My Virtual Voice

June 19, 2008

Menjadi Guru SD (Bagian2-Habis)

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Menjadi Guru SD di Soket Dajah 1, Kecamatan Tragah, Bangkalan

SDN SOKET DAJAH 1 Kelas 5 

Melanjutkan cerita saya tentang pengalaman menjadi guru SD, kali ini saya akan menceritakan tentang pengalaman saya menjadi guru SD di Kecamatan Tragah tepatnya di SDN Soket Dajah 1. Sudah merupakan hukum alam bahwa sekolah yang mengandung angka tunggal dan merupakan permulaan angka pasti sekolah yang bagus dan favorit, contohnya : SDN Burneh 1 (itu SD saya, terfavorit di Burneh), SLTPN 1 Bangkalan (Bukan SMP saya, tapi sangat difavoritkan oleh siswa di Bangkalan dan sekitarnya, SMP saya adalah SLTPN 4 Bangkalan…lumayan terkenal juga di Bangkalan karena fasilitas sekolahnya yang lengkap dibandingkan dengan SMP-SMP yang lain), SMUN 1 Bangkalan (beh!!!!..siapa yang tidak kenal SMU ini, jangankan orang Madura..di luar Madura pun banyak yang tahu prestasi sekolah ini…"lebai mode : ON").

Sedikit overview tentang SDN ini. Secara prestasi, SD ini sangat terkenal di kecamatan Tragah dengan prestasi akademis dan non akademis dari murid-muridnya. Sedangkan secara geografis sekolah ini masih masuk dalam kawasan kabupaten Bangkalan kecamatan Tragah dengan jarak tempuh dengan menggunakan transportasi publik (namanya : Colt) sekitar 25 menitan (ini dari rumah saya) dengan kondisi wilayah yang hampir sebagian besar adalah persawahan. Melewati wilayah ini terasa begitu segar dan tenangnya karena bisa menikmati nikmat Allah berupa alam pedesaan yang anti polusi. Sekolah ini berada dalam satu area dengan SDN Soket Dajah 2 (gak jauh beda klo gitu dengan SD saya dulu, jadi inget kenakalan waktu SD dulu..sekolah kami sering berantem dengan SDN tetangga/SDN Burneh 2, mulai dari lempar-lemparan batu, pasir sampai dengan lempar-lemparan kata…Astaghfirullah!!!semoga anak-anak yang sekarang gak kayak gitu lagi). Kenaturalan dari wilayah ini yang membuat saya tertarik untuk menjangkau ke sana, bisa melihat sawah yang menghijau, matahari yang bersinar dengan adilnya membagikan sinarnya untuk membantu proses fotosintesis di kehijauan area di sana, oksigen yang masih segar dengan minimal kontaminasi dari zat-zat beracun dan berbahaya, pohon-pohon yang berdiri tegak di sepanjang jalan, langit biru yang bercampur putih benar-benar terlihat dengan indahnya.

Saya mendapatkan link sekolah ini dari tante saya (adik bungsu Ibu saya, yang biasanya saya panggil "Lek Nur"). Beliau adalah guru senior di sana yang sudah hampir 20 tahunan mengabdi sebagai pahlawan tanpa jasa sehingga tidak sulit bagi saya untuk merelisasikan hal ini. Lek nur yang menghubungkan saya dengan kepala sekolah (kebetulan saya tidak bertemu langsung, beliau lah yang membuka wacana langsung tentang niat saya ini). Dengan keyakinan bahwa niat baik ini akan diterima. Beberapa jam kemudian (tepatnya siang hari selepas pulang kantor-antara jam 1/2an siang) beliau menginformasikan kepada saya bahwa kepala sekolahnya mengijinkan saya untuk mengajar di sana (yeah….hore…liburan yang bermakna terulang kembali).

Untuk kapan jadwal dimulainya saya mengajar, hal ini sepenuhnya saya pasrahkan kepada tante saya (yang jelas sebelum saya kembali ke Jakarta dan sebelum pernikahan sepupu saya di Surabaya, karena jika sudah di Surabaya saya jadi malas bolak-balik Madura-Surabaya apalgi geografis sekolah dimana tante saya bekerja masuk dalam level "remote area"). Tante saya sepakat dan beliaulah yang menyusun jadwal mengajar.

Sekitar tanggal 31 Desember 2007 saya memulai untuk mengajar, sebenarnya saya sendiri kurang tahu dan siap jika saya akan mengajar hari itu. Pagi-pagi lek nur menelpon ke rumah agar saya bersiap-siap karena kita akan berangkat jam 7 (jam masuk kelas sekolah adalah jam 7.30 pagi), agak "kaget nyantai" saya pun mempersiapkan diri dengan membuat beberapa halaman slide tentang pengenalan komputer. Jika di Sekolah sebelumnya (baca : menjadi guru SD-bagian 1) saya tidak mempersiapkan slide, maka perbaikan dari  sebelumnya adalah saya melakukan  persiapan pembuatan slide pengenalan komputer secara garis besar saja untuk dijadikan pegangan ketika saya mengajar nanti (tanpa slide sebenarnya bisa mengalir apa adanya dengan hanya melihat seonggok laptop yang terbaring dengan nyenyaknya di tas ransel saya).

Tante saya datang ke rumah dengan seragam keki-nya (seragam keki–> seragam pegawai negeri yang berwarna coklat, jika seragam hansip–>seragam yang berwarna hijau yang kata tante saya sekarang sudah jarang dipakai lagi) dengan dibalut jilbab di kepalanya. Masuk ke pertapaan saya (baca : Ruangan Favorit saya di rumah) dan melihat saya masih dalam keadaan mengenakan baju tidur dan belum mandi. Tante saya pun sedikit memarahi saya dan meminta saya untuk cepat-cepat (kebiasaan!!!!"ujarnya"…kemarahan two in one pun terjadi–>ibu dan tante saya menyuruh saya cepat-cepat). Kali ini ibu aura ibu saya sangat senang melihat kesibukan saya ini, jika sebelumnya agak dilarang karena kondisi cuaca dan geografis yang sangat terpencil maka untuk kali ini ibu saya merasa tidak khawatir lagi karena ada tante saya.

Kebetulan kami tidak berdua saja perginya ke sekolah, karena ternyata tante saya ditemani oleh teman sekantornya yang juga teman sepermainan, sekampung dan satu sekolah saya dulu. Dia menjadi guru honorer di sekolah tante saya. Kegiatan ini pun menjadi penyambung tali silaturrahim dengan dia yang walaupun sekampung namun kami sangat amat jarang bertemu, dalam perjalanan menuju sekolah banyak hal yang dia ceritakan berkaitan dengan kesibukannya sebagai ibu rumah tangga sekaligus guru, aktivitas suaminya yang banyak di Surabaya, pengalamannya selama mengajar anak-anak SD terutama pernyataan dia yang tidak pernah bisa saya lupakan, yaitu "klo ngajar kelas 1 harus makan dulu soalnya bikin cepet laper" dan pembicaraan-pembicaraan yang lain yang cukup inspiratif dan akomodatif untuk menjadi pengajar sesaat di sekolah sana.

Ada hal yang menarik ketika kami berada dalam angkutan umum menuju ke SD Tragah, yaitu ada seorang penjual yang entah akan membawa barang dagangannya ke pasar ataukah sudah selesai berdagang dari pasar. Karena mayoritas di dalam angkutan tersebut adalah ibu-ibu guru yang saling mengenal satu sama lain maka transaksi pun terjadi di dalam mobil angkutan tersebut (seolah-olah saya sedang berada di pasar saja saat itu) dan saya pun keheranan melihat hal tersebut dengan menanyakannya kepada teman saya. Dia berkata demikian :
Rufah : "udah biasa itu is, biasanya juga guru-guru belanja di dalam mobil"
saya : "ouw gt ya" (sambil menyaksikan adegan transaksi yang mereka lakukan)
teman : "Klo belanja ke pasar takutnya gak kebagian ato udah habis karena kesiangan makanya belanja yang ada di dpn mata biar nanti gak usah repot-repot ke pasar"
saya : "ya bener"
Transaksi pun berakhir seiring dengan turunnya sang penjual di sebuah pasar yang jaraknya tak jauh dari tempat kami memberhentikan mobil angkutan tadi. 

Kami sampai di sekolah kira-kira jam 7.30 lewat sedikit, masih belum terlalu ramai ruangan guru di sana, hanya ada kepala sekolah dan  guru piket. Sebelum memulai mengajar, etika dan etiket pun diterapkan dengan cara membuka komunikasi dengan kepala sekolah dan memperkenalkan diri serta memberikan ulasan singkat tentang maksud dan tujuan mengajar di sana, kemudian saya diperkenalkan kepada guru-guru yang lain, baik yang sudah datang dari tadi maupun yang baru datang. Alhamdulillah, bertemu dengan komunitas baru lagi yang membuat pemikiran dan pandangan saya menjadi semakin terbuka dan jadi lebih mengetahui kehidupan guru di desa, keluh kesah mereka selama di kantor terkait dengan urusan rumah tangga dan urusan yang lain, perjuangan dan pengalaman mereka dalam mengabdikan diri menjadi pahlawan tanpa tanda jasa, sosialisasi dengan masyarakat sekitar dan aspek-aspek kemausiaan yang lain yang saya dapatkan dari penuturan  mereka.

Hari pertama, Mengajar kelas 5 SD 

Hari itu, sekitar jam 8an saya masuk kelas dan mengajar teman-teman kecil saya di kelas 5. Sebelum masuk ke kelas tersebut, seperti biasanya tante saya memberikan kemudahan kepada saya dengan memberikan penjelasan singkat kepada murid-murid yang ada di sana bahwa akan ada guru baru yang akan mengajar komputer dan mereka diminta mencatat, mendengar, memperhatikan dan jangan ramai. Mendengar penjelasan yang diberikan oleh tante saya dari luar ruangan kelas saya senyum-senyum sayup mendengarnya. Saya pun masuk dan mulai melebur dengan teman-teman kecil saya di kelas 5.

Perkenalan diri dengan menggunakan bahasa anak-anak yang bisa dimengerti dan harus banyak berhenti di penggalan pernyataan tertentu untuk memberikan kesempatan kepada mereka dalam mengartikan pernyataan yang telah dituturkan. Ketika raut mukanya sudah normal, maka dilanjutkan ke pembicaraan selanjutnya. Saya mulai mengajar dan memberikan materi berdasarkan slide yang sudah saya buat di laptop pagi tadi. Saya tulis kembali di papan tulis yang berwarna hitam dengan bertintakan kapur (sangat amat  jarang sekolah-sekolah di desa  menggunakan white board dan bertintakan spidol).Sekedar tambahan sedikit tentang spidol dan kapur tulis, sebenarnya lebih ramah lingkungan kapur tulis jika dibandingkan spidol, jika menggunakan spidol banyak bahan kimia yang kita hirup ke dalam tubuh sedangkan kapur tulis tidak mengandung bahan kimia kita hanya menghirup debu yang prosesnya berlangsung secara alamiah.

Kehadiran saya di kelas 5 cukup menyemarakkan suasana kelas, karena ternyata mereka menyukai metode yang saya gunakan dalam mengajar mereka, yakni serius dan santai. Jika sudah mulai gaduh suasana kelasnya maka saya meminta mereka untuk mencatat yang sudah tertulis di papan dan kemudian saya mengecek ke bangku mereka masing-masing (sok guru ceritanya..padahal gak ngecek2 banget..shock theraphy aja buat mereka) dan ketika suasana kelas tenang dan nyaman maka materi tentang komputer sekalian bahasa inggris pun dimasukkan (komputer dan bahasa inggris sulit dipisahkan karena istilah-istilah yang ada di komputer semuanya menggunakan bahasa inggris). Setelah terlihat sedikit membosankan dengan materi maka mengalihkan mereka dengan bermain semacam kuis-kuisan seputar komputer dan mengajak mereka nonton bareng sebuah film.

Sekitar jam 9an lewat, jam istirahat berbunyi yang berarti waktu kebebasan buat anak-anak SD untuk membebaskan diri dari belenggu pelajaran, saya pun undur diri dari kelas, tapi ternyata mereka meminta tambahan waktu agar saya memberikan materi tambahan (bingung mode on), saya pun berinisiatif memberikan materi tambahan berupa  belajar mengetik dan mengkopi lagu-lagu yang ada dalam laptop saya dan sesi pertanyaan apa saja yang berhubungan dengan komputer versi anak-anak (klo komputer tingkat dewasa saya nyerah deh..:D). Karena saya juga lapar dan rasa empati saya untuk anak-anak mendorong saya untuk menterminasi pelajaran komputer dan mempersilahkan mereka untuk beristirahat agar bisa segar kembali pada mata pelajaran selanjutnya.

Seusai mengajar kelas 5, saya masuk ke ruangan guru dan alhamdulillah di sana ada pembagian kue yang secara otomatis saya masuk dalam hitungan pembagian tersebut karena ada seorang guru yang melahirkan yang jika sudah memasuki hari ke 40 kelahiran bayinya ada pembagian kue kepada rekan-rekan gurunya. Walaupun saya tidak menjenguk, namun saya kebagian jatah (emang rejeki gak kemana…). Saya pun menikmati kue  sambil berbicang-bincang dengan guru-guru yang ada di dalam ruangan tersebut, karena saya yang paling baru maka pertanyaan pun banyak tertuju kepada saya, saya jawab dengan kapasitas dan kemampuan yang saya miliki dengan penambahan sedikit redaksional dari tante dan teman saya (terimakasih ya Rufah dan Lek Nur..).

Hal yang tidak terlupakan di kelas 5 ini adalah bahwa saya bertemu beberapa murid yang nakal (satu geng cowok2 nakal) tapi pintar dan iseng juga terhadap teman-teman ceweknya karena setiap saya tanyakan sesuatu dia pasti menjawab, seorang murid cowok gendut yang selalu mengenakan topi di dalam kelas dan kemudian saya memintanya untuk melepas topinya ketika di dalam kelas, beberapa murid cewek yang pemalu dan harus ditrigger agar berani berbicara serta mengingatkan mereka ketika mereka sudah kesal dengan teman-teman cowoknya yang iseng dan suka menggoda.

Kok malah mengajar kelas 4 ya???? 

Jam 10an kurang bel berbunyi lagi tanda istirahat sudah berakhir dan siswa dipersilahkan memasuki rkelasnya kembali. Saya berpikir bahwa saya sudah tidak ada jadwal mengajar lagi maka saya pun berinteraksi dengan salah satu guru yang kebetulan mengajar kelas 2, tiba-tiba tante saya meminta saya untuk mengisi kelasnya (kelas 4, yang kebetulan beliau adalah wali kelas 4 dan sekaligus pengajar mata pelajaran matematika saat itu). Sebelum masuk, seperti biasanya tante saya meminta siswa-siswinya agar tidak ramai dan memperkenalkan sedikit tentang saya kepada anak didiknya. Selepas itu, beliau meminta saya masuk dan mengisi kelas.

Pendelegasian ini terjadi karena tante saya ada urusan di luar kantor untuk merealisasikan program KLK (Kelas Layanan Khusus) yang dicanangkan oleh Diknas. Program KLK ini bertujuan untuk menjaring kembali siswa-siswa yang drop out atau putus sekolah untuk melanjutkan studinya kembali dengan biaya gratis. Untuk tahap awal ini, tante saya akan menjaring kurang lebih 20an siswa agar bisa masuk sekolah kembali dengan memberikan souvenir sembako kepada orang tua yang hadir pada acara pembukaan KLK yang akan diselenggrakan pada hari Jum’at (2 Januari 2008). Bagi guru, program KLK ini memberikan nilai tambah berupa penambahan gaji dan penambahan jam mengajar juga karena program KLK berlangsung seusai kelas reguler (default kelas reguler di sana adalah dari jam 97.30 Wib s.d 11.30 Wib, berarti KLK sekitar jam 12an). Program KLK tidak hanya diselenggarakan di Kabupaten Bangkalan, tapi juga di seluruh wilayah Indonesia, karena waktu itu tante saya pernah bercerita tentang pembahasan program KLK ini di Puncak, Bogor (entah..saya lupa tempatnya dimana..karena saya belum bisa menjangkau daerah sana waktu itu).

Untuk awal dan perkenalan, saya melakukan hal yang sama seperti yang pernah saya lakukan di kelas 5. Karena mereka masih mencatat mata pelajaran matematika untuk tugas di rumah maka saya memberikan kesempatan kepada mereka untuk mencatat dan sambil mengecek ke bangku masing-masing apakah mereka mencatat atau tidak, karena soal matematikanya begitu gampang rasanya saya tidak sabar untuk membahasnya namun dorongan batin tidak mengijinkan saya untuk melakukannya karena bagaimana mereka bisa maju jika tidak diberikan kesempatan untuk berpikir sendiri.

Selesai mencatat, kegaduhan pun terjadi dan saya pun bingung mengatasinya karena siswa-siswi kelas 4 ini lebih susah diatur dibandingkan kelas 5 (jadi teringat pernyataan teman saya klo ngajar kelas 1 harus makan dulu, ngajar kelas 4 juga demikian mungkin, tenaga yang saya dapatkan dari kue istirahat tadi masih terasa kurang untuk menenangkan mereka). Tante saya mendengar kegaduhan itu dan beliau pun masuk kelas lagi sebelum melanjutkan surveinya untuk mencari calon siswa KLK kemudian menjewer telinga siswa yang membuat kerusuhan sehingga suasana kelas pun aman terkendali karena siswa takut mendapatkan hal yang sama dari tante saya (dalam hati sebenernya tidak tega juga, namun apa daya kadang-kadang langkah fisik harus diterapkan untuk membuat siswa takut dan tidak mengulang kesalahannya kembali).  

Saya pun melanjutkan ke materi pengenalan komputer dengan menjelaskan secara garis besar tentang teknologi komputer, mereka serius mendengarkan. Dengan melihat respon semua siswa saya tahu bahwa kebanyakan dari mereka sudah mengantuk, karena paginya ada praktik pendidikan jasmani dan kesehatan kemudian dilanjutkan matematika dan pengenalan komputer pula. Untuk itulah, agar penyampaian materinya lebih menarik dan tidak membosankan saya pun menggiring mereka untuk mencoba satu per satu dengan membagi mereka ke dalam beberapa kelompok. Kelompok yang belum maju saya berikan tugas tertulis atas materi yang sudah disampaikan tadi. Tugas tersebut nantinya dibahas bersama-sama dan jika ada yang belum mengerti bisa menanyakannya langsung. Sedangkan kelompok yang maju, saya menjelaskan kepada mereka satu per satu tentang bagian-bagian laptop terdiri dari apa saja (dalam hal ini saya menjelaskan yang kelihatan dan sering dipakai saja, seperti monitor/LCD fungsinya apa, keyboard untuk apa, touchpad/mouse fungsinya apa) dan juga beberapa program applikasi yang umum digunakan oleh orang awam.

Kondisi pun tidak terkendali, setelah beberapa kelompok meyelesaikan tugas tertulisnya dan saya masih di depan mengajarkan kelompok yang sedang praktik maka suasana kelas pun jadi gaduh. Saya pun bingung dan berusaha menenangkan diri dulu sebelum menenangkan kelas. Selesai menenangkan diri, saya pun membahas tugas tadi dan kembali memberikan praktik kepada kelompok yang belum maju (hush..hush..hush..capek juga ngatur anak kecil..lebih baik menggunakan asisten jika kondisinya seperti ini karena yang satu bisa memberikan praktikum dan yang satu lagi menangani murid yang belum praktikum sehingga waktu pun lebih optimal dan produktif).

Sekitar jam 11, lonceng berbunyi menunjukkan jam untuk sekolah berakhir, murid-murid pun siap-siap pulang. Tidak seperti kelas 5, di kelas 4 ini murid-muridnya lebih ingin cepat-cepat pulang, saya pun mempersilahkan mereka untuk pulang, tapi sebelum pulang saya menyampaikan beberapa pernyataan kepada mereka "Terimakasih atas perhatian yang mereka berikan, Maaf jika ada hal-hal yang kurang berkenan atau menyakitkan, Selamat siang". Mereka pun mengatakan secara serentak "Ya bu"…..(…:)).

Setelah keluar dari kelas 4, saya bertemu dengan beberapa murid kelas 5 yang tadi pagi saya ajar, secara serempak mereka menyapa saya dengan ramahnya dan saya pun membalasnya dengan lebih ramah lagi tentunya dengan melemparkan senyum kepada mereka semua. Beberapa dari mereka meminta saya untuk mengajar lagi besoknya dan saya pun menjawab "InsyaAllah nanti ngajar lagi".

Sebelum perjalanan pulang menuju ke rumah, beberapa guru SDN Soket Dajah 1 mengajak bersilaturrahim ke salah satu kerabat gurunya juga yang baru pulang dari tanah suci Mekkah dan secara otomatis saya ikut juga karena tante saya juga ikut dalam rombongan itu. Alhamdulillah dari silaturrahim tersebut selain mendapatkan cerita tentang pengalamannya selama di Mekkah, kami juga mendapatkan oleh-oleh berupa kurma dan bergo. Dalam perjalanan menuju pangkalan angkot, tiba-tiba ada seorang anak kecil yang memanggil nama seseorang dengan sambil berteriak (biasa!!!namanya juga anak kecil), dia memanggil "Bu IIS", tante saya menyampaikan kepada saya bahwa ada yang memanggil dan saya pun menoleh dan dia adalah murid kelas 5 yang suka memakai topi di dalam kelas dengan perawakan gendut lucu. Saya pun balik menyapanya dan bertutur singkat dengannya kemudia melanjutkan perjalanan bersama rombongan guru-guru. Si anak kecil pun mengatakan lagi "Bu..ngajar lagi ya" dan saya hanya membalas dengan senyuman saja.

Hari kedua, mengajar kelas 6 dan kelas 5 lagi 

Karena esoknya (1 Januari 2008, libur tahun baru) sekolah libur, maka saya pun tidak ada jadwal mengajar dan saya pikir sudah tidak ada jadwal mengajar lagi. Tiba-tiba keesokan harinya, tante saya ke rumah mengenakan seragam kerjanya ke rumah untuk menjemput saya supaya bisa mengajar lagi ke sekolah dimana beliau bekerja. Saya pun terburu-buru dengan mengenakan kaos dan jaket serta bawahan tentunya. Dengan penampilan itu, spontan saya disemprot oleh beliau "MasyaAllah, ngajar kok pake kaos, kamu ini guru dilihat dan dinilai oleh murid-muridnya, nanti muridnya bilang kok gurunya kyk gini asal-asalan, sana ganti!!!". Saya pun terdiam sejenak dan berkata dan mengatakan kepada tante saya "Saya gak bawa baju lagi dr Jakarta". Tiba-tiba Ibu saya muncul dan mengatakan "banyak itu di lemarinya, males aja dia nyari-nyari, heran tuh anak memang, baju kayak serbet masih aja dipake, kpn berubahnya". Malas berdebat panjang, saya pun ganti kostum dan ternyata ketika saya bercermin tiba-tiba tante saya menyodorkan bros kecil untuk jilbab yang akan dikenakan oleh saya dan dengan sengaja beliau membawa dari rumahnya, menyaksikan hal ini saya pun tertawa dan mengatakan "gawat banget siy, kyk mo kemana aja", untuk menghormati pemberiannya saya pun memakainya sebagai pengganti peniti (tante saya tau..klo di rumah stok penitinya terbatas). Selesai beres-beres dan ganti pakaian, tante pun mengatakan "Nah gitu dunk!!! biar jadi contoh yang baik buat muridnya (padahal saya pake celana jeans), pake lipstik is biar lebih seger". Untuk permintaan ini saya mengatakan "Udah ah..ayo jalan..aku gak punya". Kami pun berangkat ke sekolah dengan sepeda motor. Tante saya bersama suaminya (om Hasin) yang kebetulan kantornya berdekatan dengan sekolah tante saya, sedangkan saya bersama dengan Rufah yang kebetulan si Rufah menunggu saya di depan rumah. Rufah memberikan kepercayaan kepada saya untuk membawa motornya sedangkan dia jadi penumpang.

Sesampai di sekolah, sang wali kelas 6 pun langsung mendelegasikan kelasnya kepada saya untuk diisi materi tentang komputer. Sebelum masuk kelas 6, seperti biasa sang wali kelas memperkenalkan secara singkat tentang profil saya (intinya niy ya…guru komputer). Selesai sang wali kelas memberikan sambutannya di kelas, saya pun masuk kelas dan membuka komunikasi lebih dekat lagi dengan adik-adik kecil. Tiba-tiba ada suara celetukan seorang siswa yang mengatakan "hai cantik", dalam hatipun saya berkata "wah calon-calon perayu niy", maka saya pun melangkahkan kaki ke bangkunya dan membalasnya dengan mengatakan "hai ganteng, boleh kenalan gak????". Karena hal inilah, siswa-siswi kelas 6 pun riuh dan sang siswa pun tersipu malu (masih kecil juga, udah bisa merayu, belajar yang rajin ya cong).

Untuk kelas 6 iklim belajar dan strategi penyajian materinya tidak terlalu berbeda dengan kelas-kelas sebelumnya. Hanya lebih diberikan kesempatan kepada mereka untuk lebih vokal lagi dalam mengekspresikan pendapatnya. Beberapa menit mengajar kelas 6 tiba-tiba sang kepala sekolah masuk ke dalam ruangan dan menginformasikan kepada saya bahwa akan ada pengontrolan dari pengawas sekolah, saya yang tidak tahu apa-apa hanya mengangguk-angguk saja dan selanjutnya sang pengawas pun masuk. Saya mempersilahkan beliau untuk duduk (saya berdiri dengan memberikan tempat duduk saya). Beliau menanyakan demikian :

Sang pengawas : Berapa jumlah siswa (sambil menghadap ke murid2 di dalam kelas)
Saya : diam sejenak (dalam hati.."menegetehe" baru juga ngajar)
saya pun melemparkan pertanyaan beliau ke murid-murid dan sang pemegang absen (sekretaris, red) menjawab.
Sang Pengawas : Berapa yang tidak masuk???
Saya : alamak ("menegetehe lagi")
Murid-murid pun inisiatif menjawab.
Sang pengawas : Ibu ngajar komputer kan???(saya mengangguk), jadi sebelum ngajar dicek dulu absennya, berapa yang gak masuk, berapa jumlah muridnya, karena itu salah satu kunci buat mengajar (hmmm..guman saya..ilmu baru niy..walaupun pada awalnya merasa kyk yang diadili…tapi inilah seninya bagi saya ‘menghadapi suatu hal yang belum pernah saya prediksi).
Sang pengawas pun keluar dan saya ucapkan terimakasih kepada beliau. Selesai mengajar kelas 6, saya pun menuju ke ruang guru dengan sambil bercerita dan membuka pandangan saya terhadap perjuangan seorang guru desa yang menurut saya gampang-gampang susah (susah saya menjelaskannya dengan kata-kata karena terlalu kompleks substansi narasinya).

Tet…jam istirahat pun berakhir dan saya harus mengajar lagi di kelas 5, melihat sosok saya masuk kelas 5, murid-murid pun riuh dan berkata "hore…bu IIS lagi" (berasa artis aja klo kyk gini…hehehehehehe). Saya pun membalas dengan senyuman dan menanyakan "apakabar semuanya", dengan serempak mereka menjawab "baik bu". Dalam deretan kalimat ini saya tidak ingin membahas tentang materi komputer tapi saya lebih ingin memotivasi mereka untuk terus melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi dengan harapan dapat memberikan perbaikan ke lingkungan sekitar. Dalam hal ini saya menanyakan secara random tentang "cita-citanya pengen jadi apa", alangkah kagetnya ketika saya mendengar bahwa mereka mengatakan tidak punya cita-cita. Saya pun menggiring mereka agar bisa membayangkan dirinya akan menjadi apa, setelah saya giring dengan beberapa pernyataan inspiratif maka mereka pun ada yang mengatakan "pengen jadi guru".."pengen jadi polisi".."pengen kuliah"..dll (gitu dunk!!!emang cita2 punya orang kota doang..anak desa pun wajib hukumnya punya cita2). Saya katakan kepada mereka bahwa tidak perlu malu darimana kita berasal, yang penting kita sudah punya keinginan dan harapan untuk maju insyaAllah akan selalu ada jalan. Dan satu hal lagi saya ingatkan kepada mereka jangan lupa sama yang diatas juga, kemanapun pergi harus selalu ingat kepadaNya dan juga jangan suka melawan orang tua. 

Saya pun mohon diri ke siswa-siswi di kelas 5, karena beberapa hari lagi saya sudah harus kembali ke Jakarta untuk melanjutkan aktivitas saya kembali (kuliah, cisco dan mencari kerjanya tentunya) dan meminta do’a juga kepada mereka (minta do’a ke siapa saja karena siapa tau permintaan orang tersebut yang diijabah) agar diberikan kemudahan dan kelancaran dalam studi dan kerjaan saya dan juga bisa bertemu kembali dengan mereka agar bisa mengajar lagi di sana. Selain itu, saya juga mengatakan kepada mereka jika suatu hari nanti mereka pergi ke Jakarta jangan lupa hubungi seluler saya siapa tahu ada yang bisa saya bantu atau saya yang dibantu mereka. Dengan serempak mereka menjawab "yaaaaaaaaah..ibu kok ngajar lagi", saya pun menjawab "iya nanti klo ada libur lagi ya".

"SEKOLAH IBARAT GARAM… DAN KEHIDUPAN ADALAH SAYURNYA…dan para guru adalah pembuat garamnya….Orang-orang yang mengatakan sekolah tidak perlu dan sekolah adalah penjara, saya yakin mereka adalah orang yang trauma pada gurunya, jadi guru mereka tak berhasil membuat garam. Alhamdulillah saya selalu punya guru pembuat garam yang baik disetiap jenjang….Guru yang kemudian menginspirasi hidup saya sekarang….SO…SEKOLAH INDAH, JIKA KETEMU GURU INSPIRING…."Saya mendapatkan ungkapan ini dari sebuah blog…maaf sang author saya lupa menampilkan situs address blog anda (terimakasih ya..semoga bisa dihayati maknanya oleh kita semua).

7 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://iisrasjeed.blogsome.com/2008/06/19/menjadi-guru-sd-bagian2-habis/trackback/

  1. boleh juga tuh si kacong.. :P

    Comment by kholis — June 27, 2008 @ 5:10 pm

  2. Hallo Cak Kholis, gak nyangka anda menemukan blog saya…hehehehehehe, Btw kacong yang mana ya cak???

    Comment by iisrasjeed — June 28, 2008 @ 7:20 am

  3. halah “quote” saya koq gak tampil ya… :(
    biasanya di wordpress bisa tampil.

    Comment by kholis — June 30, 2008 @ 10:45 pm

  4. itu lo…si kacong yang bilang
    “hai cantik” :P

    Comment by kholis — June 30, 2008 @ 10:47 pm

  5. OOOOOOO…Kacong yang itu maksudnya, Tuh kacong klo bikin fitnah berlebihan (hehehehehehehehhehe), pas ngomong gitu tadinya mau ditraktir sate madura, tapi sayang di Madura gak ada sate Madura.

    Comment by iisrasjeed — July 1, 2008 @ 8:34 am

  6. Sabar aja Lis klo quote-nya gak tampil, ntar juga tampil sendiri.

    Comment by iisrasjeed — July 1, 2008 @ 8:35 am

  7. ertikelna bgus,,,,
    lanjutkan!!!
    2 tumpz up for U…
    agagagagaga

    Comment by fifin burneh — July 13, 2009 @ 7:27 pm

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by B A Khan