My Virtual Voice

June 28, 2008

Harga Sebuah Clurit

Terkesan setelah membaca tulisan blog dari saudara sekampung saya di Madura yang beralamatkan di http://rgesit.blogsome.com yang berjudul History of Madura. Satu topik dan bahasan yang benar-benar bisa membuka kita semua bahwa Madura sebenarnya tidak sekeras dan seburuk apa yang dipikirkan orang. Secara geografis wilayah di Madura beriklim panas, namun tidak demikian dengan karakter masyarakatnya secara makro. Berdasarkan pengalaman yang saya tahu karena saya lahir dan dibesarkan di sana, maka dapat saya simpulkan bahwa mereka adalah pribadi yang religius, ramah, memegang teguh adat dan kehormatan serta memiliki integritas dan pengakuan yang sangat kuat dengan saudara-saudaranya sesama Madura. Disamping itu, mereka adalah pribadi-pribadi petualang yang senantiasa haus akan pengalaman dan tantangan.
 
Clurit identik dengan carok, karena keduanya saling melengkapi satu sama lain, tanpa ada clurit maka carok apalah artinya. Carok atau pertarungan sadis memang sudah biasa kita dengar dan sangat identik dengan budaya Madura. Namun, jangan lantas berpikir dan membenamkan diri bahwa carok itu tidak memiliki nilai apa-apa. Carok merupakan salah satu bentuk penyangga dan integritas sebuah kehormatan. Bagi sebagian orang yang level pendidikannya tinggi mungkin berpikir "mengapa dengan jalan demikian???apakah tidak ada cara lain???", akan saya jawab dengan kapasitas saya sebagai orang Madura. Mereka tidak melakukan cara lain selain carok karena mereka belum mnegetahui cara lain untuk mempertahankan dan menegakkan kehormatan dirinya, sementara yang berpendidikan tinggi telah banyak membuka dirinya dengan buku dan juga pengalaman orang lain, jadi yang berpendidikan jadilah teladan yang baik dengan kemampuanya bagi orang lain. Berdasarkan struktur masyarakatnya, suku Madura adalah suku yang rata-rata memegang teguh prinsip nenek moyang, melanggar nenek moyang sama dengan penghianatan.
 
Namun, seiring dengan berkembangnya kebudayaan dan peradaban masyarakat. Masyarakat Madura pun mengalami sebuah transisi nilai budaya dengan tetap mengakarkan diri pada budaya Madura. Andai saya bisa merangkai dan mengingat kembali pepatah Madura yang sering dihaturkan oleh Ayahanda saya tercinta, maka dengan segenap rasa hormat saya kepada beliau dan kepada para tokoh-tokoh Madura lainnya akan saya tuliskan pepatah tersebut. Apa daya tingkat kepekaan mengingat hal yang seperti ini kurang bagus karena banyak terkontaminasi dengan hal-hal yang lain (But I’m still Madureese, I Love Madura respectly).
 
Perkembangan tersebut pun semakin menggeser flkutuasi clurit yang tadinya digunakan untuk saling bacok membacok satu sama lain karena sebuah integritas dan kehormatan yang harus dipertahankan. Clurit tetap merupakan sebuah peripheral inti dalam masyarakat Madura. Untuk apa peripheral inti itu digunakan, tergantung dengan tingkat emosional dan spiritual quotien masing-masing. Mungkin harga clurit yang mereka dapatkan di pasar AHADAN (pasar setiap Minggu, ini berlokasi beberap meter dari rumah saya), pasar Sattowan (pasar setiap Sabtu, di daerah tanah merah) atau pasar senen (di Kota Bangkalan) hanya beberapa ribu saja, tapi yang hanya beberapa ribu tersebut bisa menjadi simbol integritas dan kebanggaan mereka terhadap akar budayanya. Ketika harus kehormatan yang diobrak-abrik, ketika mulut sudah habis kosakatanya maka tangan dengan genggaman clurit pun mengintrepretasikan perebutan akan sebuah kehormatan.
 
Sebagai orang Madura, saya mengakui bahwa fenomena ini masih ada di komunitas Madura, namun tolong jangan anda sterotype-kan Madura dengan masyarakat tukang bacok, keras dan kampungan. Saya pikir semua komunitas masyarakat di dunia ini memiliki karakter seperti in. Bagi saya Madura adalah sebuah anugerah. Kadangkala intonasinya memang sekeras clurit, namun percayalah tidak demikian dengan hatinya (bender enggi tretan????). Tak bisa dipungkiri bahwa clurit dan carok masih ada sampai sekarang, namun percayalah seiring dengan kencangnya laju pendidikan maka clurit akan memiliki harga yang intangible karena clurit bisa berkata tentang sejarah sebuah pulau yang bernama Madura. Clurit berkesempatan untuk masuk ranah-ranah internasional yang menjadi sebuah aksesoris ekslusif dengan segmentasi tertentu tentunya.
 
Sekali Madura Tetap Madura, namun tidak melupakan pulau-pulau yang lain karena Madura tidak akan ada apa-apanya tanpa kehadiran pulau-pulau yang lain (we love you Indonesia). 
 
-Salam hangat saya untuk Madura-
Mator sakalangkong ampon eajari adaddha Madura, InsyaAllah tak bekal kaloppae. 
 

Pemilu Himtek 2008

Filed under: My Voice, HIMTEK, Teman

Berdasarkan hasil perbincangan dan diskusi dengan teman-teman angkatan 2003, 2004, 2005 dan 2006 maka terbentuklah tim KPU (Komisi Pemilihan Umum) yang dimotori oleh Air dan Api (panggilan komersil buat Adon dan Akbar). Adapun calon ketuanya adalah berasal dari angkatan 2006, adapun kandidatnya adalah sebagai berikut :

1. Ferdi
2. Nia
3. Yenni 

Untuk kelanjutan dan progres dari pemilu ini, kemarin Welli sudah menceritakan ke saya dan dia juga minta masukan tentang prosedural agar operasional pemilu ini berjalan cepat, lancar dan aspiratif karena minggu ini teman-teman mahasiswa sedang UAS dan setelah itu liburan panjang (bagi yang tidak ikut Semester Pendek) dan banyak agenda-agenda lain yang harus dikerjakan terkait dengan penerimaan mahasiswa baru dan start menuju regenerasi aktivis Himtek berikutnya.

Nanti kita diskusikan lagi ya!!!!setelah kalian semua selesai Ujian, kebetulan minggu ini saya sedang libur kuliah (jadi lebih fleksibel waktunya) dan salah satu mantan koordinator di kepengurusan saya mengajak untuk melakukan acara kumpul-kumpul (ntar ya…kita confrence dulu di YM..abis itu kita jalan bareng..OK!!!). 

Minggu yang berat

Filed under: My Voice, Aktivitas

Alhamdulillah yaa Rabb, atas limpahan nikmatMu yang berlimpah aku bisa melalui minggu yang berat ini. Kenapa menjadi minggu yang berat :

1. Tanggal 17 Juni sampai dengan 25 Juni 2008 ada Ujian Final term 3 Untuk Program Pasca Sarjana saya di Binus Business School. Ada 4 mata kuliah yang saya ambil dan dapatkan di term 3 ini, yaitu :

– IT Project Management
– International Marketing
– Marketing Research
– Brand Management 

2. Minggu-minggu ujian di kantor numpuk banyak kerjaan, mulai dari servisan laptop dan PC (kebetulan saya menangani laptop) yang banyak dari user sampai dengan akses network yang up-down sehingga banyak user yang complain dan menelpon ke departemen dimana saya bernaung.

3. Mengejar deadline thesis, seharusnya Jum’at kemarin sudah saya kumpulkan draft block diagram finalnya untuk dijadikan sebagai panduan dalam menulis sehingga bisa lebih proaktif lagi dalam penulisannya. Walaupun block diagramnya saya kerjakan beberapa jam sebelum diserahkan ke dosen pembimbing dan penasihat dosen pembimbing (saya kerjakan di kantor 1/2 jam sebelum sholat jum’at karena saya akan ke kampus untuk bertemu Ibu saya kurag lebih jam 15.30 Wib). Setelah saya menginformasikan melalui sms, ternyata sang Ibu dan karyawan di JWC sedang outing (Alhamdulillah, bisa direvisi kembali blok diagram ini).
4. 27 Juni 2008 bertempat di kampus Anggrek Universitas Bina Nusantara saya mendapatkan 3 acara sekaligus, yaitu :

– Karena sampai kampus jam 16.30 Wib, saya mengikuti akhir-akhir seminar tentang CEH (Certified Ethical Hacking…Hall lt.8 pun penuh dengan para peserta seminar tersebut). Untunglah dapat infonya walaupun sedikit, yang akan menjadi pertanggungjawaban saya untuk bos di kantor dan teman-teman lain yang menunggu jawaban saya tentang sertifikasi hacker tersebut.
– Sebelum menginjak acara selanjutnya saya mengikuti seminar karir yang "nyelip" di acara inti saya hari ini.
–  Acara inti pun dimulai, WISUDA CCNA ANGKATAN 17 Binus Center. Di sini dapat makan gratis, dapat mug gratis dan bertemu dengan junior-junior di SK (ketumpahan curhatnya deh..tetap semangat ya buat Welli’05 dan Eka’04) dan juga teman-teman lain sekelas ketika mengambil training sertifikasi ini (Kelas CSPA, Kelas CSSA dan tentunya kelas asli saya CSMB).

5. Beberapa waktu yang lalu, saya menabrak kucing (My Rabb…Astaghfirullah, maaf ya kucing..:((). 

June 21, 2008

Gabung Milis SK 2003

Filed under: My Voice, HIMTEK, Teman

 

Buat teman-teman semua yang masuk di Universitas Bina Nusantara Tahun 2003 (entah udah alumni, pindah ke kampus yang laen dan alasan yang laen) jangan lupa ya!!!Gabung di milis ini, alamatnya :

sk_2003@yahoogroups.com 

himtek vs hwc 

 

Gabung di milis smunsa_bkl yuks!!!

HI ALL…

dovin ngomong dl ya 

malu ah..tutup ama kipas 

Buat kamu2 yang ngerasa alumni SMUN1 Bangkalan, silakan gabung di milisnya dengan alamat :

1. smunegerisatubangkalan@yahoogroups.com

2. smunsa_bkl@yahoogroups.com

cewek euy 

hayooo 

(lah kok saya gak ada fotonya ya????). 

Caranya gimana????? (ckcckckckckc) :

Kamu kirim email kosong aja ke alamat email tersebut, salam kenal ya dari saya. Semoga bisa bertemu dengan teman2 saya di kelas 1-1, 2-4 dan 3IPA1. 

hai..gabung ya 

yuhu 

SMUNSA BANGKALAN 4EVER!!!! 

Bersepeda, Duluan Bangkalan kali

sepeda milik bersama 
Hari ini (apa tadi malam ya..entah..gak jelas udah pagi apa malam), saya menonton siaran di TV yang menayang paket berita tentang kampanye bersepeda yang dilakukan oleh SBY dan istrinya selama 1/2 jam bersama teamnya yang berputar-putar di sekitar monas (monumen Nasional, red). Sementara itu juru bicara kepresidenan (tau lah sapa orangnya..si abang kumis dari Sulawesi itu) juga pergi ke kantor kadang-kadang bersepeda. Dan malam itu juga salah satu teman saya di YM mengatakan jika dia ingin membeli aksesoris buat sepeda.
Melihat fenomena ini, saya langsung teringat dengan Bangkalan setahun yang lalu ketika pulang kampung. Di setiap rumah saudara-saudara saya terpampang sepeda gunung yang dilengkapi dengan aksesorisnya. Sampai-sampai petinggi polisi (Polres, red) di sana mengikuti trend masyarakat Bangkalan yang sedang gemar-gemarnya bersepeda. Ada salah seorang sepupu saya yang juga menjadi penggiat dan peserta acara setiap rally sepeda di Bangkalan, sampai-sampai dia pernah mengajak saya untuk mengikuti rally bersama ke daerah-daerah di luar Bangkalan. Sementara itu, tanpa saya sadari di rumah pun juga demikian, kakak saya (Didin, red) menjadi penggemar sepeda juga, dia meminta dibelikan sepeda gunung juga karena sebelumnya di rumah adanya sepeda mini (itu loh sepeda Jepang yang warna merah), akibat trend yang lagi menggila di Bangkalan itu maka si Didin pun dibelikan sepeda gunung (walaupun gak trend, kakak saya yang satu ini memang suka bersepeda). Bagaimana dengan saya???? Biasa aja tuh, tapi karena di rumah ada ya saya manfaatkan saja.
Untuk kegiatan bersepeda ini, biasanya saya lakukan bersama-sama sepupu atau tetangga saya yang masih kecil (SD-SMU) di pagi hari atau sore hari. Rute yang saya ambil jika pagi hari adalah dari rumah ke sawah-sawah yang ada di sekitar sana dengan mengambil track seperator antar petak-petak sawah yang super sempit. Sedangkan jika di sore hari, kami ke jalan besar menuju Bangkalan kota. Mendengar hal ini, slah satu teman saya mengatakan "gak ada kerjaan ke Bangkalan naik sepeda, kyk gak ada motor aja". Nevermind lah dengan pernyataan itu, karena bagi saya olah raga bersepeda sangat mengasyikkan dan walaupun sekarang trendnya sudah mulai berkurang saya masih tetap bersepeda bersama dengan teman-teman kecil saya (temen2 kecilku, kapan niy kita bersepeda rame2?????….tunggu ye!!!klo ntar pulkam).
Untuk hal bersepeda, antara Jakarta dan Bangkalan, sepengetahuan saya masih duluan Bangkalan. Karena jika dilihat dari faktor demografisnya maka ada beberapa hal yang membuat Bangkalan lebih dulu, yaitu :
- Dasar masyarakatnya yang memang banyak bersepeda
- Anti macet dan polusi
- Solidaritas antar masyarakat dan pemuda
- Ajang saling membuka komunitas satu sama lain
- Dan saya bingung (apalagi ya alasannya…..silahkan anda kaji sendiri). 

June 20, 2008

Nyaman dengan Jaket

Filed under: Humaniora, My Voice, Teman
Berbicara tentang jaket maka pendengaran kita semua sudah tidak asing lagi. Dari tahun ke tahun trennya senantiasa berkembang mengikuti tuntutan dan permintaan pasar. Banyak alasan mengapa orang mengenakan jaket, mulai dari menghindari panas supaya tidak membuat kulit hitam, membuat badan hangat (balsem kaliiiiii…!!!), untuk fashion, sebagai baju pelengkap supaya lebih semarak penampilannya atau mungkin tidak bisa hidup tanpa jaket (klo yang ini berlebihan..).
 
Secara pribadi, saya memang penggemar dan pemakai jaket, hampir setiap aktivitas saya di luar dibalut dengan pakaian tambahan ini, mau hawanya panas maupun dingin bagi saya jaket adalah pelengkap. Sampai-sampai ada celetukan dari teman-teman jika kami pergi bareng dengan pernyataan "mana jaket lo". Beberapa hal yang membuat saya nyaman dengan jaket adalah sebagai berikut :
1. Jika pergi malam-malam, mengenakan jaket dapat menghindari masuk angin, apalagi jika perginya sampai pagi (wajib hukumnya make jaket…ini hukum yang saya bikin sendiri).
Nongkrong malem2 @ Sarinah 
2. Jaket memperbaiki penampilan, sehingga tadinya yang sebenarnya di dalamnya mengenakan kaos yang acak adul dan buluk, dengan jaket dapat lebih terlihat lebih baik penampilannya.
sore2 jaketan, kaosnya buluk kalee 
3. Jaket dapat digunakan sebagai pelengkap tambahan ketika dalam keadaan urgen. Suatu ketika pernah terjadi pada saya dan teman saya yang kebetulan saat itu menjadi tim advance (tim penyiap sebelum peserta dan panitia tiba di tempat acara yang tugasnya merapikan tempat, tracking/mencari jalur, lobi dengan pihak setempat, dll). Acara saat itu berlokasi di Sentul (itu loh yang buat balapan tapi agak masuk ke dalam lagi..deketan ama Gunung Putri yang buat syuting Mak Lampir…hihihihihihi), kami berangkat dari kampus sore selepas ashar dan sampai di sana dengan menggunakan bus patas AC kurang lebih jam 7an. Kondisi saat itu hujan deras, becek dan banyak ojek sepertinya. Kami (saya dan Rama, red) pun cepat-cepat mencari masjid di dekat turunnya kami dari bus dan alhamdulillah kami menemukannya. Rama ke tempat sholat cowok dan saya ke tempat sholat cewek, dengan diiringi petir yang keras dan hujan yang deras maka membuat basah dimana-mana. Di tempat sholat cewek saya tidak menemukan sajadah sehingga saya pun berinisiatif membuka jaket saya untuk dijadikan sebagai sajadah pengganti. Hal ini tidak hanya terjadi sekali dua kali, tapi beberapa kali, di beberapa kondisi saya sering menggunakan jaket sebagai sajadah pengganti.
bisa juga jadi sajadah pengganti 
4. Jaket juga berfungsi sebagai pelindung jilbab saya dari tiupan angin sehingga tidak terbang-terbang dan saya pun tidak perlu repot-repot menjaga jilbab saya agar tidak mudah dihempas derai angin (ini yang sering..bisa digunakan waktu naik motor, pergi ke luar kosan atau keluar kota dan jenis aktivitas mobile yang lain).
lagi di dufan siang2 tetep pake jaket 
5. Jaket berfungsi untuk menghindari dari dinginnya AC di dalam bus dan menghindari nyamuk yang ada di sekitarnya.
di dalam bus pun berjaket 
 6. Jaket sebagai luaran/pelengkap saja. Tapi ada salah seorang teman saya yang mengatakan bahwa jika ia memakai jaket ke kampus dapat diindikasikan bahwa dia belum mandi.
buat luaran aja 
7. Jaket bukan jimat. Menggunakan jaket tertentu bukan penentu keberhasilan atau kegagalan kita dalam menjalankan suatu hal. Ini seperti cerita dari teman saya yang karena mengenakan jaket xx dia menjadi lulus sidang skripsi dan ujian internasional bahasa. Kemudian dia mengatakan kepada saya setengah bercanda "makanya lo pake jaket xx aja supaya lulus" dan saya pun menjawab "halah..ada2 aja deh".
 
Jadi dapat disimpulkan bahwa jaket memiliki fungsi dan kenyamanan sendiri bagi penggunanya. Jangan lupa secara rutin mencuci jaket yang telah dikenakan agar terhindar dari virus-virus yang tidak bertanggung jawab (minimal 2 hari sekali, maksimal 1 minggu sekali…tergantung ketebalan jaket).
 
blazernya sk 
Go Jacket Go!!!! (artinya : klo pergi2 pake jaket).

June 19, 2008

Menjadi Guru SD (Bagian2-Habis)

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Menjadi Guru SD di Soket Dajah 1, Kecamatan Tragah, Bangkalan

SDN SOKET DAJAH 1 Kelas 5 

Melanjutkan cerita saya tentang pengalaman menjadi guru SD, kali ini saya akan menceritakan tentang pengalaman saya menjadi guru SD di Kecamatan Tragah tepatnya di SDN Soket Dajah 1. Sudah merupakan hukum alam bahwa sekolah yang mengandung angka tunggal dan merupakan permulaan angka pasti sekolah yang bagus dan favorit, contohnya : SDN Burneh 1 (itu SD saya, terfavorit di Burneh), SLTPN 1 Bangkalan (Bukan SMP saya, tapi sangat difavoritkan oleh siswa di Bangkalan dan sekitarnya, SMP saya adalah SLTPN 4 Bangkalan…lumayan terkenal juga di Bangkalan karena fasilitas sekolahnya yang lengkap dibandingkan dengan SMP-SMP yang lain), SMUN 1 Bangkalan (beh!!!!..siapa yang tidak kenal SMU ini, jangankan orang Madura..di luar Madura pun banyak yang tahu prestasi sekolah ini…"lebai mode : ON").

Sedikit overview tentang SDN ini. Secara prestasi, SD ini sangat terkenal di kecamatan Tragah dengan prestasi akademis dan non akademis dari murid-muridnya. Sedangkan secara geografis sekolah ini masih masuk dalam kawasan kabupaten Bangkalan kecamatan Tragah dengan jarak tempuh dengan menggunakan transportasi publik (namanya : Colt) sekitar 25 menitan (ini dari rumah saya) dengan kondisi wilayah yang hampir sebagian besar adalah persawahan. Melewati wilayah ini terasa begitu segar dan tenangnya karena bisa menikmati nikmat Allah berupa alam pedesaan yang anti polusi. Sekolah ini berada dalam satu area dengan SDN Soket Dajah 2 (gak jauh beda klo gitu dengan SD saya dulu, jadi inget kenakalan waktu SD dulu..sekolah kami sering berantem dengan SDN tetangga/SDN Burneh 2, mulai dari lempar-lemparan batu, pasir sampai dengan lempar-lemparan kata…Astaghfirullah!!!semoga anak-anak yang sekarang gak kayak gitu lagi). Kenaturalan dari wilayah ini yang membuat saya tertarik untuk menjangkau ke sana, bisa melihat sawah yang menghijau, matahari yang bersinar dengan adilnya membagikan sinarnya untuk membantu proses fotosintesis di kehijauan area di sana, oksigen yang masih segar dengan minimal kontaminasi dari zat-zat beracun dan berbahaya, pohon-pohon yang berdiri tegak di sepanjang jalan, langit biru yang bercampur putih benar-benar terlihat dengan indahnya.

Saya mendapatkan link sekolah ini dari tante saya (adik bungsu Ibu saya, yang biasanya saya panggil "Lek Nur"). Beliau adalah guru senior di sana yang sudah hampir 20 tahunan mengabdi sebagai pahlawan tanpa jasa sehingga tidak sulit bagi saya untuk merelisasikan hal ini. Lek nur yang menghubungkan saya dengan kepala sekolah (kebetulan saya tidak bertemu langsung, beliau lah yang membuka wacana langsung tentang niat saya ini). Dengan keyakinan bahwa niat baik ini akan diterima. Beberapa jam kemudian (tepatnya siang hari selepas pulang kantor-antara jam 1/2an siang) beliau menginformasikan kepada saya bahwa kepala sekolahnya mengijinkan saya untuk mengajar di sana (yeah….hore…liburan yang bermakna terulang kembali).

Untuk kapan jadwal dimulainya saya mengajar, hal ini sepenuhnya saya pasrahkan kepada tante saya (yang jelas sebelum saya kembali ke Jakarta dan sebelum pernikahan sepupu saya di Surabaya, karena jika sudah di Surabaya saya jadi malas bolak-balik Madura-Surabaya apalgi geografis sekolah dimana tante saya bekerja masuk dalam level "remote area"). Tante saya sepakat dan beliaulah yang menyusun jadwal mengajar.

Sekitar tanggal 31 Desember 2007 saya memulai untuk mengajar, sebenarnya saya sendiri kurang tahu dan siap jika saya akan mengajar hari itu. Pagi-pagi lek nur menelpon ke rumah agar saya bersiap-siap karena kita akan berangkat jam 7 (jam masuk kelas sekolah adalah jam 7.30 pagi), agak "kaget nyantai" saya pun mempersiapkan diri dengan membuat beberapa halaman slide tentang pengenalan komputer. Jika di Sekolah sebelumnya (baca : menjadi guru SD-bagian 1) saya tidak mempersiapkan slide, maka perbaikan dari  sebelumnya adalah saya melakukan  persiapan pembuatan slide pengenalan komputer secara garis besar saja untuk dijadikan pegangan ketika saya mengajar nanti (tanpa slide sebenarnya bisa mengalir apa adanya dengan hanya melihat seonggok laptop yang terbaring dengan nyenyaknya di tas ransel saya).

Tante saya datang ke rumah dengan seragam keki-nya (seragam keki–> seragam pegawai negeri yang berwarna coklat, jika seragam hansip–>seragam yang berwarna hijau yang kata tante saya sekarang sudah jarang dipakai lagi) dengan dibalut jilbab di kepalanya. Masuk ke pertapaan saya (baca : Ruangan Favorit saya di rumah) dan melihat saya masih dalam keadaan mengenakan baju tidur dan belum mandi. Tante saya pun sedikit memarahi saya dan meminta saya untuk cepat-cepat (kebiasaan!!!!"ujarnya"…kemarahan two in one pun terjadi–>ibu dan tante saya menyuruh saya cepat-cepat). Kali ini ibu aura ibu saya sangat senang melihat kesibukan saya ini, jika sebelumnya agak dilarang karena kondisi cuaca dan geografis yang sangat terpencil maka untuk kali ini ibu saya merasa tidak khawatir lagi karena ada tante saya.

Kebetulan kami tidak berdua saja perginya ke sekolah, karena ternyata tante saya ditemani oleh teman sekantornya yang juga teman sepermainan, sekampung dan satu sekolah saya dulu. Dia menjadi guru honorer di sekolah tante saya. Kegiatan ini pun menjadi penyambung tali silaturrahim dengan dia yang walaupun sekampung namun kami sangat amat jarang bertemu, dalam perjalanan menuju sekolah banyak hal yang dia ceritakan berkaitan dengan kesibukannya sebagai ibu rumah tangga sekaligus guru, aktivitas suaminya yang banyak di Surabaya, pengalamannya selama mengajar anak-anak SD terutama pernyataan dia yang tidak pernah bisa saya lupakan, yaitu "klo ngajar kelas 1 harus makan dulu soalnya bikin cepet laper" dan pembicaraan-pembicaraan yang lain yang cukup inspiratif dan akomodatif untuk menjadi pengajar sesaat di sekolah sana.

Ada hal yang menarik ketika kami berada dalam angkutan umum menuju ke SD Tragah, yaitu ada seorang penjual yang entah akan membawa barang dagangannya ke pasar ataukah sudah selesai berdagang dari pasar. Karena mayoritas di dalam angkutan tersebut adalah ibu-ibu guru yang saling mengenal satu sama lain maka transaksi pun terjadi di dalam mobil angkutan tersebut (seolah-olah saya sedang berada di pasar saja saat itu) dan saya pun keheranan melihat hal tersebut dengan menanyakannya kepada teman saya. Dia berkata demikian :
Rufah : "udah biasa itu is, biasanya juga guru-guru belanja di dalam mobil"
saya : "ouw gt ya" (sambil menyaksikan adegan transaksi yang mereka lakukan)
teman : "Klo belanja ke pasar takutnya gak kebagian ato udah habis karena kesiangan makanya belanja yang ada di dpn mata biar nanti gak usah repot-repot ke pasar"
saya : "ya bener"
Transaksi pun berakhir seiring dengan turunnya sang penjual di sebuah pasar yang jaraknya tak jauh dari tempat kami memberhentikan mobil angkutan tadi. 

Kami sampai di sekolah kira-kira jam 7.30 lewat sedikit, masih belum terlalu ramai ruangan guru di sana, hanya ada kepala sekolah dan  guru piket. Sebelum memulai mengajar, etika dan etiket pun diterapkan dengan cara membuka komunikasi dengan kepala sekolah dan memperkenalkan diri serta memberikan ulasan singkat tentang maksud dan tujuan mengajar di sana, kemudian saya diperkenalkan kepada guru-guru yang lain, baik yang sudah datang dari tadi maupun yang baru datang. Alhamdulillah, bertemu dengan komunitas baru lagi yang membuat pemikiran dan pandangan saya menjadi semakin terbuka dan jadi lebih mengetahui kehidupan guru di desa, keluh kesah mereka selama di kantor terkait dengan urusan rumah tangga dan urusan yang lain, perjuangan dan pengalaman mereka dalam mengabdikan diri menjadi pahlawan tanpa tanda jasa, sosialisasi dengan masyarakat sekitar dan aspek-aspek kemausiaan yang lain yang saya dapatkan dari penuturan  mereka.

Hari pertama, Mengajar kelas 5 SD 

Hari itu, sekitar jam 8an saya masuk kelas dan mengajar teman-teman kecil saya di kelas 5. Sebelum masuk ke kelas tersebut, seperti biasanya tante saya memberikan kemudahan kepada saya dengan memberikan penjelasan singkat kepada murid-murid yang ada di sana bahwa akan ada guru baru yang akan mengajar komputer dan mereka diminta mencatat, mendengar, memperhatikan dan jangan ramai. Mendengar penjelasan yang diberikan oleh tante saya dari luar ruangan kelas saya senyum-senyum sayup mendengarnya. Saya pun masuk dan mulai melebur dengan teman-teman kecil saya di kelas 5.

Perkenalan diri dengan menggunakan bahasa anak-anak yang bisa dimengerti dan harus banyak berhenti di penggalan pernyataan tertentu untuk memberikan kesempatan kepada mereka dalam mengartikan pernyataan yang telah dituturkan. Ketika raut mukanya sudah normal, maka dilanjutkan ke pembicaraan selanjutnya. Saya mulai mengajar dan memberikan materi berdasarkan slide yang sudah saya buat di laptop pagi tadi. Saya tulis kembali di papan tulis yang berwarna hitam dengan bertintakan kapur (sangat amat  jarang sekolah-sekolah di desa  menggunakan white board dan bertintakan spidol).Sekedar tambahan sedikit tentang spidol dan kapur tulis, sebenarnya lebih ramah lingkungan kapur tulis jika dibandingkan spidol, jika menggunakan spidol banyak bahan kimia yang kita hirup ke dalam tubuh sedangkan kapur tulis tidak mengandung bahan kimia kita hanya menghirup debu yang prosesnya berlangsung secara alamiah.

Kehadiran saya di kelas 5 cukup menyemarakkan suasana kelas, karena ternyata mereka menyukai metode yang saya gunakan dalam mengajar mereka, yakni serius dan santai. Jika sudah mulai gaduh suasana kelasnya maka saya meminta mereka untuk mencatat yang sudah tertulis di papan dan kemudian saya mengecek ke bangku mereka masing-masing (sok guru ceritanya..padahal gak ngecek2 banget..shock theraphy aja buat mereka) dan ketika suasana kelas tenang dan nyaman maka materi tentang komputer sekalian bahasa inggris pun dimasukkan (komputer dan bahasa inggris sulit dipisahkan karena istilah-istilah yang ada di komputer semuanya menggunakan bahasa inggris). Setelah terlihat sedikit membosankan dengan materi maka mengalihkan mereka dengan bermain semacam kuis-kuisan seputar komputer dan mengajak mereka nonton bareng sebuah film.

Sekitar jam 9an lewat, jam istirahat berbunyi yang berarti waktu kebebasan buat anak-anak SD untuk membebaskan diri dari belenggu pelajaran, saya pun undur diri dari kelas, tapi ternyata mereka meminta tambahan waktu agar saya memberikan materi tambahan (bingung mode on), saya pun berinisiatif memberikan materi tambahan berupa  belajar mengetik dan mengkopi lagu-lagu yang ada dalam laptop saya dan sesi pertanyaan apa saja yang berhubungan dengan komputer versi anak-anak (klo komputer tingkat dewasa saya nyerah deh..:D). Karena saya juga lapar dan rasa empati saya untuk anak-anak mendorong saya untuk menterminasi pelajaran komputer dan mempersilahkan mereka untuk beristirahat agar bisa segar kembali pada mata pelajaran selanjutnya.

Seusai mengajar kelas 5, saya masuk ke ruangan guru dan alhamdulillah di sana ada pembagian kue yang secara otomatis saya masuk dalam hitungan pembagian tersebut karena ada seorang guru yang melahirkan yang jika sudah memasuki hari ke 40 kelahiran bayinya ada pembagian kue kepada rekan-rekan gurunya. Walaupun saya tidak menjenguk, namun saya kebagian jatah (emang rejeki gak kemana…). Saya pun menikmati kue  sambil berbicang-bincang dengan guru-guru yang ada di dalam ruangan tersebut, karena saya yang paling baru maka pertanyaan pun banyak tertuju kepada saya, saya jawab dengan kapasitas dan kemampuan yang saya miliki dengan penambahan sedikit redaksional dari tante dan teman saya (terimakasih ya Rufah dan Lek Nur..).

Hal yang tidak terlupakan di kelas 5 ini adalah bahwa saya bertemu beberapa murid yang nakal (satu geng cowok2 nakal) tapi pintar dan iseng juga terhadap teman-teman ceweknya karena setiap saya tanyakan sesuatu dia pasti menjawab, seorang murid cowok gendut yang selalu mengenakan topi di dalam kelas dan kemudian saya memintanya untuk melepas topinya ketika di dalam kelas, beberapa murid cewek yang pemalu dan harus ditrigger agar berani berbicara serta mengingatkan mereka ketika mereka sudah kesal dengan teman-teman cowoknya yang iseng dan suka menggoda.

Kok malah mengajar kelas 4 ya???? 

Jam 10an kurang bel berbunyi lagi tanda istirahat sudah berakhir dan siswa dipersilahkan memasuki rkelasnya kembali. Saya berpikir bahwa saya sudah tidak ada jadwal mengajar lagi maka saya pun berinteraksi dengan salah satu guru yang kebetulan mengajar kelas 2, tiba-tiba tante saya meminta saya untuk mengisi kelasnya (kelas 4, yang kebetulan beliau adalah wali kelas 4 dan sekaligus pengajar mata pelajaran matematika saat itu). Sebelum masuk, seperti biasanya tante saya meminta siswa-siswinya agar tidak ramai dan memperkenalkan sedikit tentang saya kepada anak didiknya. Selepas itu, beliau meminta saya masuk dan mengisi kelas.

Pendelegasian ini terjadi karena tante saya ada urusan di luar kantor untuk merealisasikan program KLK (Kelas Layanan Khusus) yang dicanangkan oleh Diknas. Program KLK ini bertujuan untuk menjaring kembali siswa-siswa yang drop out atau putus sekolah untuk melanjutkan studinya kembali dengan biaya gratis. Untuk tahap awal ini, tante saya akan menjaring kurang lebih 20an siswa agar bisa masuk sekolah kembali dengan memberikan souvenir sembako kepada orang tua yang hadir pada acara pembukaan KLK yang akan diselenggrakan pada hari Jum’at (2 Januari 2008). Bagi guru, program KLK ini memberikan nilai tambah berupa penambahan gaji dan penambahan jam mengajar juga karena program KLK berlangsung seusai kelas reguler (default kelas reguler di sana adalah dari jam 97.30 Wib s.d 11.30 Wib, berarti KLK sekitar jam 12an). Program KLK tidak hanya diselenggarakan di Kabupaten Bangkalan, tapi juga di seluruh wilayah Indonesia, karena waktu itu tante saya pernah bercerita tentang pembahasan program KLK ini di Puncak, Bogor (entah..saya lupa tempatnya dimana..karena saya belum bisa menjangkau daerah sana waktu itu).

Untuk awal dan perkenalan, saya melakukan hal yang sama seperti yang pernah saya lakukan di kelas 5. Karena mereka masih mencatat mata pelajaran matematika untuk tugas di rumah maka saya memberikan kesempatan kepada mereka untuk mencatat dan sambil mengecek ke bangku masing-masing apakah mereka mencatat atau tidak, karena soal matematikanya begitu gampang rasanya saya tidak sabar untuk membahasnya namun dorongan batin tidak mengijinkan saya untuk melakukannya karena bagaimana mereka bisa maju jika tidak diberikan kesempatan untuk berpikir sendiri.

Selesai mencatat, kegaduhan pun terjadi dan saya pun bingung mengatasinya karena siswa-siswi kelas 4 ini lebih susah diatur dibandingkan kelas 5 (jadi teringat pernyataan teman saya klo ngajar kelas 1 harus makan dulu, ngajar kelas 4 juga demikian mungkin, tenaga yang saya dapatkan dari kue istirahat tadi masih terasa kurang untuk menenangkan mereka). Tante saya mendengar kegaduhan itu dan beliau pun masuk kelas lagi sebelum melanjutkan surveinya untuk mencari calon siswa KLK kemudian menjewer telinga siswa yang membuat kerusuhan sehingga suasana kelas pun aman terkendali karena siswa takut mendapatkan hal yang sama dari tante saya (dalam hati sebenernya tidak tega juga, namun apa daya kadang-kadang langkah fisik harus diterapkan untuk membuat siswa takut dan tidak mengulang kesalahannya kembali).  

Saya pun melanjutkan ke materi pengenalan komputer dengan menjelaskan secara garis besar tentang teknologi komputer, mereka serius mendengarkan. Dengan melihat respon semua siswa saya tahu bahwa kebanyakan dari mereka sudah mengantuk, karena paginya ada praktik pendidikan jasmani dan kesehatan kemudian dilanjutkan matematika dan pengenalan komputer pula. Untuk itulah, agar penyampaian materinya lebih menarik dan tidak membosankan saya pun menggiring mereka untuk mencoba satu per satu dengan membagi mereka ke dalam beberapa kelompok. Kelompok yang belum maju saya berikan tugas tertulis atas materi yang sudah disampaikan tadi. Tugas tersebut nantinya dibahas bersama-sama dan jika ada yang belum mengerti bisa menanyakannya langsung. Sedangkan kelompok yang maju, saya menjelaskan kepada mereka satu per satu tentang bagian-bagian laptop terdiri dari apa saja (dalam hal ini saya menjelaskan yang kelihatan dan sering dipakai saja, seperti monitor/LCD fungsinya apa, keyboard untuk apa, touchpad/mouse fungsinya apa) dan juga beberapa program applikasi yang umum digunakan oleh orang awam.

Kondisi pun tidak terkendali, setelah beberapa kelompok meyelesaikan tugas tertulisnya dan saya masih di depan mengajarkan kelompok yang sedang praktik maka suasana kelas pun jadi gaduh. Saya pun bingung dan berusaha menenangkan diri dulu sebelum menenangkan kelas. Selesai menenangkan diri, saya pun membahas tugas tadi dan kembali memberikan praktik kepada kelompok yang belum maju (hush..hush..hush..capek juga ngatur anak kecil..lebih baik menggunakan asisten jika kondisinya seperti ini karena yang satu bisa memberikan praktikum dan yang satu lagi menangani murid yang belum praktikum sehingga waktu pun lebih optimal dan produktif).

Sekitar jam 11, lonceng berbunyi menunjukkan jam untuk sekolah berakhir, murid-murid pun siap-siap pulang. Tidak seperti kelas 5, di kelas 4 ini murid-muridnya lebih ingin cepat-cepat pulang, saya pun mempersilahkan mereka untuk pulang, tapi sebelum pulang saya menyampaikan beberapa pernyataan kepada mereka "Terimakasih atas perhatian yang mereka berikan, Maaf jika ada hal-hal yang kurang berkenan atau menyakitkan, Selamat siang". Mereka pun mengatakan secara serentak "Ya bu"…..(…:)).

Setelah keluar dari kelas 4, saya bertemu dengan beberapa murid kelas 5 yang tadi pagi saya ajar, secara serempak mereka menyapa saya dengan ramahnya dan saya pun membalasnya dengan lebih ramah lagi tentunya dengan melemparkan senyum kepada mereka semua. Beberapa dari mereka meminta saya untuk mengajar lagi besoknya dan saya pun menjawab "InsyaAllah nanti ngajar lagi".

Sebelum perjalanan pulang menuju ke rumah, beberapa guru SDN Soket Dajah 1 mengajak bersilaturrahim ke salah satu kerabat gurunya juga yang baru pulang dari tanah suci Mekkah dan secara otomatis saya ikut juga karena tante saya juga ikut dalam rombongan itu. Alhamdulillah dari silaturrahim tersebut selain mendapatkan cerita tentang pengalamannya selama di Mekkah, kami juga mendapatkan oleh-oleh berupa kurma dan bergo. Dalam perjalanan menuju pangkalan angkot, tiba-tiba ada seorang anak kecil yang memanggil nama seseorang dengan sambil berteriak (biasa!!!namanya juga anak kecil), dia memanggil "Bu IIS", tante saya menyampaikan kepada saya bahwa ada yang memanggil dan saya pun menoleh dan dia adalah murid kelas 5 yang suka memakai topi di dalam kelas dengan perawakan gendut lucu. Saya pun balik menyapanya dan bertutur singkat dengannya kemudia melanjutkan perjalanan bersama rombongan guru-guru. Si anak kecil pun mengatakan lagi "Bu..ngajar lagi ya" dan saya hanya membalas dengan senyuman saja.

Hari kedua, mengajar kelas 6 dan kelas 5 lagi 

Karena esoknya (1 Januari 2008, libur tahun baru) sekolah libur, maka saya pun tidak ada jadwal mengajar dan saya pikir sudah tidak ada jadwal mengajar lagi. Tiba-tiba keesokan harinya, tante saya ke rumah mengenakan seragam kerjanya ke rumah untuk menjemput saya supaya bisa mengajar lagi ke sekolah dimana beliau bekerja. Saya pun terburu-buru dengan mengenakan kaos dan jaket serta bawahan tentunya. Dengan penampilan itu, spontan saya disemprot oleh beliau "MasyaAllah, ngajar kok pake kaos, kamu ini guru dilihat dan dinilai oleh murid-muridnya, nanti muridnya bilang kok gurunya kyk gini asal-asalan, sana ganti!!!". Saya pun terdiam sejenak dan berkata dan mengatakan kepada tante saya "Saya gak bawa baju lagi dr Jakarta". Tiba-tiba Ibu saya muncul dan mengatakan "banyak itu di lemarinya, males aja dia nyari-nyari, heran tuh anak memang, baju kayak serbet masih aja dipake, kpn berubahnya". Malas berdebat panjang, saya pun ganti kostum dan ternyata ketika saya bercermin tiba-tiba tante saya menyodorkan bros kecil untuk jilbab yang akan dikenakan oleh saya dan dengan sengaja beliau membawa dari rumahnya, menyaksikan hal ini saya pun tertawa dan mengatakan "gawat banget siy, kyk mo kemana aja", untuk menghormati pemberiannya saya pun memakainya sebagai pengganti peniti (tante saya tau..klo di rumah stok penitinya terbatas). Selesai beres-beres dan ganti pakaian, tante pun mengatakan "Nah gitu dunk!!! biar jadi contoh yang baik buat muridnya (padahal saya pake celana jeans), pake lipstik is biar lebih seger". Untuk permintaan ini saya mengatakan "Udah ah..ayo jalan..aku gak punya". Kami pun berangkat ke sekolah dengan sepeda motor. Tante saya bersama suaminya (om Hasin) yang kebetulan kantornya berdekatan dengan sekolah tante saya, sedangkan saya bersama dengan Rufah yang kebetulan si Rufah menunggu saya di depan rumah. Rufah memberikan kepercayaan kepada saya untuk membawa motornya sedangkan dia jadi penumpang.

Sesampai di sekolah, sang wali kelas 6 pun langsung mendelegasikan kelasnya kepada saya untuk diisi materi tentang komputer. Sebelum masuk kelas 6, seperti biasa sang wali kelas memperkenalkan secara singkat tentang profil saya (intinya niy ya…guru komputer). Selesai sang wali kelas memberikan sambutannya di kelas, saya pun masuk kelas dan membuka komunikasi lebih dekat lagi dengan adik-adik kecil. Tiba-tiba ada suara celetukan seorang siswa yang mengatakan "hai cantik", dalam hatipun saya berkata "wah calon-calon perayu niy", maka saya pun melangkahkan kaki ke bangkunya dan membalasnya dengan mengatakan "hai ganteng, boleh kenalan gak????". Karena hal inilah, siswa-siswi kelas 6 pun riuh dan sang siswa pun tersipu malu (masih kecil juga, udah bisa merayu, belajar yang rajin ya cong).

Untuk kelas 6 iklim belajar dan strategi penyajian materinya tidak terlalu berbeda dengan kelas-kelas sebelumnya. Hanya lebih diberikan kesempatan kepada mereka untuk lebih vokal lagi dalam mengekspresikan pendapatnya. Beberapa menit mengajar kelas 6 tiba-tiba sang kepala sekolah masuk ke dalam ruangan dan menginformasikan kepada saya bahwa akan ada pengontrolan dari pengawas sekolah, saya yang tidak tahu apa-apa hanya mengangguk-angguk saja dan selanjutnya sang pengawas pun masuk. Saya mempersilahkan beliau untuk duduk (saya berdiri dengan memberikan tempat duduk saya). Beliau menanyakan demikian :

Sang pengawas : Berapa jumlah siswa (sambil menghadap ke murid2 di dalam kelas)
Saya : diam sejenak (dalam hati.."menegetehe" baru juga ngajar)
saya pun melemparkan pertanyaan beliau ke murid-murid dan sang pemegang absen (sekretaris, red) menjawab.
Sang Pengawas : Berapa yang tidak masuk???
Saya : alamak ("menegetehe lagi")
Murid-murid pun inisiatif menjawab.
Sang pengawas : Ibu ngajar komputer kan???(saya mengangguk), jadi sebelum ngajar dicek dulu absennya, berapa yang gak masuk, berapa jumlah muridnya, karena itu salah satu kunci buat mengajar (hmmm..guman saya..ilmu baru niy..walaupun pada awalnya merasa kyk yang diadili…tapi inilah seninya bagi saya ‘menghadapi suatu hal yang belum pernah saya prediksi).
Sang pengawas pun keluar dan saya ucapkan terimakasih kepada beliau. Selesai mengajar kelas 6, saya pun menuju ke ruang guru dengan sambil bercerita dan membuka pandangan saya terhadap perjuangan seorang guru desa yang menurut saya gampang-gampang susah (susah saya menjelaskannya dengan kata-kata karena terlalu kompleks substansi narasinya).

Tet…jam istirahat pun berakhir dan saya harus mengajar lagi di kelas 5, melihat sosok saya masuk kelas 5, murid-murid pun riuh dan berkata "hore…bu IIS lagi" (berasa artis aja klo kyk gini…hehehehehehe). Saya pun membalas dengan senyuman dan menanyakan "apakabar semuanya", dengan serempak mereka menjawab "baik bu". Dalam deretan kalimat ini saya tidak ingin membahas tentang materi komputer tapi saya lebih ingin memotivasi mereka untuk terus melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi dengan harapan dapat memberikan perbaikan ke lingkungan sekitar. Dalam hal ini saya menanyakan secara random tentang "cita-citanya pengen jadi apa", alangkah kagetnya ketika saya mendengar bahwa mereka mengatakan tidak punya cita-cita. Saya pun menggiring mereka agar bisa membayangkan dirinya akan menjadi apa, setelah saya giring dengan beberapa pernyataan inspiratif maka mereka pun ada yang mengatakan "pengen jadi guru".."pengen jadi polisi".."pengen kuliah"..dll (gitu dunk!!!emang cita2 punya orang kota doang..anak desa pun wajib hukumnya punya cita2). Saya katakan kepada mereka bahwa tidak perlu malu darimana kita berasal, yang penting kita sudah punya keinginan dan harapan untuk maju insyaAllah akan selalu ada jalan. Dan satu hal lagi saya ingatkan kepada mereka jangan lupa sama yang diatas juga, kemanapun pergi harus selalu ingat kepadaNya dan juga jangan suka melawan orang tua. 

Saya pun mohon diri ke siswa-siswi di kelas 5, karena beberapa hari lagi saya sudah harus kembali ke Jakarta untuk melanjutkan aktivitas saya kembali (kuliah, cisco dan mencari kerjanya tentunya) dan meminta do’a juga kepada mereka (minta do’a ke siapa saja karena siapa tau permintaan orang tersebut yang diijabah) agar diberikan kemudahan dan kelancaran dalam studi dan kerjaan saya dan juga bisa bertemu kembali dengan mereka agar bisa mengajar lagi di sana. Selain itu, saya juga mengatakan kepada mereka jika suatu hari nanti mereka pergi ke Jakarta jangan lupa hubungi seluler saya siapa tahu ada yang bisa saya bantu atau saya yang dibantu mereka. Dengan serempak mereka menjawab "yaaaaaaaaah..ibu kok ngajar lagi", saya pun menjawab "iya nanti klo ada libur lagi ya".

"SEKOLAH IBARAT GARAM… DAN KEHIDUPAN ADALAH SAYURNYA…dan para guru adalah pembuat garamnya….Orang-orang yang mengatakan sekolah tidak perlu dan sekolah adalah penjara, saya yakin mereka adalah orang yang trauma pada gurunya, jadi guru mereka tak berhasil membuat garam. Alhamdulillah saya selalu punya guru pembuat garam yang baik disetiap jenjang….Guru yang kemudian menginspirasi hidup saya sekarang….SO…SEKOLAH INDAH, JIKA KETEMU GURU INSPIRING…."Saya mendapatkan ungkapan ini dari sebuah blog…maaf sang author saya lupa menampilkan situs address blog anda (terimakasih ya..semoga bisa dihayati maknanya oleh kita semua).

Akhirnya CCNA juga

Filed under: My Voice, CISCO-CCNA
Alhamdulillah, awal juni beberapa minggu yang lalu tiba-tiba saya mendapatkan kiriman dari benua seberang sana (Amerika, red). Penasaran dengan isinya, lantas saya pun membukanya dan aha….isinya adalah sertifikat CCNA hasil ujian internasional prometrik bulan lalu. Dengan sertifikat ini, saya pun mendapat gelar tambahan "CCNA" (padahal udah agak lupa juga tuh materi ccna..jadi malu sama diri sendiri).
 
Tulisan ini pun sebenarnya terinspirasi dari bos saya (Bang Ben, red) yang secara rutin mangkal di Daan Mogot setiap hari Kamis. Beliau menanyakan demikian :
Bang Ben : Is, udah dapet sertifikasi CCNA bukan???
Saya : Belum pak, nanti tanggal 27 Juni 2008 baru wisuda
Bang Ben : Lah katanya kamu udah ikut ujian internasionalnya, kan biasanya dikirim langsung dari Cisco sananya
Saya : ckckckckckckck..yang mana ya Pak??? (lupa kali ya)
Bang Ben : yang ada kartunya itu
Saya :..I got it…ouw yang itu pak…iya udah dapet, saya pikir sertifikat yang dari binus center setiap semester (kebetulan saya mengikuti pelatihan ini dalam 4 semester, kurang lebih 1 tahun).
Bang Ben : Ntar klo ada orang VSAT nanya2 konfigurasi router kamu bantuin ya, kamu kan bisa
Saya : Agak lupa siy pak, tapi klo ngecek routing table, konfigurasi terminal yang gak jelimet mungkin masih inget
Bang Ben : Ya ntar kamu bantuin
Saya : Klo saya bisa jawab, saya bantuin (sambil tersenyum).
 
Saya baru ingat jika saya saya sudah mendapatkan sertifikat itu karena sertifikat berlokasi diantara tumpukan majalah-majalah di bawah meja komputer dan peripheral yang lain (Thx bang Ben udah mengingatkan saya).
 
Semoga bisa memanfaatkan ilmu yang sudah dipeoleh ini dengan sebaik-baiknya dan berguna untuk orang lain juga. Jika ada yang kurang saya pahami selama dalam masa training semoga sang maha Pemberi Ilmu mengilhaminya kepada saya sehingga saya pun bisa lebih menambah pemahaman saya tentang ilmu ini. 
 

June 17, 2008

Pada Hijrah Ke Singapura

Filed under: My Voice, HIMTEK, Teman

Hi semua!!!!Pakabar????Udah lama juga tak bersua dengan "rumah virtual" ini karena kesibukan yang tidak bisa ditolerir dan mencoba untuk mengalihkan tulisan ke "rumah tetangga virtual" yang lain (milis, red) dengan alasan supaya keberadaan milis lebih hidup dan eksis.

Well, sekarang mau menuliskan tentang hijrahnya teman-teman seangkatan (2003, red) jurusan Sistem Komputer ke Singapura. Banyak beberapa alasan yang melatar belakangi mereka ke sana, mulai dari mencari tantangan baru, menjemput sang soulmate smapai dan alasan yang terakhir tak lain adalah mencari pekerjaan yang layak tentunya.

Ditriggeri oleh Gita Nangoy yang meninggalkan karir ke-aslab-annya demi mencari kerja dan menyusul sang pujaan hati di sana (yang sekarang sudah menjadi suaminya), kemudian disusul oleh Agus (dikenal dengan agus BNAC), kemudian Yaya (Mutia, red) dan katanya akan menyusul beberapa bulan yang akan datang si ncek (antoni, red) dan mungkin beberapa teman yang lain.Hmmmmmm…saya kemana ya????akankah mengikuti jejak mereka ataukah mencari benua yang lain supaya persebaran anak SK lebih merata di seluruh benua di dunia ini (lebai mode : ON) tau mungkin benua Madura saja (hehehehehehhe).

Berikut adalah Foto-foto sebelum Yaya pergi ke Singapura yang mengambil lokasi di pusat perbelanjaan terbesar di daerah Jakarta Barat, apalagi jika bukan MALL TAMAN ANGGREK (kata teman-teman "Binus Banget" noleh ke kiri..noleh ke kanan pasti ktemu anak Binus dan kebetulan waktu itu ktemu ama Junior SK’06 yang sedang menanti sesuatu di sekitar area Ice Skating, berhubung mereka menganggur, saya meminta mereka untuk mengambil gambar kami :

 

Kiri ke Kanan, Nda-Is-Ti-Vik-Pik-Ya

Ini bukan berlokasi di Ice Skating tapi di Popeye, sambil makan sambil foto-foto (pantesan pada seger2 mukanya..kenyang siy..coba klo gak..pasti kucel n loyo deh).

to be c o n t i n u e d……… 






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by B A Khan