Ketika Masalah dan Ujian itu Datang Beriringan
Bismillahirrohmanirrahim,
Setiap manusia dalam hidup tidak akan pernah terlepas dari yang namanya masalah dan ujian. Yang menjadi pertanyaan adalah bukan APA masalah dan ujian yang sedang dihadapi, tapi BAGIMANA respon terhadap masalah dan ujian yang sedang kita hadapi saat ini. Boleh jadi masalah itu sepele buat kita, namun sangat kompleks bagi orang lain. Teringat akan firman Allah SWT dalam AL-Qur’an (Al Baqarah : 286) yang berbunyi : "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya". Ayat ini memberikan suatu motivasi bagi kita bahwa masalah dan ujian yang diberikan oleh kepada kita sudah diukur batas kesanggupannya dengan ketentuan yang telah Allah tetapkan. Namun, sering kita tidak sanggup dan menyerah terlebih dahulu atas masalah dan ujian yang sedang dihadapi.
Apalagi masalah dan ujian itu datang beriringan, seakan-akan kita adalah orang yang paling durjana di dunia ini. Seakan-akan waktu berhenti berputar dan semangat tak lagi hadir dalam diri ini. Subjektivitas pun muncul dan berkecamuk sehingga merusak kedamaian hati dan keimanan. Mengubah masalah menjadi rahmah begitu sulit untuk diterapkan tatkala kita semakin jauh dariNya dengan ujian dan permasalahan tersebut. Dengan masalah dan ujian tersebut, sang JABBAR memberikan peringatan dan lemparan batu agar kita mengingatNya dan menjadi manusia yang lebih baik tentunya, baik dalam artian multidimensi tentunya, yaitu baik secara hablum minallah, baik secara hablum minannas, baik dalam kehidupan masyarakat dan lingkunga dan kebaikan yang lain.
Masalah dan ujian adalah 2 hal yang membuat manusia menjadi semakin dekat sang Khalik atau semakin menjauh dari sang Khalik. Mendefinisikan masalah dan ujian dengan kompresi makna NIKMAT alangkah begitu sulitnya, karena kita sebagai manusia sudah mengkompresi bahwa masalah dan ujian adalah petaka (astaghfirullah). Introspeksi diri atas semua hal yang telah terjadi, menjemput hidayah dengan jalan sendiri melalui pemahaman dan pengembangan diri dalam aspek spiritual, menjemput hidayah melalui kisah dari lingkungan sekitar akan semakin banyak mengisi ruang-ruang ruhiyah kita yang kosong menjadi terisi dengan suatu nilai syukur disertai terucap dalam hati "Alhamdulillah, ternyata masalah yang saya alami tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan orang itu, masih bersyukur saya bisa makan, bisa minum dan bisa melakukan berbagi macam aktivitas, sementara mereka tidak tahu apa yang akan dimakan besok, dimana mereka tidur besok, kemanakah harus bercerita untuk melepas semua sesak dalam dada mereka tersebut (fiuhhh..hidup adalah pembelajaran dan perjuangan)".
Ketika masalah dan ujian itu datang, banyak-banyaklah men-tadabburi (mempelajari–>membaca dan memahami maknanya) karena isi Al Qur’an sangat representatif mewakili setiap hal yang sedang kita hadapi saat itu. Waktu itu sedang suntuk-suntuknya dengan beberapa permasalahan dan ujian-ujian yang lain, seusai shalat wajib saya lanjutkan sejenak dengan membaca Al Qu’ran yang sampai pada bacaan surat Ar-Rum dan kemudian saya baca artinya beberapa ayat, diantaranya yang membuat saya tercambuk adalah :
(Ar-Rum : 36) : "Dan apabila Kami Berikan sesuatu rahmat kepada manusia, niscaya mereka gembira dengan (rahmat) itu. Tetapi apabila mereka ditimpa sesuatu musibah (bahaya) karena kesalahan mereka sendiri, seketika itu mereka berputus asa".
(Ar-Rum : 37) : "Dan tidaklah mereka memperhatikan bahwa Allah yang melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan Dia (pula) yang membatasi (bagi siapa yang Dia kehendaki). Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang beriman".
(Ar-Rum : 54) : "Allah lah yang meciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan kuat menjadi lemah (kembali) dan berubah. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dan Dia maha mengetahui, Maha kuasa."
Kekuatan yang dimiliki seseorang berawal dari masalah dan ujian yang sering dia hadapi. Saat suatu masalah dan ujian terlewati bertambah satu kekuatan dalam dirinya dan menunggu satu kelemahan yang lain sebagai input kekuatan baru atas masalah dan ujian lain yang akan dihadapinya.
Ya BASITH berikanlah kelapangan dan jalan keluar atas masalah dan ujian yang tengah dihadapi ini. Robbana afrigh alaina shabran wa tsabit aghda mana fanshurnaa ala qaumil kafiriin = (…Ya Alloh, limpahkan kami kesabaran. tegakkanlah kaki kami kembali, Lindungilah kami atas orang-orang yang membenci kami …). Amin Allahumma Amin.