersama untuk sebuah acara yang berjudul Gathering Himtek. Sebelum menceritakan lebih lanjut mengenai hal-hal yang terjadi selama acara ini, maka perlu saya jelaskan dengan singkat tentang Gathering Himtek ini. Gathering Himtek 2008 ini merupakan Gathering Himtek yang kedua setelah yang pertama kali diadakan pada tahun 2006 (ketika kepengurusan Himtek 2005-2006). Gathering merupakan REBORN Susulan bagi calon aktivis yang belum mengikuti Reborn, konsep dan tujuannya sama dengan Reborn, hanya penyajian acaranya saja yang dikompres menjadi lebih singkat jika dibandingkan Reborn.
 
Jika pada Gathering tahun 2006 saya dan beberapa teman 2002, 2003 dan 2004 adalah panitia, maka untuk gathering kali ini kami adalah alumni sekaligus tamu. Beberapa hari menjelang gathering saya dan beberapa alumni yang lain (2002,2003 dan 2004) melakukan koordinasi via hp untuk menuju ke sana dengan menggunakan sepeda motor. Kami pun mengkonsep sebuah touring ke sana. Namun, karena hari pelaksanaannya sangat mepet dengan hari kerja maka beberapa alumni berhalangan untuk hadir. Minggu pagi sebelum berangkat, ada beberapa teman saya yang datang ke kosan untuk mengajak saya ke suatu acara Seminar, namun, dikarenakan saya tidak bisa berjalan beriringan dengan acara keberangkatan Himtek ke Cibubur, saya pun menolak ajakan seminar tersebut dengan mengatakan kepada teman saya bahwa saya ada acara Himtek. Beberapa saat setelah teman-teman saya berangkat menuju tempat seminar, salah satu rekan alumni mengabari saya bahwa ia tidak bisa datang ke Cibubur karena malamnya ada acara dan paginya harus kerja. Kemudian saya menghubungi junior saya yang baru saja menjadi alumni Himtek untuk menanyakan teknis keberangkatannya ke sana, dia menjawab dia menunggu kabar dari saya apakah akan naik motor atau tidak. Dengan pertimbangan bahwa teman-teman yang paham jalan ke Cibubur sudah berangkat ke sana sekitar jam 9an pagi (salah satu mengabarkan saya via YM), maka saya pun mengatkan kepada dia untuk naik angkot saja ke sana. Isu kenaikan harga BBM membuat dia tidak pede untuk naik angkot ke sana dan tetap mempertahankan untuk naik motor. Saya belum mendapat keputusan setelah beberapa kali ber-sms ria bersama. Beberapa jam kemudian saya pun tertidur dan bangun sekitar jam 12an dalam keadaan lapar, selanjutnya saya mandi dan entah mengapa dalam diri saya mengatakan bahwa saya dan teman-teman alumni akan berusaha untuk menuju Cibubur, baik dengan angkot atau naik motor nyasar. Setelah mandi saya pun sholat dzuhur dan selanjutnya saya berdo’a dalam hati semoga bisa diberikan kemudahan untuk menuju ke sana (saat itu saya sedang tidak berselera naik motor..smg ada jalan lain disamping  naik motor). Beberapa saat kemudian yang saat itu rencananya saya akan membeli makan siang, tiba-tiba junior pengurus Himtek menelpon saya dan mengatakan jika saya sudah ditunggu di parkiran Binus yang baru. Kaget dan tidak percaya, karena sebelumnya saya sudah mengatakan kepada mereka bahwa saya akan menyusul naik motor. Saya pun mengatakan kepada sang penelpon bahwa saya sudah siap dan tinggal menunggu William saja. Langsung saya menghubungi William dan meminta dia bersiap-siap, dia pun meluncur ke kampus untuk sebelumnya ke kosan dulu menitipkan motor, dia berjanji bahwa dalam durasi 1/2 jam dia akan sampai ke kosan. Karena susah menghubungi Wahyu, maka saya minta Willian untuk menghubungi Wahyu dengan mengatakan kepada dia untuk bersiap-siap dan langsung menuju ke kosan. Sambil menunggu William, menyiapkan barang bawaan yang akan dibawa ke sana dalam satu tas gembel yang sering saya pakai dengan isi : Mukena+Al Qur’an, Sikat Gigi (sengaja gak bawa odol),sabun cair,HP,Ipod,botol minum kuning (untuk isi ulang pas hari H), dompet. Selesai mempersiapkan barang bawaan tersebut, ada telepon dari sang penanggung jawab acara Gathering (Welli, red) yang mengatakan bahwa trontonnya sudah akan berangkat karena pesertanya sudah lama menunggu. Secara personal saya bisa saja langsung melangkah beberapa tapak ke lokasi tronton itu karena berdekatan dengan kosan saya, namun yang saya pikirkan adalah William yang sudah berusaha untuk ikut dan sekarang masih dalam perjalanan. AKhirnya saya katakan kepada Welli bahwa jika sampai 15 menit WIlliam belum datang silahkan berangkat duluan, karena nanti kami akan menyusul ke sana". Welli pun menerima masukan saya dengan menunggu kami. Alhamdulillah, setelah saya akan mengunci kamar saya, si William datang dengan lebih cepat (padahal dia janji 30 menitan) dan kami pun langsung melokasikan diri ke parkiran Binus yang baru. Julukan "miss late" pun diberikan oleh junior saya dan saya pun balas dengan senyuman dan saya mengambil posisi duduk diantara Meta dan Dan (SK’07).
 
Sekitar jam 1an siang kami berangkat dari kampus dan sampai di Cibubur ground 22 sekitar pukul 2 siang. Jika pada Gathering kepengurusan saya, kami menyuruh peserta untuk jalan kaki dari pintu masuk Cibubur ke ground base dengan kondisi emosi naik, maka untuk kali ini peserta dimanja dengan naik tronton. Kami mengikuti alurnya, rekan-rekan alumni saling berpandangan dan setelah sampai di ground 22 kami beres-beres, duduk-duduk di trepal biru yang terhampar diatas bumi, tebar sapa dengan team advance dan seperti biasa berbagi makanan dan minuman bersama mereka. Iklim saling mengecengi satu sama lain pun terjadi dan saya bertemu dengan junior 04 yang sudah lama tidak muncul di Himtek dan saya pun menjadikan dia sebagai korban cengan kami (Sory Penyu a.k.a Resfana….buat ice break doang kok buat mencairkan suasana). Selesai becanda-candaan, kami pun melanjutkan acara masing-masing, panitia mengurus peserta dan alumni mengurs dirinya masing-masing dengan sambil bercengkarama bersama di sekitar areal ground 22.
 
Karena lapar (dari pagi sampai siang belum kemasukan nasi), saya pun makan ketoprak yang terletak di seberang ground 22. Dengan ditemani oleh si Angga a.k.a Bebun saya makan ketoprak sambil bercerita. Di tengah makan dan ngobrol bareng Angga, yang lain pun ikutan untuk bergabung sehingga ramailah di sana, sampai-sampai panitia yang lain pun ikut nimbrung juga di blokade ini.
 
Melihat tensi peserta yang masih standar dan datar, kami (alumni, red) bernajak ke lokasi untuk memberikan masukan kepada panitia bahwa pesertanya masih belum dapat feel-nya, setelah berdiskusi beberapa saat dengan panitia kami menyarankan agar panitia yang muslim untuk sholat terlebih dahulu, yang tidak sholat tetap di tempat dan ditangani oleh panitia. Selesai peserta sholat dengan imam dari salah seorang panitia, maka kami pun sholat secara berjemaah diikuti panitia yang lain juga (dalam hal ini Wahyu yang menjadi imam). Seusai sholat ashar kami ke kandang peserta untuk menaikkan tensi peserta, tensi pu naik dan kemudian kami memberikan barin storming kepada panitia juga kepada peserta apa itu arti sebuah "Pengorbanan Organisasi". Setelah menekan peserta beberapa menit, kami pun memasrahkan kelanjutannya kepada panitia karena ada sesi (baca : materi) yang disampaikan oleh slah seorang panitia sebagai pembicara.
 
Sambil menuggu Maghrib, saya pun berputar-putar mengelilingi sekitar areal ground 22 menggunakan Mio milik si Penyu. Lumayan untuk refreshing, sambil melihat kesibukan anak-anak sekolah yang sedang berkemah juga disamping ground kami. Adzan Magrib berkumandang, saya kembali ke basecamp untuk sholat jama’ah bersama kembali. Di tengah kerumunan panitia, saya melihat 2orang teman senagkatan saya yang baru datang, mereka adalah Anto dan tejo, yang katanya langsung meluncur ke Cibubur setelah dari puncak setelah mengikuti acara Red Red KMK (thx guy buat pengorbanannya..). Ngobrol-ngobrol sebentar dan kami yang muslim sholat berjemaah terlebih dahulu (imam tetap Wahyu).
 
Sambil menunggu Isya’, kami melanjutkan ngobrol-ngobrol lagi mengenai banyak hal. Tepat beberapa derajat dari pandangan kami, kami melihat peserta sedang akan makan campur. Kami pun menuju ke sana dengan memberikan trigger kepada panitia dan peserta, dimana Anto mengatakan bahwa Welli dan Nia akan menyicipi makan campur mereka. Terlihat makan campur kurang berair, maka saya minta air yang dipegang Ulfa dengan mencampurkan nasi yang telah yang diaduk dengan tangan yang bermacam-macam kelezatan gizinya dengan air untuk mengencerkan proses pencernaan. SIngkat cerita, makan campur selesai dan kami sebagai alumni memberikan penjelasan tentang makna makan campur tersebut (it’s talk about organization behaviour…how to build solidarity..how to know each other and how to care to others).
 
Selesai meleburkan diri dengan peserta, beberapa kami yang muslim sholat isya’ berjemaah dulu dan dilanjutkan dengan sesi sharing antar angkatan (it’s look like my second family…listen each other, tell each other and other activitie like in family life…what a sweet things….).
 
Beberapa jam kemudian, acara jurit malam pun dimulai dan penentuan pos masing-masing. Kebetulan pos alumni ada di pos terakhir (pos 5). Jam 11 malam kami menuju pos kami masing-masing, untuk pos 5 kami mengisi dengan bermain kartu dan ada juga beberapa yang sambil tiduran diatas rumput dan jalanan karena ngantuknya menunggu kedatangan peserta yang baru muncul jam setengah 3.47 pagi. Di tengah penantian peserta yang datang, saya masuk ke dalam mobil Ican yang diparkir di area pos 5 untuk tiduran. Selang beberapa menit akan terlelap, tiba-tiba Ican menghidupkan mobilnya dan mengajak saya berputar-putar mengunjungi pos (dalam hal ini menyaingi runner yang mengecek satu pos ke pos yang lain dengan motor). Setelah itu mobil diparkir di basecamp dan kami pun kembali ke pos 5, sebelum kembali ke pos 5 saya dan Angga berputar-putar terlebih dahulu ke pos-pos tadi dengan bertiger ria (karena saya malas jalan kaki ke pos 5, makanya saya nebeng di angga)
Di pos alumni ini, lebih ke perpaduan antara becanda dan serius, namun tetap dengan catatan bahwa peserta tetap harus serius. Saat Shubuh menjelang di pos alumni masih mendapatkan 2 pasien (baca peserta). Satu peserta sudah dilepaskan dan peserta yang kedua masih dalam proses penggemblengan. Karena sudah masuk waktu shubuh, maka kami yang muslim sholat terlebih dahulu dengan berjemaah di Masjid yang berada di areal Cibubur dengan memasrahkan pos 5 kepada teman yang tidak sholat. Kami bersama-sama menuju Masjid dengan menggunakan 2 mobil dari angkatan 2003, 2004, 2005, 2006 dan 2007. Kami sholat shubuh berjemaah dengan imam kali ini adalah Ahmad Baiquni a.k.a kukun yang merupakan orang tertua diantara semua calon-calon imam yang lain.
 
 
What a nice CIBUBUR’s GATHERING 
-HIMTEK, SOLIDARITY FOR MINDFACTURING- 

May 16, 2008

Ketika 2 Menjadi 1

Filed under: Humaniora, Islam, My Voice

Bismillahirrohmanirrohim,

Ketika menuliskan judul ini, kita pasti teringat dengan salah satu lagu yang dibawakan oleh spice girl yang dalam bahasa inggrisnya adalah "When to become one". Tapi kali ini saya tidak sedang membicarakan lirik lagu tersebut. 2 hari yang lalu sepulang kuliah (sekitar jam 10an malam) seperti biasa saya mandi, sholat, nonton tv sebentar dan kemudian tidur dengan mematikan tv atau mendengarkan radio. Sekitar jam 1 Malam, saya terbangun karena ada yang air yang menetes di kaki saya dan ooooopsss rupanya genteng di kamar saya bocor. Oleh karena itulah saya bangun (walaupun dengan kondisi tidak rela) dengan menepikan kasur saya agar tidak basah. Karena ada 2 kasur, maka kasur yang satunya saya tepikan ke dinding dan yang satu lagi saya tepikan ke sisi yang lain agar saya bisa tidur dengan kasur. HUFFFH!!!! Kasur yang saya tepikan ke sisi yang lain ternyata masih mendapat sinyal tetesan air, untuk itulah saya tepikan dua-duanya ke dinding dan saya tidur dengan menggunkan karpet kasur yang ada di kamar dan diatasnya dialasi lagi dengan selimut biru yang ada di kamar dengan tujuan untuk kenyamanan tidur. Saya pun melanjutkan tidur dengan mematikan lampu di kamar, berusaha saya untuk tidur tapi belum bisa juga karena tenaga terkuras untuk mengangkat kasur tadi dan mengambil gayung untuk menampung tetesan air dari atap yang bocor (sebenernya gak capek!!!biasa2 aja!!!!lebai ceritanya). Karena belum bisa tidur juga, saya pun memencet remote TV dan menonton TV. Saya pindah-pindahkan channel di TV untuk mencari acara yang bagus, namun yang saya temui adalah acara-acara tidak jelas dan ditambah lagi banyak semutnya di stasiun tv nya. Malas untuk memindahkan posisi antenna, saya pun mencari stasiun TV yang pasti-pasti aja yang bisa saya lihat tanpa adanya gangguan semut. Lelah bermain-main dengan remote, saya pun memencet angka di remote secara random dan dari ketidaksengajaan tersebut saya mendapatkan stasiun TV yang sedang menayangkan program RENUNGAN MALAM. Saya berhenti di stasiun TV tersebut sejenak, beberapa saat kemudian muncul Ustadz Arifin Ilham yang akan menyampaikan taushiyah. Adapun topik taushiyahnya malam itu adalah "Mengapa aku menikah".

Berikut point-poin yang bisa saya simpulkan dari taushiyah yang singkat tersebut dan saya kombinasikan dengan artikel yang tidak sengaja saya dapatkan di internet dalam bahasa inggris :

Menikah itu bukan untuk sebuah status sosial, insting sebagai manusia, pabrik produsen ras (baca : anak), gaya hidup dan alasan-alasan hedonis yang lain. Dalam taushiyahnya, Ustadz Arifin Ilham menyatakan mengapa menikah :
1. Karena perintah Allah
Ciri-ciri orang yang bertaqwa adalah menjalankan perintahNya dan menjauhi segala laranganNya.
2. Merupakan tuntunan Rasulullah
Sebagai umat Rosulullah, tentunya kita sudah tahu dengan maksud ini.
3. Menikah sebagai pintu pembuka keberkahan dan rezeki
4. Menikah adalah FURQAN (pembeda)
Menikah adalah pembeda antara kita (sebagai manusia) dengan binatang. Dengan demikian menikah menjadi proteksi moral bai kita sebagai manusia.
Tambahan dari sumber yang lain adalah :
5. Pemeliharaan ras manusia, karena dengan menikah nantinya akan terbentuk sebuah keluarga, dimana keluarga merupakan sebuah institusi yang dapat melindungi proses kehidupan sesorang secara holistik/keseluruhan (dari fase awal sampai pemetikan hasil). Laki-laki, wanita dan anak-anak membutuhkan institusi yang permanen dan jangka panjang untuk memainkan perannya dan hal tersebut didapatkan di keluarga.
6. Stabilitas psikis-emosional. Objektivitas sebuah pernikahan adalah untuk mencapai jalinan pertemanan psikologis, emotional dan spiritual. Hubungan dalam keluarga, anatara semua anggotanya dan yang paling penting dari semuanya adalah, antara suami dan istri, bukan sekedar hubungan yang berasas manfaat belaka.

Pernikahan merupakan hubungan spiritual, menopang dan menumbuhkan cinta didalamnya, kebaikan  belas kasih,saling percaya, pengorbanan diri,penghibur dan  saling membantu satu sama lain.

Keluarga merupakan iklim yang paling cocok untuk mengembangkan dan memenuhi kepribadian manusia. Oleh karena itu Rasulullah SAW bersabda bahwa RUMAH ADALAH TEMPAT YANG PALING BAIK DI DUNIA.

Pada lain hal, hubungan antara pasangan diibarakan dengan tubuh dan pakaian {They are garments for you and you are garments for them.} (Al-Baqarah 2: 187)

 

Sebuah pakaian adalah sesuatu yang paling dekat dengan tubuh manusia dan merupakan bagian dari dunia luar yang menjadi bagian kepemilikan kita. Seperti juga halnya dengan hubungan antara pasangan. Pakaian adalah  sesuatu yang menutupi tubuh dan melindunginya. Pasangan adalah penjaga dan pelindung satu sama lain. Suami dan istri saling melengkapi satu sama lain, satu melengkapi dan menyempurnakan dan mengindahkan satu sama lain.

 

Semua aspek ini dapat diistilahkan dalam satu frase yang ringkas, yaitu :

"You are like a garment for each other."

 

 

Untuk itulah, yang menjadi pertanyaan adalah bukan sudah siap atau belum siap untuk menikah??? tapi apa, siapa, dimana, kapan dan bagimana????????????????????????????????????????????????????. Mampukah mengarungi bahtera yang tidak pernah kita tahu kemana alirannya?????.

 

May 13, 2008

SOK-SOK BAKSOS ato SOK SIAL

Filed under: Humaniora, My Voice

Terimakasih atas tanggapannya!!!!

Selama beberapa kali menggagas baksos dan menjadi panitia baksos, baru kali ini mendapat tanggapan "SOK-SOK BIKIN BAKSOS!!!", agenda yang seharusnya tidak menyingkirkan agenda prioritas justru menjadi hal yang membuat saya speechless dan terdiam beberapa saat (agak tersinggung aja sbenernya!!!tapi mencoba menggali diri agar tidak terpancing dengan hal itu, mungkin hal ini lemparan batu buat saya agar saya sadar bahwa jika menyampaikan suatu masukan harus disesuaikan dengan kondisinya).

Entah yang saya idekan ini sok-sok baksos atau malah saya sok sial yang  hanya bisa speechless dan menjadi silent reader. Tapi, seringkali diam adalah emas, karena tidak guna juga jika saya menanggapinya, belajar dari medan magnet bahwa jika kutub postif bertemu dengan kutub positif akan tolak menolak, sedangkan apabila kutub postif bertemu dengan negatif maka akan tarik menarik.

Terimakasih teman buat tanggapannya, walaupun tidak tepat sebenarnya dengan kondisi emosional saya tapi justru membuat saya semakin belajar tentang arti sebuah pengendalian diri. Pengendalian diri merupakan hal yang sulit dan bersifat relatif (sedang berada di lingkungan manakah kita????, boleh jadi hal ini tidak menjadi topik yang sensitif bagi komunitas yang lain tapi menjadi hal yang sensitif bagi komunitas tertentu).

Setiap hal yang kita lakukan pasti ada resiko dan kompensasinya. Dan kita harus siap dengan semua itu. 

Selamat menjadi Ibu wahai temanku

Filed under: Humaniora, My Voice, Teman

Alhamdulillahirobbil’alamin,

‘Telepati seorang sahabat’ itulah ungkapan yang tepat yang sering kami pergunakan, setiap ada hal yang mengganjal dalam hati dan pikiran serta informasi terbaru tentang teman-teman yang lain entah kenapa kami seperti punya clockrate yang sama. Kami (saya dan Dian-sahabat dekat saya) selalu dipertemukan oleh moment, dan sebab itu pertemanan kami menjadi awet sampai sekarang (insyaAllah..tolong jaga persahabatan ini ya Allah).

Kemarin siang, saya iseng menelpon Dian dan menanyakan kabarnya dan otomatis sahabat-sahabat yang lain. Secara spontan, si Dian langsung menceritakan bahwa si Maryam (salah satu sahabat kami) telah melahirkan anak pertamanya. Mendengar hal tersebut saya kaget, karena tidak terasa si Maryam sudah melahirkan saja, padahal baru beberapa bulan yang lalu (ketika liburan natal dan tahun baru) bersua dengannya dalam keadaan perut yang membuncit dan sekarang perutnya udah kempes. Selamat menjadi seorang Ibu wahai sahabatku, semoga anakmu menjadi anak yang sholeha.

Yang ingin saya ceritakan di sini adalah perjuangan saat teman saya tersebut melahirkan. Berdasarkan cerita yang saya dapatkan dari Dian via telpon kemarin yang juga mendampingi proses kelahiran anak pertama Maryam ini, proses kelahiran anak pertamanya ini terbilang sulit dan lama. Saya pun bertanya kepada dia "sulit dan lamanya seperti apa???". Dia pun bercerita tentang pengalamannya mendampingi orang yang melahirkan (sebelumnya saya pernah dengar langsung dari dia…benar-benar perjuangan antara hidup dan mati) dan untuk Maryam adalah yang pengalaman yang ketiga kalinya mendampingi orang yang sedang melahirkan (yang pertama adalah kakaknya-Mbak Yatik, yang kedua adalah Mar-sahabat kami).

Agak berbeda dengan saya, jika Dian berpengalaman mendampingi orang yang sedang melahirkan, sementara saya mendampingi orang yang sedang ngidam saat hamil, yang ngidamnya aneh dan mintanya macam-macam bahkan tidak logis, sampai-sampai awal-awal kehamilannya masuk rumah sakit karena harus diinfus (astaghfirullah….itu pengalaman kakak saya sendiri) dan setelah sampai pada moment melahirkan, saya tidak mendampingi karena saya sedang berada di Jakarta dan yang mendampingi adalah Ibu saya. Karena kakak saya terlebih dahulu melahirkan dibandingkan kakaknya si Dian, maka pengalaman yang saya dapatkan pun saya ceritakan ke dia dan pengalaman saat kakak saya melahirkan yang saya dapatkan dari Ibu dan kakak saya ceritakan juga ke dia.

Berdasarkan cerita dan pengalaman yang saya dapat dari Ibu dan kakak saya ketika akan melahirkan sebenarnya keputusan untuk melahirkan dengan cara operasi akan dilakukan, namun kata kakak saya ketika ummi selesai menunaikan ibadah sholat maghrib entah kenapa proses kelahiran berlangsung begitu cepat dan normal sehingga keputusan operasi pun dibatalkan dan alhamdulillah lahirlah Shabrina Aisyah Syafarilla. Ketika saya ceritakan tentang hal ini kepada Dian, dia hanya mendengarkan dan diam saja dan kami pun hanya bisa meyatakan bahwa memang benar "Surga berada di bawah telapak kaki Ibu". Walau kami kadang memiliki pemahaman yang berbeda dengan ibu kami, namun dari pengalaman yang kami dapat kami mencoba untuk belajar memahami ibu kami dengan cara yang kami bisa dan bisa diterima oleh ibu kami, ketika sudah tidak ditemui titik potong pemahaman kami akan hanya akan diam dan mendengarkan saja karena jika direspon akan menambah dosa saja.

Ya sekarang, saya bercerita tentang Maryam. Menurut Dian, proses kelahiran anak pertamanya tersebut berlangsung selama 2 hari (astaghfirullah…), dalam waktu sehari saja masih berada tahap pembukaan 3 (saya pun keheranan mendengar cerita dian). Lantas saya bertanya "Bapaknya ada gak???mendampingi saat dia melahirkan??". Dian berkata bahwa Bapaknya sedang ada di Jember saat itu karena ada saudaranya yang melangsungkan pernikahan (catatan : Bapaknya pergi sebelum hari H saat Maryam akan melahirkan). Terus saya bertanya lagi "kakak-kakaknya yang lain ada di situ gak???". Dian menjawab "Gak ada". Saya bertanya lagi : "Kok bisa???". Dian :"Soalnya suaminya gak ngasi tau ama keluarganya". Saya pun diam sejenak di telpon dan Dian pun langsung memaikan telepatinya dengan mengatakan "makanya saat itu aku bilang sama dia, untuk minta maaf sama Bapaknya atau minta do’a ama beliau dan ngasi tau anggota keluarganya klo saat ini akan melahirkan (kondisi saat itu  masih pembukaan 3)".

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Bidan yang membantu kelahirannya sebenarnya sang bidan sudah angkat tangan dan memilih jalur ditangani ke Rumah Sakit saja, namun atas lobi si Dian ke sang Bidan tersebut yang juga Buleknya (Bidannya adalah istri dari Om-nya–ditarik dari garis keturunan umminya) maka sang bidan pun berupaya sekuat mungkin untuk membantu sahabat sang ponakan tersebut. Esoknya (hari kedua proses melahirkan) sang suami menghubungi keluarga istrinya dan juga Bapaknya yang menginformasikan bahwa Maryam akan melahirkan. Selang beberapa saat abang tertua (kami biasa memanggil KAK FAE) datang dengan membawa air yang kemudian diminumkan ke Maryam dan setelah beberapa saat dari itu bayinya pun keluar dari rahim sang ibu dan menatap indahnya dunia yang dikelilingi oleh orang-orang tercinta.

Sekali lagi Dian mengatakan dan mengingatkan kepada saya "kenapa surga berada di bawah telapak kaki Ibu", perjuangan untuk melahirkan yang dia lihat dengan mata kepala sendiri sudah sangat cukup memberikan suplemen hidup kepada dia bahwa alangkah tak ternilainya pengorbanan yang ditorehkan oleh sang Ibu dan tak terbalas oleh apapun juga.

Selamat menjadi Ibu wahai sahabatku, selamat berjuang untuk membesarkannya, kau telah merasakan apa itu mengandung, melahirkan dan sekarang menyusui. Jadilah anak yang sholehah Mufarrihah Kumala Sari, berbakti kepada orang tua dan agama.

// Alhamdulillah nambah ponakan satu lagi….ayo2 DIAN cepet nyusul…:D// 

 

May 11, 2008

Ketika Masalah dan Ujian itu Datang Beriringan

Filed under: Islam, My Voice

Bismillahirrohmanirrahim, 

 

Setiap manusia dalam hidup tidak akan pernah terlepas dari yang namanya masalah dan ujian. Yang menjadi pertanyaan adalah bukan APA masalah dan ujian yang sedang dihadapi, tapi BAGIMANA respon terhadap masalah dan ujian yang sedang kita hadapi saat ini. Boleh jadi masalah itu sepele buat kita, namun sangat kompleks bagi orang lain. Teringat akan firman Allah SWT dalam AL-Qur’an (Al Baqarah : 286) yang berbunyi : "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya". Ayat ini memberikan suatu motivasi bagi kita bahwa masalah dan ujian yang diberikan oleh kepada kita sudah diukur batas kesanggupannya dengan ketentuan yang telah Allah tetapkan. Namun, sering kita tidak sanggup dan menyerah terlebih dahulu atas masalah dan ujian yang sedang dihadapi.

Apalagi masalah dan ujian itu datang beriringan, seakan-akan kita adalah orang yang paling durjana di dunia ini. Seakan-akan waktu berhenti berputar dan semangat tak lagi hadir dalam diri ini. Subjektivitas pun muncul dan berkecamuk sehingga merusak kedamaian hati dan keimanan. Mengubah masalah menjadi rahmah begitu sulit untuk diterapkan tatkala kita semakin jauh dariNya dengan ujian dan permasalahan tersebut. Dengan masalah dan ujian tersebut, sang JABBAR memberikan peringatan dan lemparan batu agar kita mengingatNya dan menjadi manusia yang lebih baik tentunya, baik dalam artian multidimensi tentunya,  yaitu baik secara hablum minallah, baik secara hablum minannas, baik dalam kehidupan masyarakat dan lingkunga dan kebaikan yang lain.

Masalah dan ujian adalah 2 hal yang membuat manusia menjadi semakin dekat sang Khalik atau semakin menjauh dari sang Khalik. Mendefinisikan masalah dan ujian dengan kompresi makna NIKMAT alangkah begitu sulitnya, karena kita sebagai manusia sudah mengkompresi bahwa masalah dan ujian adalah petaka (astaghfirullah). Introspeksi diri atas semua hal yang telah terjadi, menjemput hidayah dengan jalan sendiri melalui pemahaman dan pengembangan diri dalam aspek spiritual, menjemput hidayah melalui kisah dari lingkungan sekitar akan semakin banyak mengisi ruang-ruang ruhiyah kita yang kosong menjadi terisi dengan suatu nilai syukur disertai terucap dalam hati "Alhamdulillah, ternyata masalah yang saya alami tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan orang itu, masih bersyukur saya bisa makan, bisa minum dan bisa melakukan berbagi macam aktivitas, sementara mereka tidak tahu apa yang akan dimakan besok, dimana mereka tidur besok, kemanakah harus bercerita untuk melepas semua sesak dalam dada mereka tersebut (fiuhhh..hidup adalah pembelajaran dan perjuangan)".

Ketika masalah dan ujian itu datang, banyak-banyaklah men-tadabburi (mempelajari–>membaca dan memahami maknanya) karena isi Al Qur’an sangat representatif mewakili setiap hal yang sedang kita hadapi saat itu. Waktu itu sedang suntuk-suntuknya dengan beberapa  permasalahan dan ujian-ujian yang lain, seusai shalat wajib saya lanjutkan sejenak dengan membaca Al Qu’ran yang sampai pada bacaan surat Ar-Rum dan kemudian saya baca artinya beberapa ayat, diantaranya yang membuat saya tercambuk adalah :
(Ar-Rum : 36) : "Dan apabila Kami Berikan sesuatu rahmat kepada manusia, niscaya mereka gembira dengan (rahmat) itu. Tetapi apabila mereka ditimpa sesuatu musibah (bahaya) karena kesalahan mereka sendiri, seketika itu mereka berputus asa".

(Ar-Rum : 37) : "Dan tidaklah mereka memperhatikan bahwa Allah yang melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan Dia (pula) yang membatasi (bagi siapa yang Dia kehendaki). Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang beriman".

(Ar-Rum : 54) : "Allah lah yang meciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan kuat  menjadi lemah (kembali) dan berubah. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dan Dia maha mengetahui, Maha kuasa."

Kekuatan yang dimiliki seseorang berawal dari masalah dan ujian yang sering dia hadapi. Saat suatu masalah dan ujian terlewati bertambah satu kekuatan dalam dirinya dan menunggu satu kelemahan yang lain sebagai input kekuatan baru atas masalah dan ujian lain yang akan dihadapinya.

Ya BASITH berikanlah kelapangan dan jalan keluar atas masalah dan ujian yang tengah dihadapi ini. Robbana afrigh alaina shabran wa tsabit aghda mana fanshurnaa ala qaumil kafiriin =  (…Ya Alloh, limpahkan kami kesabaran. tegakkanlah kaki kami kembali, Lindungilah kami atas orang-orang yang membenci kami …). Amin Allahumma Amin.

May 9, 2008

Milis sk_2003 Ramai seperti Forum

Filed under: My Voice, HIMTEK
Alhamdulillahirrobbil ‘alamin kehadiran milis SK_2003 makin ramai saja setiap minggunya. Respon yang sangat positif dari teman-teman semua untuk beberapa usulan yang saya posting di sana, bukan sekedar respon dan pernyataan singkat yang tidak menjawab, namun respon yang singkat tapi menyemangati sebuah gagasan dan pengembangan gagasan tersebut.
 
Inspirasi dari semua ini sebenarnya adalah karena Ika dan Antoni, karena ketika antoni melakukan posting tentang maen dota bareng maka beberapa dota lover pun memberikan respon. Si Ika yang notabene tidak bisa bermain dota dan berada di negeri seberang sana (di Duri, Riau, Pekau Baru) memberikan respon yang terkesan becanda, namun memancing yang lain untuk memposting tulisan. dari hal ini membuat saya pun terpancing untuk memberikan dan menanggapinya. Dari situlah saling balas-balasan sehingga untuk postingan main dota bareng menjadi ramai.
 
Postingan pun saya arahkan ke hal yang lain, yaitu mengganti permainan dota dengan yang lain. Di sana saya tuliskan "jangan maen dota mulu, layang2 yuk", tanggapan dari thread ini pun ramai, ada yang mengajak bermain congklak, futsal, nonton layar tancap bareng (digigit nyamuk bareng2..yang penting kebersamaannya).
 
Kemudian saya posting dengan thread "Agenda : baksos on the road". Beberapa tanggapan yang muncul sangat positif, tidak hanya satu kalimat pernyataan yang tidak jelas yang pasrah dan tidak berargumen, tapi lebih ke pernyataan positif yang memotivasi ke yang lain yang ikut memberikan tanggapan dan masukan (terimakasih teman-teman atas masukan dan tanggapannya…that’s what I want..). Sampai dengan saya dengan menulis blog ini masih banyak tanggapan dari teman-teman yang lain. Beberapa dari mereka menuangkan tanggapan persetujuannya dengan sebuah argumen yang sikat padat dan jelas, salah satunya adalah : gimana klo baksosnya jual sembako murah, jangan on the road dunk..gue gak ada motor dan lain-lain.
 
Terimakasih teman-teman buat tanggapan dan masukannya, "don’t judge a book by its cover", itulah istilah yang dapat saya berikan untuk kalian semua.
 
So…!!! Tunggu apalagi!!!!Yuk kita ramaikan milis sk_2003@yahoogroups.com dengan topik-topik yang lain. Hidup Alumni!!!! 
 
 

Bukan Garam Saja, tapi BATIK juga

Batik Madura 
Jika Madura terkenal dengan garamnya itu adalah hal yang biasa, tapi jika Madura terkenal dengan batiknya itu hal yang luar biasa karena sebagian besar orang tidak banyak yang tahu bahwa Madura adalah daerah penghasil batik yang berkualitas (percaya deh!!!! ini yang ngomong orang Madura asli..)). Batik Madura memiliki ciri khas dan keunikan dibandingkan batik-batik yang lain, baik dilihat dari warnanya yang kontras, coraknya yang mencerminkan karakter Madura dan lain. Berikut akan dipaparkan tentang batik madura yang saya dapatkan dari http://www.sinarharapan.co.id/ekonomi/usaha/2004/1023/ukm2.html. Berikut informasinya (bagi yang tidak percaya silahkan buka situs tersebut).
JAKARTA – Sektor usaha kecil dan menengah (UKM), kini sedang menjadi primadona pemerintah daerah. Salah satu daerah yang subur dengan UKM adalah Madura. “Pulau Garam” itu membanggakan produksi batik dan jamu sebagai usaha rakyat yang berhasil go international.
Ketika SH meninjau ke daerah tersebut beberapa waktu lalu, kedua jenis komoditas ini menjadi bagian cerita menarik sepanjang perjalanan. Sejarah mencatat kesuksesan para pengrajin batik dan jamu di sana. Yang membuatnya menjadi seperti itu, barangkali karena kedua komoditas itu menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi masyarakatnya sendiri.
Industri jamu berkembang karena khasiatnya. Apalagi yang tak terbantahkan, mitos seputar kehebatan jamu madura yang jika dikumpulkan bisa menjadi kumpulan cerita folklor. Tapi produk yang satu ini akan dibahas pada kesempatan lain.
Industri kecil yang menjadi kebanggaan daerah ini memang batik. Bagi Madura, batik bukan hanya sehelai kain, namun telah menjadi ikon budaya dan sering menjadi objek penelitian banyak institusi. Di berbagai buku batik terbitan luar negeri, batik Madura menjadi perhatian khusus. Motif dan warna yang tertuang di dalam kain panjang itu, merefleksikan karakter masyarakatnya. Khususnya batik buatan Tanjung Bumi di Kabupaten Bangkalan.
Tak heran jika H Affandi, pemilik industri kecil batik tulis “Annis” di Tanjung Bumi, Bangkalan, tak repot-repot untuk menjual hasil produksinya. Menurutnya, para pembeli datang dari berbagai kota di luar Madura, terutama pada hari libur. Begitu juga peminat batik dari mancanegara sering mampir ke tempatnya untuk berbelanja. Walau lokasinya bukan di jalan utama, para pembeli tak kesulitan. Sebab, daerah Tanjung Bumi sejak dulu sudah terkenal sebagai sentra industri kecil batik dan menjadi objek tujuan wisata sekaligus.
Ketika sanggar batik Affandi didatangi rombongan wartawan dari Jakarta, dia tampak senang. Apalagi dua stasiun televisi swasta merekam kegiatan usahanya. Batik yang tersimpan di lemari dipamerkan sembari dijelaskan satu persatu nama dan motifnya. Istrinya dengan bahasa Indonesia logat Madura, cukup sibuk melayani pertanyaan para wartawan. “Batik saya diborong ya,” ujarnya berharap.
Di sini batik termurah dijual Rp 30 ribu dan termahal Rp 250 ribu. Yang membuat mahal, menurutnya, tergantung bahan kainnya. Kalau terbuat dari sutera, jelas mahal. Tapi yang membuat dia heran, turis asing lebih menyukai batik murah yang bahannya katun (kasar) ketimbang yang terbuat dari sutera. Malah turis lokal lebih menyukai batik sutera yang halus.

Ketuk Pintu
Jangan membayangkan jika mampir ke Tanjung Bumi akan mendapatkan pemandangan seperti Pekalongan (Jawa Tengah), di mana terdapat banyak show room batik. Di sini harus ketuk pintu rumah dulu. Sebab kebanyakan pengrajin tak memasang nama sanggarnya. Tapi yang memudahkan untuk mencari di mana tempat pembuatan batik, dari aroma lilin. Jika baunya tajam, di belakang rumah itu sedang ada kegiatan produksi.
Apa yang terjadi rumah Affandi, sama sekali tak ada bau lilin menyengat. Tapi oleh panitia, para wartawan diarahkan ke sana. Ternyata selidik punya selidik, sanggar batik “Annis” layaknya inti. Sedangkan rumah-rumah di sekitarnya sebagai plasmanya. Tak heran di bagian belakang sanggar, yang merupakan rumah-rumah penduduk aroma lilin begitu menyengat. Di sini tampak para ibu sedang membatik membatik. Sementara para kaum lelaki sedang “di dapur” memasak (merendam) kain untuk menghilangkan lilin atau memberi warna.
Di Tanjung Bumi, menurut penjelasan staf Dinas Pariwisata setempat, orang seperti Affandi cukup banyakdi sini. Mereka bekerja sama dengan masyarakat di sekitarnya. Inti menyediakan modal kain berikut perangkat penunjang (bahan pewarna), alat membatik dan sebagainya. Sementara masyarakat (plasma) menyetor (batik) pada juragannya (inti). Model kerja sama seperti itu, menurut staf tadi, tidak kaku seperti itu. Ada juga pengrajin yang memiliki modal untuk membuat batik, namun hasilnya disetorkan ke pedagang atau dijual sendiri ke pembeli yang kebanyakan turis.
Sumarni, ibu dua anak, yang sedang asyik membatik di lantai rumahnya, mengaku, batik yang sudah jadi tidak harus disetorkan ke pedagang. Kalau ada pembeli yang datang dan cocok dengan motif dan harga maka akan dijual. Menyetor ke pedagang atau menjual langsung, sama-sama untung. Diakuinya, dirinya memang memiliki ikatan emosional dengan pedagang batik yang ketika dia sedang mengalami kesulitan keuangan, pasti dibantu.
Menurutnya, untuk menyelesaikan batik tulis waktunya tergantung tingkat kesulitan motif. Bila bentuk yang harus ditulis kecil dan rumit, prosesnya bisa dua bulan.
Persoalan bahan baku menjadi penting mengingat selama ini para pengrajin batik mendapatkannya dari luar Madura. Ke depan akan lebih ideal lagi jika kebutuhan bahan baku itu bisa dipenuhi dari Madura sendiri. Para pengrajin batik di Kabupaten Bangkalan, sebenarnya bukan hanya di Tanjung Bumi, tapi terdapat juga yang tersebar Modung, Blegah, Socah dan Kokop. (SH/gatot irawan)
 
Tambahan  : Pengguna terbesar batik Madura (khususnya yang sarung) adalah santriwati yang ada di wilayah tersebut, ketika anda berkunjung ke Madura maka anda pemandangan dimana banyak santriwati yang mengenakan sarung batik.
 
Comment dari saya : Memang benar kayak gitu, tidak percaya???? Coba aja buktikan sendiri dengan mengunjungi tempat tersebut untuk membeli BATIK atau sekedar survey. //Hidup MADURA// 
 

May 7, 2008

Remote Desktop Dengan VNC

Filed under: IT

Bukan sulap bukan sihir, jangan heran ketika anda melihat ada sebuah pointer mouse di layar monitor yang jalan-jalan sendiri namun tidak orang yang duduk di depan monitor tersebut untuk mengoperasikan PC.

VNC Viewer 

Itu adalah salah satu contoh applikasi remote desktop. Ada seseorang di komputer lain yang sedang menyusup masuk ke dalam tersebut dan mengontrol komputer tersebut dari jarak jauh. Dengan melakukan instalasi software remote desktop seperti VNC, maka aksi menyusup ke dalam komputer orang lain dapat dilakukan. Ada beberapa varian software VNC, yaitu Ultra VNC dan Real VNC.

Untuk melakukan proteksi komputer kita dari aksi ini maka ada beberapa cara yang bisa dilakukan, antara lain adalah :

– Memasang password untuk koneksi remote desktop
– Memasang konfigurasi permintaan konfirmasi dari user  pengguna komputer 

Autentikasi 

Dengan kofigurasi seperti diatas, maka setiap kali ada orang yang membuka koneksi remote ke komputer kita, dia harus memasukkan password yang sesuai dan memperoleh ijin/konfirmasi dari kita. Tanpa password, koneksi tidak dapat dilanjutkan. Jika password sudah sesuai maka di layar monitor pemilik komputer akan muncul dialog box yang menanyakan apakah kita mau mengijinkan koneksi remote desktop. Silahkan tekan OK untuk melakukan pembentukan koneksi remote desktop.

 

 

Ceramahin gw dong

Filed under: Islam, My Voice

Bismillahirrohamnirrohim,

Di sela-sela kesibukan bekerja (padahal gak sibuk-sibuk banget…tapi ada saja yang dikerjain) saya mendapatkan private message dari temen yang saya pikir dia mau menginformasikan atau mengisengi saya, berikut percakapannya :

angga-bebun’03: is
ismi: yuhu
angga-bebun’03: ceramahin gw dong
ismi: knp???
ismi: ttg apa dl niy??
angga-bebun’03: ga tau nih,,lg ngerasa ga beres aja
angga-bebun’03: dorongan pengen salat kuat bgt,,tp gw nya males2an
ismi: oooo gt ya
ismi: emang lg ada msh ga skrg???
angga-bebun’03: banyak pikiran aja sih
ismi: cb ambil wudhu
ismi: trs sholat dhuha skrg
angga-bebun’03: klo bisa nangis dari kmrn,,gw nangis deh is
angga-bebun’03: blm mandi gpp is??
ismi: gpp
ismi: ambil wudhu aja
angga-bebun’03: ada bacaannya??
ismi: trs sholat dhuha
angga-bebun’03: niatnya??
ismi: 2 rakaat
ismi: niat aku sholat dhuha 2 rakaat
ismi: baca al fatihah
ismi: yg pasti
ismi: suratnya apa aja
ismi: yg tau aja deh
ismi: abis itu banyakin istighfar
ismi: setelah itu YM lg
angga-bebun’03: yaudah,,makasih ya is
ismi: ok ok
ismi: ditunggu balesannya

Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayahnya kepada kita semua dan ketenangan hati serta batin. 

Alhamdulillah, saya sangat senang mendapatkan YM yang demikian dari dia, karena selama berteman dengan dia baru kali ini dia ingin "diceramahin" tentang sholat. Masih ingat salah satu statement dari teman kakak saya yang mengatakan bahwa titik sentuh batin setiap orang sholat itu beda-beda, ada yang benar-benar batinnya tersentuh ketika dia sholat dzuhur, ashar, maghrib, isya’ atau shubuh atau mungkin saat menunaikan sholat dhuha. hal ini tergantung suasana hati. Saya menyarankan teman saya sholat dhuha karena merupakan waktunya untuk sholat dhuha dan momentnya pun tepat disebabkan dia bingung dan banyak pikiran dan insyaAllah sholat dhuha akan membuka pintu-pintu rejeki dan rahmat dari Allah SWT….amin allahumma amin.

BBM Naik, Tarif Pulsa Turun

Filed under: Humaniora, My Voice
Suatu kondisi yang sangat kontradiktif antara perang tarif provider yang menurunkan harga gila-gilaan dengan kenaikan harga BBM yang gila-gilaan juga. Entah, saya bukan pakar ekonomi yang bisa menganalisa sebab dan akibat kenaikan BBM ini dari sudut pandang ekonomi. Namun yang jelas kenaikan harga BBM memberikan dampak yang sangat merugikan bagi rakyat dan menguntungkan bagi pemerintah dan Pengusaha. Meskipun pemerintah telah membuat kebijakan dengan adanya BBM bersubsidi, lantas timbul satu pertanyaan "akankah dan benarkah BBM bersubsidi terdistribusi ke orang yang tepat???". Dengan kenaikan ini akan menjadi bom waktu bagi pemerintah yang berkuasa sekarang, jika ingin tetap leluasa dengan kekuasaannya alangkah lebih baiknya untuk menarik kebijakan kenaikan harga BBM tersebut dengan melakukan subsidi yang tepat.
 
Ekses dari kenaikan harga BBM sendiri akan berimbas ke sektor-sektor yang lain seperti angkutan umum, sembako dan lain-lain. Jelas!!!, karena untuk melakukan distribusi barang dan jasa diperlukan sebuah media transportasi yang bahan pokoknya adalah BBM, tanpa BBM media transportasi tersebut tidak akan beroperasi dengan baik. Heran juga dengan penguasa negeri ini, di satu sisi membuat kebijakan kenaikan harga BBM, namun di sisi yang lain  membuat kebijakan penurunan gila-gilaan tarif provider. Mungkin BBM sendiri perlu kompetitior seperti halnya provider telekomunikasi agar tersaingi sehingga pada suatu titik nantinya akan ada penurunan harga BBM yang serupa dengan kondisi perang tarif. Mungkin karena rakyat disibukkan dengan perang tarif dan mengkoleksi berbagai macam SIMCARD dan sibuk pula menggunakan bonus-bonus yang ditawarkan provider sehingga kurang aware terhadap jejak langkah yang akan ditempuh pemerintah.
 
Harga BBM di Aran Saudi memang murah dibandingkan dengan harga air, tapi apakah Saudi membebankan rakyatnya dengan menaikkan harga air setiap tahunnya, justru pemerintah saudi dengan bijaknya membangun saluran-saluran air baru.





















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by B A Khan