My Virtual Voice

July 2, 2008

Om Gates Lengser

Filed under: Humaniora, IT, My Voice

Bill Gates akhirnya secara resmi mengumumkan dirinya untuk meninggalkan Microsoft dan hal ini dilakukannya secara resmi pada hari Jum’at, 27 Juni 2008. Selanjutnya Bill Gates mengurus yayasan yang telah didirikannya dan "memberikan" microsoft ke teman-teman universitasnya dan CEO penggantinya, Steve Ballmer. Hari itu merupakan hari yang sangat penting bagi komunitas Microsoft dan secara potensial untuk semua orang yang memiliki saham microsoft. Selama Om Gates terlibat, ada harapan bahwa Microsoft dapat menguatkan kembali beberapa gaya tarik dan kecepatan pertumbuhannya. Yang sekarang terlihat tidak sama.

Hampir setiap pengamat teknologi dan analis mengatakan bahwa Microsoft tidak dapat mengejar kemajuan Google. Hal ini bukan hanya karena Google sedang menggaruk uang. Analis mengatakan bahwa keuntungan terbesar dari mesin pencari giant ini adalah kemampuannya untuk menarik pola pikir teknologi masa kini dengan cara terbaik dan cemerlang.

Dengan demikian bukan berati mengatakan bahwa Microsoft akan mati.  Sudah kita ketahui bersama bahwa perusahaan ini memiliki jumlah kapital yang besar dan karyawan yang bertalenta. Analis mengatakan bahwa jika Microsoft hanya berkonsentrasi pada pembangunan Sistem Operasi, yang tentunya memang dapat berhasil baik karena pasti akan selalu dipakai dan dicari orang. namun beberapa pemikiran mengatakan bahwa mereka akan memiliki tekanan/gangguan lagi dari kompetitiornya, karena akan banyak bermunculan Sistem Operasi yang baru yang unlicense. Sebagai perusahaan teknologi yang matang seharusnya tidak hanya mengejar ketertinggalannya dari sisi teknologi tapi juga lebih menjadi seperti utility. Meskipun hanya utility, tapi buatlah utility yang penting dan menguntungkan.

Akhir dari EURO 2008

Filed under: Humaniora, My Voice
Tahun 2008 disemarakkan oleh kompetisi di bidang olah raga, dan yang paling banyak menyedot perhatian setelah perebutan Thomas dan Uber Cup adalah Euro 2008. Dalam memperebutkan juara di final EURO 2008 ini, Jerman dan Spanyol berlaga. Kemenangan pun di pihak Spanyol. Selamat untuk Spanyol, salam kenal dan olah raga dari negeri kami tercinta (Indonesia), salut untuk pelatihnya yang walaupun sudah tua namun semangatnya tetap muda.

June 21, 2008

Bersepeda, Duluan Bangkalan kali

sepeda milik bersama 
Hari ini (apa tadi malam ya..entah..gak jelas udah pagi apa malam), saya menonton siaran di TV yang menayang paket berita tentang kampanye bersepeda yang dilakukan oleh SBY dan istrinya selama 1/2 jam bersama teamnya yang berputar-putar di sekitar monas (monumen Nasional, red). Sementara itu juru bicara kepresidenan (tau lah sapa orangnya..si abang kumis dari Sulawesi itu) juga pergi ke kantor kadang-kadang bersepeda. Dan malam itu juga salah satu teman saya di YM mengatakan jika dia ingin membeli aksesoris buat sepeda.
Melihat fenomena ini, saya langsung teringat dengan Bangkalan setahun yang lalu ketika pulang kampung. Di setiap rumah saudara-saudara saya terpampang sepeda gunung yang dilengkapi dengan aksesorisnya. Sampai-sampai petinggi polisi (Polres, red) di sana mengikuti trend masyarakat Bangkalan yang sedang gemar-gemarnya bersepeda. Ada salah seorang sepupu saya yang juga menjadi penggiat dan peserta acara setiap rally sepeda di Bangkalan, sampai-sampai dia pernah mengajak saya untuk mengikuti rally bersama ke daerah-daerah di luar Bangkalan. Sementara itu, tanpa saya sadari di rumah pun juga demikian, kakak saya (Didin, red) menjadi penggemar sepeda juga, dia meminta dibelikan sepeda gunung juga karena sebelumnya di rumah adanya sepeda mini (itu loh sepeda Jepang yang warna merah), akibat trend yang lagi menggila di Bangkalan itu maka si Didin pun dibelikan sepeda gunung (walaupun gak trend, kakak saya yang satu ini memang suka bersepeda). Bagaimana dengan saya???? Biasa aja tuh, tapi karena di rumah ada ya saya manfaatkan saja.
Untuk kegiatan bersepeda ini, biasanya saya lakukan bersama-sama sepupu atau tetangga saya yang masih kecil (SD-SMU) di pagi hari atau sore hari. Rute yang saya ambil jika pagi hari adalah dari rumah ke sawah-sawah yang ada di sekitar sana dengan mengambil track seperator antar petak-petak sawah yang super sempit. Sedangkan jika di sore hari, kami ke jalan besar menuju Bangkalan kota. Mendengar hal ini, slah satu teman saya mengatakan "gak ada kerjaan ke Bangkalan naik sepeda, kyk gak ada motor aja". Nevermind lah dengan pernyataan itu, karena bagi saya olah raga bersepeda sangat mengasyikkan dan walaupun sekarang trendnya sudah mulai berkurang saya masih tetap bersepeda bersama dengan teman-teman kecil saya (temen2 kecilku, kapan niy kita bersepeda rame2?????….tunggu ye!!!klo ntar pulkam).
Untuk hal bersepeda, antara Jakarta dan Bangkalan, sepengetahuan saya masih duluan Bangkalan. Karena jika dilihat dari faktor demografisnya maka ada beberapa hal yang membuat Bangkalan lebih dulu, yaitu :
- Dasar masyarakatnya yang memang banyak bersepeda
- Anti macet dan polusi
- Solidaritas antar masyarakat dan pemuda
- Ajang saling membuka komunitas satu sama lain
- Dan saya bingung (apalagi ya alasannya…..silahkan anda kaji sendiri). 

June 20, 2008

Nyaman dengan Jaket

Filed under: Humaniora, My Voice, Teman
Berbicara tentang jaket maka pendengaran kita semua sudah tidak asing lagi. Dari tahun ke tahun trennya senantiasa berkembang mengikuti tuntutan dan permintaan pasar. Banyak alasan mengapa orang mengenakan jaket, mulai dari menghindari panas supaya tidak membuat kulit hitam, membuat badan hangat (balsem kaliiiiii…!!!), untuk fashion, sebagai baju pelengkap supaya lebih semarak penampilannya atau mungkin tidak bisa hidup tanpa jaket (klo yang ini berlebihan..).
 
Secara pribadi, saya memang penggemar dan pemakai jaket, hampir setiap aktivitas saya di luar dibalut dengan pakaian tambahan ini, mau hawanya panas maupun dingin bagi saya jaket adalah pelengkap. Sampai-sampai ada celetukan dari teman-teman jika kami pergi bareng dengan pernyataan "mana jaket lo". Beberapa hal yang membuat saya nyaman dengan jaket adalah sebagai berikut :
1. Jika pergi malam-malam, mengenakan jaket dapat menghindari masuk angin, apalagi jika perginya sampai pagi (wajib hukumnya make jaket…ini hukum yang saya bikin sendiri).
Nongkrong malem2 @ Sarinah 
2. Jaket memperbaiki penampilan, sehingga tadinya yang sebenarnya di dalamnya mengenakan kaos yang acak adul dan buluk, dengan jaket dapat lebih terlihat lebih baik penampilannya.
sore2 jaketan, kaosnya buluk kalee 
3. Jaket dapat digunakan sebagai pelengkap tambahan ketika dalam keadaan urgen. Suatu ketika pernah terjadi pada saya dan teman saya yang kebetulan saat itu menjadi tim advance (tim penyiap sebelum peserta dan panitia tiba di tempat acara yang tugasnya merapikan tempat, tracking/mencari jalur, lobi dengan pihak setempat, dll). Acara saat itu berlokasi di Sentul (itu loh yang buat balapan tapi agak masuk ke dalam lagi..deketan ama Gunung Putri yang buat syuting Mak Lampir…hihihihihihi), kami berangkat dari kampus sore selepas ashar dan sampai di sana dengan menggunakan bus patas AC kurang lebih jam 7an. Kondisi saat itu hujan deras, becek dan banyak ojek sepertinya. Kami (saya dan Rama, red) pun cepat-cepat mencari masjid di dekat turunnya kami dari bus dan alhamdulillah kami menemukannya. Rama ke tempat sholat cowok dan saya ke tempat sholat cewek, dengan diiringi petir yang keras dan hujan yang deras maka membuat basah dimana-mana. Di tempat sholat cewek saya tidak menemukan sajadah sehingga saya pun berinisiatif membuka jaket saya untuk dijadikan sebagai sajadah pengganti. Hal ini tidak hanya terjadi sekali dua kali, tapi beberapa kali, di beberapa kondisi saya sering menggunakan jaket sebagai sajadah pengganti.
bisa juga jadi sajadah pengganti 
4. Jaket juga berfungsi sebagai pelindung jilbab saya dari tiupan angin sehingga tidak terbang-terbang dan saya pun tidak perlu repot-repot menjaga jilbab saya agar tidak mudah dihempas derai angin (ini yang sering..bisa digunakan waktu naik motor, pergi ke luar kosan atau keluar kota dan jenis aktivitas mobile yang lain).
lagi di dufan siang2 tetep pake jaket 
5. Jaket berfungsi untuk menghindari dari dinginnya AC di dalam bus dan menghindari nyamuk yang ada di sekitarnya.
di dalam bus pun berjaket 
 6. Jaket sebagai luaran/pelengkap saja. Tapi ada salah seorang teman saya yang mengatakan bahwa jika ia memakai jaket ke kampus dapat diindikasikan bahwa dia belum mandi.
buat luaran aja 
7. Jaket bukan jimat. Menggunakan jaket tertentu bukan penentu keberhasilan atau kegagalan kita dalam menjalankan suatu hal. Ini seperti cerita dari teman saya yang karena mengenakan jaket xx dia menjadi lulus sidang skripsi dan ujian internasional bahasa. Kemudian dia mengatakan kepada saya setengah bercanda "makanya lo pake jaket xx aja supaya lulus" dan saya pun menjawab "halah..ada2 aja deh".
 
Jadi dapat disimpulkan bahwa jaket memiliki fungsi dan kenyamanan sendiri bagi penggunanya. Jangan lupa secara rutin mencuci jaket yang telah dikenakan agar terhindar dari virus-virus yang tidak bertanggung jawab (minimal 2 hari sekali, maksimal 1 minggu sekali…tergantung ketebalan jaket).
 
blazernya sk 
Go Jacket Go!!!! (artinya : klo pergi2 pake jaket).

June 19, 2008

Menjadi Guru SD (Bagian2-Habis)

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Menjadi Guru SD di Soket Dajah 1, Kecamatan Tragah, Bangkalan

SDN SOKET DAJAH 1 Kelas 5 

Melanjutkan cerita saya tentang pengalaman menjadi guru SD, kali ini saya akan menceritakan tentang pengalaman saya menjadi guru SD di Kecamatan Tragah tepatnya di SDN Soket Dajah 1. Sudah merupakan hukum alam bahwa sekolah yang mengandung angka tunggal dan merupakan permulaan angka pasti sekolah yang bagus dan favorit, contohnya : SDN Burneh 1 (itu SD saya, terfavorit di Burneh), SLTPN 1 Bangkalan (Bukan SMP saya, tapi sangat difavoritkan oleh siswa di Bangkalan dan sekitarnya, SMP saya adalah SLTPN 4 Bangkalan…lumayan terkenal juga di Bangkalan karena fasilitas sekolahnya yang lengkap dibandingkan dengan SMP-SMP yang lain), SMUN 1 Bangkalan (beh!!!!..siapa yang tidak kenal SMU ini, jangankan orang Madura..di luar Madura pun banyak yang tahu prestasi sekolah ini…"lebai mode : ON").

Sedikit overview tentang SDN ini. Secara prestasi, SD ini sangat terkenal di kecamatan Tragah dengan prestasi akademis dan non akademis dari murid-muridnya. Sedangkan secara geografis sekolah ini masih masuk dalam kawasan kabupaten Bangkalan kecamatan Tragah dengan jarak tempuh dengan menggunakan transportasi publik (namanya : Colt) sekitar 25 menitan (ini dari rumah saya) dengan kondisi wilayah yang hampir sebagian besar adalah persawahan. Melewati wilayah ini terasa begitu segar dan tenangnya karena bisa menikmati nikmat Allah berupa alam pedesaan yang anti polusi. Sekolah ini berada dalam satu area dengan SDN Soket Dajah 2 (gak jauh beda klo gitu dengan SD saya dulu, jadi inget kenakalan waktu SD dulu..sekolah kami sering berantem dengan SDN tetangga/SDN Burneh 2, mulai dari lempar-lemparan batu, pasir sampai dengan lempar-lemparan kata…Astaghfirullah!!!semoga anak-anak yang sekarang gak kayak gitu lagi). Kenaturalan dari wilayah ini yang membuat saya tertarik untuk menjangkau ke sana, bisa melihat sawah yang menghijau, matahari yang bersinar dengan adilnya membagikan sinarnya untuk membantu proses fotosintesis di kehijauan area di sana, oksigen yang masih segar dengan minimal kontaminasi dari zat-zat beracun dan berbahaya, pohon-pohon yang berdiri tegak di sepanjang jalan, langit biru yang bercampur putih benar-benar terlihat dengan indahnya.

Saya mendapatkan link sekolah ini dari tante saya (adik bungsu Ibu saya, yang biasanya saya panggil "Lek Nur"). Beliau adalah guru senior di sana yang sudah hampir 20 tahunan mengabdi sebagai pahlawan tanpa jasa sehingga tidak sulit bagi saya untuk merelisasikan hal ini. Lek nur yang menghubungkan saya dengan kepala sekolah (kebetulan saya tidak bertemu langsung, beliau lah yang membuka wacana langsung tentang niat saya ini). Dengan keyakinan bahwa niat baik ini akan diterima. Beberapa jam kemudian (tepatnya siang hari selepas pulang kantor-antara jam 1/2an siang) beliau menginformasikan kepada saya bahwa kepala sekolahnya mengijinkan saya untuk mengajar di sana (yeah….hore…liburan yang bermakna terulang kembali).

Untuk kapan jadwal dimulainya saya mengajar, hal ini sepenuhnya saya pasrahkan kepada tante saya (yang jelas sebelum saya kembali ke Jakarta dan sebelum pernikahan sepupu saya di Surabaya, karena jika sudah di Surabaya saya jadi malas bolak-balik Madura-Surabaya apalgi geografis sekolah dimana tante saya bekerja masuk dalam level "remote area"). Tante saya sepakat dan beliaulah yang menyusun jadwal mengajar.

Sekitar tanggal 31 Desember 2007 saya memulai untuk mengajar, sebenarnya saya sendiri kurang tahu dan siap jika saya akan mengajar hari itu. Pagi-pagi lek nur menelpon ke rumah agar saya bersiap-siap karena kita akan berangkat jam 7 (jam masuk kelas sekolah adalah jam 7.30 pagi), agak "kaget nyantai" saya pun mempersiapkan diri dengan membuat beberapa halaman slide tentang pengenalan komputer. Jika di Sekolah sebelumnya (baca : menjadi guru SD-bagian 1) saya tidak mempersiapkan slide, maka perbaikan dari  sebelumnya adalah saya melakukan  persiapan pembuatan slide pengenalan komputer secara garis besar saja untuk dijadikan pegangan ketika saya mengajar nanti (tanpa slide sebenarnya bisa mengalir apa adanya dengan hanya melihat seonggok laptop yang terbaring dengan nyenyaknya di tas ransel saya).

Tante saya datang ke rumah dengan seragam keki-nya (seragam keki–> seragam pegawai negeri yang berwarna coklat, jika seragam hansip–>seragam yang berwarna hijau yang kata tante saya sekarang sudah jarang dipakai lagi) dengan dibalut jilbab di kepalanya. Masuk ke pertapaan saya (baca : Ruangan Favorit saya di rumah) dan melihat saya masih dalam keadaan mengenakan baju tidur dan belum mandi. Tante saya pun sedikit memarahi saya dan meminta saya untuk cepat-cepat (kebiasaan!!!!"ujarnya"…kemarahan two in one pun terjadi–>ibu dan tante saya menyuruh saya cepat-cepat). Kali ini ibu aura ibu saya sangat senang melihat kesibukan saya ini, jika sebelumnya agak dilarang karena kondisi cuaca dan geografis yang sangat terpencil maka untuk kali ini ibu saya merasa tidak khawatir lagi karena ada tante saya.

Kebetulan kami tidak berdua saja perginya ke sekolah, karena ternyata tante saya ditemani oleh teman sekantornya yang juga teman sepermainan, sekampung dan satu sekolah saya dulu. Dia menjadi guru honorer di sekolah tante saya. Kegiatan ini pun menjadi penyambung tali silaturrahim dengan dia yang walaupun sekampung namun kami sangat amat jarang bertemu, dalam perjalanan menuju sekolah banyak hal yang dia ceritakan berkaitan dengan kesibukannya sebagai ibu rumah tangga sekaligus guru, aktivitas suaminya yang banyak di Surabaya, pengalamannya selama mengajar anak-anak SD terutama pernyataan dia yang tidak pernah bisa saya lupakan, yaitu "klo ngajar kelas 1 harus makan dulu soalnya bikin cepet laper" dan pembicaraan-pembicaraan yang lain yang cukup inspiratif dan akomodatif untuk menjadi pengajar sesaat di sekolah sana.

Ada hal yang menarik ketika kami berada dalam angkutan umum menuju ke SD Tragah, yaitu ada seorang penjual yang entah akan membawa barang dagangannya ke pasar ataukah sudah selesai berdagang dari pasar. Karena mayoritas di dalam angkutan tersebut adalah ibu-ibu guru yang saling mengenal satu sama lain maka transaksi pun terjadi di dalam mobil angkutan tersebut (seolah-olah saya sedang berada di pasar saja saat itu) dan saya pun keheranan melihat hal tersebut dengan menanyakannya kepada teman saya. Dia berkata demikian :
Rufah : "udah biasa itu is, biasanya juga guru-guru belanja di dalam mobil"
saya : "ouw gt ya" (sambil menyaksikan adegan transaksi yang mereka lakukan)
teman : "Klo belanja ke pasar takutnya gak kebagian ato udah habis karena kesiangan makanya belanja yang ada di dpn mata biar nanti gak usah repot-repot ke pasar"
saya : "ya bener"
Transaksi pun berakhir seiring dengan turunnya sang penjual di sebuah pasar yang jaraknya tak jauh dari tempat kami memberhentikan mobil angkutan tadi. 

Kami sampai di sekolah kira-kira jam 7.30 lewat sedikit, masih belum terlalu ramai ruangan guru di sana, hanya ada kepala sekolah dan  guru piket. Sebelum memulai mengajar, etika dan etiket pun diterapkan dengan cara membuka komunikasi dengan kepala sekolah dan memperkenalkan diri serta memberikan ulasan singkat tentang maksud dan tujuan mengajar di sana, kemudian saya diperkenalkan kepada guru-guru yang lain, baik yang sudah datang dari tadi maupun yang baru datang. Alhamdulillah, bertemu dengan komunitas baru lagi yang membuat pemikiran dan pandangan saya menjadi semakin terbuka dan jadi lebih mengetahui kehidupan guru di desa, keluh kesah mereka selama di kantor terkait dengan urusan rumah tangga dan urusan yang lain, perjuangan dan pengalaman mereka dalam mengabdikan diri menjadi pahlawan tanpa tanda jasa, sosialisasi dengan masyarakat sekitar dan aspek-aspek kemausiaan yang lain yang saya dapatkan dari penuturan  mereka.

Hari pertama, Mengajar kelas 5 SD 

Hari itu, sekitar jam 8an saya masuk kelas dan mengajar teman-teman kecil saya di kelas 5. Sebelum masuk ke kelas tersebut, seperti biasanya tante saya memberikan kemudahan kepada saya dengan memberikan penjelasan singkat kepada murid-murid yang ada di sana bahwa akan ada guru baru yang akan mengajar komputer dan mereka diminta mencatat, mendengar, memperhatikan dan jangan ramai. Mendengar penjelasan yang diberikan oleh tante saya dari luar ruangan kelas saya senyum-senyum sayup mendengarnya. Saya pun masuk dan mulai melebur dengan teman-teman kecil saya di kelas 5.

Perkenalan diri dengan menggunakan bahasa anak-anak yang bisa dimengerti dan harus banyak berhenti di penggalan pernyataan tertentu untuk memberikan kesempatan kepada mereka dalam mengartikan pernyataan yang telah dituturkan. Ketika raut mukanya sudah normal, maka dilanjutkan ke pembicaraan selanjutnya. Saya mulai mengajar dan memberikan materi berdasarkan slide yang sudah saya buat di laptop pagi tadi. Saya tulis kembali di papan tulis yang berwarna hitam dengan bertintakan kapur (sangat amat  jarang sekolah-sekolah di desa  menggunakan white board dan bertintakan spidol).Sekedar tambahan sedikit tentang spidol dan kapur tulis, sebenarnya lebih ramah lingkungan kapur tulis jika dibandingkan spidol, jika menggunakan spidol banyak bahan kimia yang kita hirup ke dalam tubuh sedangkan kapur tulis tidak mengandung bahan kimia kita hanya menghirup debu yang prosesnya berlangsung secara alamiah.

Kehadiran saya di kelas 5 cukup menyemarakkan suasana kelas, karena ternyata mereka menyukai metode yang saya gunakan dalam mengajar mereka, yakni serius dan santai. Jika sudah mulai gaduh suasana kelasnya maka saya meminta mereka untuk mencatat yang sudah tertulis di papan dan kemudian saya mengecek ke bangku mereka masing-masing (sok guru ceritanya..padahal gak ngecek2 banget..shock theraphy aja buat mereka) dan ketika suasana kelas tenang dan nyaman maka materi tentang komputer sekalian bahasa inggris pun dimasukkan (komputer dan bahasa inggris sulit dipisahkan karena istilah-istilah yang ada di komputer semuanya menggunakan bahasa inggris). Setelah terlihat sedikit membosankan dengan materi maka mengalihkan mereka dengan bermain semacam kuis-kuisan seputar komputer dan mengajak mereka nonton bareng sebuah film.

Sekitar jam 9an lewat, jam istirahat berbunyi yang berarti waktu kebebasan buat anak-anak SD untuk membebaskan diri dari belenggu pelajaran, saya pun undur diri dari kelas, tapi ternyata mereka meminta tambahan waktu agar saya memberikan materi tambahan (bingung mode on), saya pun berinisiatif memberikan materi tambahan berupa  belajar mengetik dan mengkopi lagu-lagu yang ada dalam laptop saya dan sesi pertanyaan apa saja yang berhubungan dengan komputer versi anak-anak (klo komputer tingkat dewasa saya nyerah deh..:D). Karena saya juga lapar dan rasa empati saya untuk anak-anak mendorong saya untuk menterminasi pelajaran komputer dan mempersilahkan mereka untuk beristirahat agar bisa segar kembali pada mata pelajaran selanjutnya.

Seusai mengajar kelas 5, saya masuk ke ruangan guru dan alhamdulillah di sana ada pembagian kue yang secara otomatis saya masuk dalam hitungan pembagian tersebut karena ada seorang guru yang melahirkan yang jika sudah memasuki hari ke 40 kelahiran bayinya ada pembagian kue kepada rekan-rekan gurunya. Walaupun saya tidak menjenguk, namun saya kebagian jatah (emang rejeki gak kemana…). Saya pun menikmati kue  sambil berbicang-bincang dengan guru-guru yang ada di dalam ruangan tersebut, karena saya yang paling baru maka pertanyaan pun banyak tertuju kepada saya, saya jawab dengan kapasitas dan kemampuan yang saya miliki dengan penambahan sedikit redaksional dari tante dan teman saya (terimakasih ya Rufah dan Lek Nur..).

Hal yang tidak terlupakan di kelas 5 ini adalah bahwa saya bertemu beberapa murid yang nakal (satu geng cowok2 nakal) tapi pintar dan iseng juga terhadap teman-teman ceweknya karena setiap saya tanyakan sesuatu dia pasti menjawab, seorang murid cowok gendut yang selalu mengenakan topi di dalam kelas dan kemudian saya memintanya untuk melepas topinya ketika di dalam kelas, beberapa murid cewek yang pemalu dan harus ditrigger agar berani berbicara serta mengingatkan mereka ketika mereka sudah kesal dengan teman-teman cowoknya yang iseng dan suka menggoda.

Kok malah mengajar kelas 4 ya???? 

Jam 10an kurang bel berbunyi lagi tanda istirahat sudah berakhir dan siswa dipersilahkan memasuki rkelasnya kembali. Saya berpikir bahwa saya sudah tidak ada jadwal mengajar lagi maka saya pun berinteraksi dengan salah satu guru yang kebetulan mengajar kelas 2, tiba-tiba tante saya meminta saya untuk mengisi kelasnya (kelas 4, yang kebetulan beliau adalah wali kelas 4 dan sekaligus pengajar mata pelajaran matematika saat itu). Sebelum masuk, seperti biasanya tante saya meminta siswa-siswinya agar tidak ramai dan memperkenalkan sedikit tentang saya kepada anak didiknya. Selepas itu, beliau meminta saya masuk dan mengisi kelas.

Pendelegasian ini terjadi karena tante saya ada urusan di luar kantor untuk merealisasikan program KLK (Kelas Layanan Khusus) yang dicanangkan oleh Diknas. Program KLK ini bertujuan untuk menjaring kembali siswa-siswa yang drop out atau putus sekolah untuk melanjutkan studinya kembali dengan biaya gratis. Untuk tahap awal ini, tante saya akan menjaring kurang lebih 20an siswa agar bisa masuk sekolah kembali dengan memberikan souvenir sembako kepada orang tua yang hadir pada acara pembukaan KLK yang akan diselenggrakan pada hari Jum’at (2 Januari 2008). Bagi guru, program KLK ini memberikan nilai tambah berupa penambahan gaji dan penambahan jam mengajar juga karena program KLK berlangsung seusai kelas reguler (default kelas reguler di sana adalah dari jam 97.30 Wib s.d 11.30 Wib, berarti KLK sekitar jam 12an). Program KLK tidak hanya diselenggarakan di Kabupaten Bangkalan, tapi juga di seluruh wilayah Indonesia, karena waktu itu tante saya pernah bercerita tentang pembahasan program KLK ini di Puncak, Bogor (entah..saya lupa tempatnya dimana..karena saya belum bisa menjangkau daerah sana waktu itu).

Untuk awal dan perkenalan, saya melakukan hal yang sama seperti yang pernah saya lakukan di kelas 5. Karena mereka masih mencatat mata pelajaran matematika untuk tugas di rumah maka saya memberikan kesempatan kepada mereka untuk mencatat dan sambil mengecek ke bangku masing-masing apakah mereka mencatat atau tidak, karena soal matematikanya begitu gampang rasanya saya tidak sabar untuk membahasnya namun dorongan batin tidak mengijinkan saya untuk melakukannya karena bagaimana mereka bisa maju jika tidak diberikan kesempatan untuk berpikir sendiri.

Selesai mencatat, kegaduhan pun terjadi dan saya pun bingung mengatasinya karena siswa-siswi kelas 4 ini lebih susah diatur dibandingkan kelas 5 (jadi teringat pernyataan teman saya klo ngajar kelas 1 harus makan dulu, ngajar kelas 4 juga demikian mungkin, tenaga yang saya dapatkan dari kue istirahat tadi masih terasa kurang untuk menenangkan mereka). Tante saya mendengar kegaduhan itu dan beliau pun masuk kelas lagi sebelum melanjutkan surveinya untuk mencari calon siswa KLK kemudian menjewer telinga siswa yang membuat kerusuhan sehingga suasana kelas pun aman terkendali karena siswa takut mendapatkan hal yang sama dari tante saya (dalam hati sebenernya tidak tega juga, namun apa daya kadang-kadang langkah fisik harus diterapkan untuk membuat siswa takut dan tidak mengulang kesalahannya kembali).  

Saya pun melanjutkan ke materi pengenalan komputer dengan menjelaskan secara garis besar tentang teknologi komputer, mereka serius mendengarkan. Dengan melihat respon semua siswa saya tahu bahwa kebanyakan dari mereka sudah mengantuk, karena paginya ada praktik pendidikan jasmani dan kesehatan kemudian dilanjutkan matematika dan pengenalan komputer pula. Untuk itulah, agar penyampaian materinya lebih menarik dan tidak membosankan saya pun menggiring mereka untuk mencoba satu per satu dengan membagi mereka ke dalam beberapa kelompok. Kelompok yang belum maju saya berikan tugas tertulis atas materi yang sudah disampaikan tadi. Tugas tersebut nantinya dibahas bersama-sama dan jika ada yang belum mengerti bisa menanyakannya langsung. Sedangkan kelompok yang maju, saya menjelaskan kepada mereka satu per satu tentang bagian-bagian laptop terdiri dari apa saja (dalam hal ini saya menjelaskan yang kelihatan dan sering dipakai saja, seperti monitor/LCD fungsinya apa, keyboard untuk apa, touchpad/mouse fungsinya apa) dan juga beberapa program applikasi yang umum digunakan oleh orang awam.

Kondisi pun tidak terkendali, setelah beberapa kelompok meyelesaikan tugas tertulisnya dan saya masih di depan mengajarkan kelompok yang sedang praktik maka suasana kelas pun jadi gaduh. Saya pun bingung dan berusaha menenangkan diri dulu sebelum menenangkan kelas. Selesai menenangkan diri, saya pun membahas tugas tadi dan kembali memberikan praktik kepada kelompok yang belum maju (hush..hush..hush..capek juga ngatur anak kecil..lebih baik menggunakan asisten jika kondisinya seperti ini karena yang satu bisa memberikan praktikum dan yang satu lagi menangani murid yang belum praktikum sehingga waktu pun lebih optimal dan produktif).

Sekitar jam 11, lonceng berbunyi menunjukkan jam untuk sekolah berakhir, murid-murid pun siap-siap pulang. Tidak seperti kelas 5, di kelas 4 ini murid-muridnya lebih ingin cepat-cepat pulang, saya pun mempersilahkan mereka untuk pulang, tapi sebelum pulang saya menyampaikan beberapa pernyataan kepada mereka "Terimakasih atas perhatian yang mereka berikan, Maaf jika ada hal-hal yang kurang berkenan atau menyakitkan, Selamat siang". Mereka pun mengatakan secara serentak "Ya bu"…..(…:)).

Setelah keluar dari kelas 4, saya bertemu dengan beberapa murid kelas 5 yang tadi pagi saya ajar, secara serempak mereka menyapa saya dengan ramahnya dan saya pun membalasnya dengan lebih ramah lagi tentunya dengan melemparkan senyum kepada mereka semua. Beberapa dari mereka meminta saya untuk mengajar lagi besoknya dan saya pun menjawab "InsyaAllah nanti ngajar lagi".

Sebelum perjalanan pulang menuju ke rumah, beberapa guru SDN Soket Dajah 1 mengajak bersilaturrahim ke salah satu kerabat gurunya juga yang baru pulang dari tanah suci Mekkah dan secara otomatis saya ikut juga karena tante saya juga ikut dalam rombongan itu. Alhamdulillah dari silaturrahim tersebut selain mendapatkan cerita tentang pengalamannya selama di Mekkah, kami juga mendapatkan oleh-oleh berupa kurma dan bergo. Dalam perjalanan menuju pangkalan angkot, tiba-tiba ada seorang anak kecil yang memanggil nama seseorang dengan sambil berteriak (biasa!!!namanya juga anak kecil), dia memanggil "Bu IIS", tante saya menyampaikan kepada saya bahwa ada yang memanggil dan saya pun menoleh dan dia adalah murid kelas 5 yang suka memakai topi di dalam kelas dengan perawakan gendut lucu. Saya pun balik menyapanya dan bertutur singkat dengannya kemudia melanjutkan perjalanan bersama rombongan guru-guru. Si anak kecil pun mengatakan lagi "Bu..ngajar lagi ya" dan saya hanya membalas dengan senyuman saja.

Hari kedua, mengajar kelas 6 dan kelas 5 lagi 

Karena esoknya (1 Januari 2008, libur tahun baru) sekolah libur, maka saya pun tidak ada jadwal mengajar dan saya pikir sudah tidak ada jadwal mengajar lagi. Tiba-tiba keesokan harinya, tante saya ke rumah mengenakan seragam kerjanya ke rumah untuk menjemput saya supaya bisa mengajar lagi ke sekolah dimana beliau bekerja. Saya pun terburu-buru dengan mengenakan kaos dan jaket serta bawahan tentunya. Dengan penampilan itu, spontan saya disemprot oleh beliau "MasyaAllah, ngajar kok pake kaos, kamu ini guru dilihat dan dinilai oleh murid-muridnya, nanti muridnya bilang kok gurunya kyk gini asal-asalan, sana ganti!!!". Saya pun terdiam sejenak dan berkata dan mengatakan kepada tante saya "Saya gak bawa baju lagi dr Jakarta". Tiba-tiba Ibu saya muncul dan mengatakan "banyak itu di lemarinya, males aja dia nyari-nyari, heran tuh anak memang, baju kayak serbet masih aja dipake, kpn berubahnya". Malas berdebat panjang, saya pun ganti kostum dan ternyata ketika saya bercermin tiba-tiba tante saya menyodorkan bros kecil untuk jilbab yang akan dikenakan oleh saya dan dengan sengaja beliau membawa dari rumahnya, menyaksikan hal ini saya pun tertawa dan mengatakan "gawat banget siy, kyk mo kemana aja", untuk menghormati pemberiannya saya pun memakainya sebagai pengganti peniti (tante saya tau..klo di rumah stok penitinya terbatas). Selesai beres-beres dan ganti pakaian, tante pun mengatakan "Nah gitu dunk!!! biar jadi contoh yang baik buat muridnya (padahal saya pake celana jeans), pake lipstik is biar lebih seger". Untuk permintaan ini saya mengatakan "Udah ah..ayo jalan..aku gak punya". Kami pun berangkat ke sekolah dengan sepeda motor. Tante saya bersama suaminya (om Hasin) yang kebetulan kantornya berdekatan dengan sekolah tante saya, sedangkan saya bersama dengan Rufah yang kebetulan si Rufah menunggu saya di depan rumah. Rufah memberikan kepercayaan kepada saya untuk membawa motornya sedangkan dia jadi penumpang.

Sesampai di sekolah, sang wali kelas 6 pun langsung mendelegasikan kelasnya kepada saya untuk diisi materi tentang komputer. Sebelum masuk kelas 6, seperti biasa sang wali kelas memperkenalkan secara singkat tentang profil saya (intinya niy ya…guru komputer). Selesai sang wali kelas memberikan sambutannya di kelas, saya pun masuk kelas dan membuka komunikasi lebih dekat lagi dengan adik-adik kecil. Tiba-tiba ada suara celetukan seorang siswa yang mengatakan "hai cantik", dalam hatipun saya berkata "wah calon-calon perayu niy", maka saya pun melangkahkan kaki ke bangkunya dan membalasnya dengan mengatakan "hai ganteng, boleh kenalan gak????". Karena hal inilah, siswa-siswi kelas 6 pun riuh dan sang siswa pun tersipu malu (masih kecil juga, udah bisa merayu, belajar yang rajin ya cong).

Untuk kelas 6 iklim belajar dan strategi penyajian materinya tidak terlalu berbeda dengan kelas-kelas sebelumnya. Hanya lebih diberikan kesempatan kepada mereka untuk lebih vokal lagi dalam mengekspresikan pendapatnya. Beberapa menit mengajar kelas 6 tiba-tiba sang kepala sekolah masuk ke dalam ruangan dan menginformasikan kepada saya bahwa akan ada pengontrolan dari pengawas sekolah, saya yang tidak tahu apa-apa hanya mengangguk-angguk saja dan selanjutnya sang pengawas pun masuk. Saya mempersilahkan beliau untuk duduk (saya berdiri dengan memberikan tempat duduk saya). Beliau menanyakan demikian :

Sang pengawas : Berapa jumlah siswa (sambil menghadap ke murid2 di dalam kelas)
Saya : diam sejenak (dalam hati.."menegetehe" baru juga ngajar)
saya pun melemparkan pertanyaan beliau ke murid-murid dan sang pemegang absen (sekretaris, red) menjawab.
Sang Pengawas : Berapa yang tidak masuk???
Saya : alamak ("menegetehe lagi")
Murid-murid pun inisiatif menjawab.
Sang pengawas : Ibu ngajar komputer kan???(saya mengangguk), jadi sebelum ngajar dicek dulu absennya, berapa yang gak masuk, berapa jumlah muridnya, karena itu salah satu kunci buat mengajar (hmmm..guman saya..ilmu baru niy..walaupun pada awalnya merasa kyk yang diadili…tapi inilah seninya bagi saya ‘menghadapi suatu hal yang belum pernah saya prediksi).
Sang pengawas pun keluar dan saya ucapkan terimakasih kepada beliau. Selesai mengajar kelas 6, saya pun menuju ke ruang guru dengan sambil bercerita dan membuka pandangan saya terhadap perjuangan seorang guru desa yang menurut saya gampang-gampang susah (susah saya menjelaskannya dengan kata-kata karena terlalu kompleks substansi narasinya).

Tet…jam istirahat pun berakhir dan saya harus mengajar lagi di kelas 5, melihat sosok saya masuk kelas 5, murid-murid pun riuh dan berkata "hore…bu IIS lagi" (berasa artis aja klo kyk gini…hehehehehehe). Saya pun membalas dengan senyuman dan menanyakan "apakabar semuanya", dengan serempak mereka menjawab "baik bu". Dalam deretan kalimat ini saya tidak ingin membahas tentang materi komputer tapi saya lebih ingin memotivasi mereka untuk terus melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi dengan harapan dapat memberikan perbaikan ke lingkungan sekitar. Dalam hal ini saya menanyakan secara random tentang "cita-citanya pengen jadi apa", alangkah kagetnya ketika saya mendengar bahwa mereka mengatakan tidak punya cita-cita. Saya pun menggiring mereka agar bisa membayangkan dirinya akan menjadi apa, setelah saya giring dengan beberapa pernyataan inspiratif maka mereka pun ada yang mengatakan "pengen jadi guru".."pengen jadi polisi".."pengen kuliah"..dll (gitu dunk!!!emang cita2 punya orang kota doang..anak desa pun wajib hukumnya punya cita2). Saya katakan kepada mereka bahwa tidak perlu malu darimana kita berasal, yang penting kita sudah punya keinginan dan harapan untuk maju insyaAllah akan selalu ada jalan. Dan satu hal lagi saya ingatkan kepada mereka jangan lupa sama yang diatas juga, kemanapun pergi harus selalu ingat kepadaNya dan juga jangan suka melawan orang tua. 

Saya pun mohon diri ke siswa-siswi di kelas 5, karena beberapa hari lagi saya sudah harus kembali ke Jakarta untuk melanjutkan aktivitas saya kembali (kuliah, cisco dan mencari kerjanya tentunya) dan meminta do’a juga kepada mereka (minta do’a ke siapa saja karena siapa tau permintaan orang tersebut yang diijabah) agar diberikan kemudahan dan kelancaran dalam studi dan kerjaan saya dan juga bisa bertemu kembali dengan mereka agar bisa mengajar lagi di sana. Selain itu, saya juga mengatakan kepada mereka jika suatu hari nanti mereka pergi ke Jakarta jangan lupa hubungi seluler saya siapa tahu ada yang bisa saya bantu atau saya yang dibantu mereka. Dengan serempak mereka menjawab "yaaaaaaaaah..ibu kok ngajar lagi", saya pun menjawab "iya nanti klo ada libur lagi ya".

"SEKOLAH IBARAT GARAM… DAN KEHIDUPAN ADALAH SAYURNYA…dan para guru adalah pembuat garamnya….Orang-orang yang mengatakan sekolah tidak perlu dan sekolah adalah penjara, saya yakin mereka adalah orang yang trauma pada gurunya, jadi guru mereka tak berhasil membuat garam. Alhamdulillah saya selalu punya guru pembuat garam yang baik disetiap jenjang….Guru yang kemudian menginspirasi hidup saya sekarang….SO…SEKOLAH INDAH, JIKA KETEMU GURU INSPIRING…."Saya mendapatkan ungkapan ini dari sebuah blog…maaf sang author saya lupa menampilkan situs address blog anda (terimakasih ya..semoga bisa dihayati maknanya oleh kita semua).

June 2, 2008

dari BBM turun ke BLT

Filed under: Humaniora, My Voice
Harga BBM meroket, mahasiswa pun banyak yang melakukan aksi turun ke jalan untuk menentang kebijakan pemerintah ini. Tapi apa????, demo hanya sekedar demo, telinga birokrasi sudah kedap suara karena sudah tidak menggubris suara mahasiswa yang merupakan suara rakyat juga. Bagi pemerintah, apalah arti kenaikan BBM, toh mereka masih bisa menebusnya dengan menggunakan fasiltas yang dianggarkan pemerintah, banyak projek dan amplop yang menunggu barang kali.
 
BBM dan BLT (bantuan langsung tunai) adalah 2 hal yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain, karena seiring dengan kenaikan harga BBM pemerintah mengeluarkan kebijakan BLT kepada masyarakat tidak mampu. Sungguh, merupakan kebijakan yang kurang dikaji dampak ke depannya seperti apa. BLT hanya akan mencukupi kebutuhan rakyat sehari atau 2 hari, sementara hidup itu berkelanjutan, BLT hanya akan membuat rakyat menjadi pengemis dan pemerintah kurang bisa mengarahkan rakyat agar tidak menjadi malas.
 
Coba bayabgkan jika seandainya anggaran BLT tersebut digunakan untuk membuka suatu industri yang padat karya dengan melibatkan para calon penerima BLT sebagai pekerjanya, maka sudah berapa % rakyat negeri ini yang terangkat dari jurang pengangguran. Mereka akan memiliki tingkat harapan hidup yang lebih besar dibandingkan sebelumnya, karena ada yang bisa diandalkan setiap bulannya dari pendapatan mereka.
 
Salut buat mereka yang tidak mau menerima BLT dari pemerintah, karena mereka ingin membebaskan negeri ini dari sebuah keterpurukan. Apalah ari seabad negeri ini berbangkit, jika rakyatnya dididik pengemis, inikah kebangkitan????ataukah justru bangkit untuk dijajah kembali oleh negeri penjajah dan pengeruk kekayaan negeri ini????, cmon!!!!!!Bangkit negeriku, bangkit bangsaku dan bangkit saudaraku!!! bagaimana mungkin kesejahteraan dan kemakmuran yang kita idam-idamkan terwujud jika kita menginginkan semuanya dengan cepat dan tanpa usaha, jangan malas..terus berusaha dan terus berkarya!!!

Perjuangan diri

Minggu lalu merupakan minggu dimana tugas kuliah menumpuk, serentet presentasi tugas akhir semester menanti, paper menjemput. Namun apa yang terjadi???, di minggu itu pula saya sakit beberapa hari, lantas bagaimana dengan tugas-tugas tersebut?????. Alhamdulillah, saya hanya tidak masuk kuliah di hari Senin saja dan kebetulan hari itu tidak ada pengumpulan tugas maupun presentasi. Sedangkan pada hari Selasa nya saya paksakan diri masuk karena hari itu kelompok saya presentasi tugas akhir (tentunya dengan diantar dan dijemput…thx buat abangku atas bantuannya mencarikan saya tumpangan). Hari Rabu alhamdulillah tidak ada kuliah karena dosen berhalangan hadir (diganti hari Jum’at). Hari kamis kelompok saya presentasi lagi dan Jum’at juga demikian. Alhamdulillah presentasi di minggu itu berhasil saya ikuti, terimkasih yaa Allah atas kekuatan dan kesehatan yang Engkau berikan, ternyata perjuangan diri itu indah, indah karena semakin banyak hal yang patut kita syukuri, indah karena telah menyadarkan kita dari kekhilafan yang tak pernah kita sadari, indah karena rahman dan rahim yang selalu Allah berikan. Berikanlah kekuatan untuk perjuangan-perjuangan yang lain (save my soul..save my health..save my heart and mind…steady on God’s rules…keep me for giving the best that I have).

Indahnya Nikmat Sehat Setelah Sakit

Filed under: Humaniora, My Voice
Alhamdulillah, setelah beberapa hari berjuang dengan sakit akhirnya bisa beraktivitas seperti biasa (kerja, kuliah, makan, bermain dan lain-lain). Alangkah kesehatan merupakan nikmat Allah yang sangat besar sekali dan kita jarang memperhatikannya. Seminggu yang lalu,  selama kurang lebih 4 hari saya diberikan nikmat berupa sakit, yaitu demam naik turun, tenggorokan sakit dan gatal serta batuk, hidung meler, sakit kepala, badan lemes, nafsu makan dibawah ambang batas. Selama kurang lebih 2 hari saya tahan sakit tersebut dengan meminum obat batuk bermerk ******* (ogah nyebutin merek..biarin org marketingnya yang masarin..) dan memang sengaja untuk tidak ke dokter dulu. Ternyata teman kosan saya ada yang sakit juga, ciri-cirinya hampir sama dan dia terdiagnosis demam berdarah. Memang, tidak ada bintik-bintik merah yang muncul, namun demam yang naik turun selama beberapa hari disertai rasa sakit kepala yang tidak kunjung sembuh membuat dia bermigrasi ke dokter yang lain dan melakukan pengecekan darah. Hasil tes menunjukkan bahwa jumlah trombositnya dibawah normal (saat itu trombositnya 110.000). Berdasarkan hasil inilah membuat teman kosan saya tersebut dirawat selama beberapa hari di sebuah Rumah Sakit di sekitar slipi jaya.
 
Berdasarkan hal inilah mendorong saya untuk berobat ke Dokter dan alhamdulillah kunjungan abang saya sangat membantu proses penyembuhan sakit saya ini karena dengan setia mendampingi saya sejak saya sakit sampai dengan agak sangat lumayan sembuh. Seperti biasa Dokter menanyakan keluhan sakit saya apa saja dan dilanjutkan dengan mengecek temperatur tubuh saya dan tensi darah saya, hasil pengecekannya adalah :
Temperatur berdasarkan termometer celcius : 38 derajad Celcius
Tensi Darah : 105/75 (dibawah normal ini…normalnya itu 110..pantesan pusing2 gak jelas)
Kemudian Dokter mengecek tenggorokan saya dan juga tangan serta kaki saya (saat itu dokternya khawatir juga karena suhu badan saya sangat tinggi).
Alhamdulillah setelah minum obat dari klinik tersebut, suhu badan saya menurun walaupun keringatan tidak henti-hentinya. Karena khawatir kena DB, maka saya pun melakukan pengecekan tromobosit di sebuah laboratorium dilanjutkan dengan melanjutkan pengecekan rhesus (cek rhesus hanya untuk iseng aja) dan tentunya ditemani oleh abang saya tercinta. Hasil cek darah adalah :
Trombosit : (300.000) 
Golongan darah : B 
Rhesus + 
 
Alhamdulillah yaa Syifa atas nikmat sakit dan sehat yang Engkau berikan, dari hal ini jadikanlah hamba ini menjadi orang yang semakin mensyukuri nikmat yang Engkau limpahkan dan banyak bersyukur, jangan Engkau jadikan hamba ini sebagai insan yang ingkar akan nikmat Engkau.
 
Special thanks :
1. Untuk abang saya tercinta, Mas Jun, terimakasih sudah menemani saya selama sakit, semoga Allah senantiasa melimpahkan kesehatan dan rezeki yang banyak serta dimudahkan segala urusanmu. Maaf jika ada kata dan sikap yang kurang berkenan ketika saya sakit (abang tentu tau lah..gimana adikmu ini klo sakit..maaf jika terkesan manja dan kurang menghargai).
2. Untuk Erni yang rela bolos kerja untuk merawat kami berdua (saya dan Ester) dengan membelikan makanan yang susah kami jangkau dengan kondisi kami yang sakit saat itu.
3. Teman-teman fosilmata yang sudah menjenguk dan mendo’akan, semoga Allah membalas kebaikan kalian semua.
4. Adik-adik MT (especially : Dewi dan April), untuk April terimakasih banyak adikku sudah mau berkunjung ke kosan hanya untuk mengingatkan saya minum obat dan banyak istirahat, sering-sering main ke kosan ya.
5. Teman-teman yang lain yang senantiasa memperhatikan dan mendo’akan saya (thx a lot Guys). 
 

May 16, 2008

Ketika 2 Menjadi 1

Filed under: Humaniora, Islam, My Voice

Bismillahirrohmanirrohim,

Ketika menuliskan judul ini, kita pasti teringat dengan salah satu lagu yang dibawakan oleh spice girl yang dalam bahasa inggrisnya adalah "When to become one". Tapi kali ini saya tidak sedang membicarakan lirik lagu tersebut. 2 hari yang lalu sepulang kuliah (sekitar jam 10an malam) seperti biasa saya mandi, sholat, nonton tv sebentar dan kemudian tidur dengan mematikan tv atau mendengarkan radio. Sekitar jam 1 Malam, saya terbangun karena ada yang air yang menetes di kaki saya dan ooooopsss rupanya genteng di kamar saya bocor. Oleh karena itulah saya bangun (walaupun dengan kondisi tidak rela) dengan menepikan kasur saya agar tidak basah. Karena ada 2 kasur, maka kasur yang satunya saya tepikan ke dinding dan yang satu lagi saya tepikan ke sisi yang lain agar saya bisa tidur dengan kasur. HUFFFH!!!! Kasur yang saya tepikan ke sisi yang lain ternyata masih mendapat sinyal tetesan air, untuk itulah saya tepikan dua-duanya ke dinding dan saya tidur dengan menggunkan karpet kasur yang ada di kamar dan diatasnya dialasi lagi dengan selimut biru yang ada di kamar dengan tujuan untuk kenyamanan tidur. Saya pun melanjutkan tidur dengan mematikan lampu di kamar, berusaha saya untuk tidur tapi belum bisa juga karena tenaga terkuras untuk mengangkat kasur tadi dan mengambil gayung untuk menampung tetesan air dari atap yang bocor (sebenernya gak capek!!!biasa2 aja!!!!lebai ceritanya). Karena belum bisa tidur juga, saya pun memencet remote TV dan menonton TV. Saya pindah-pindahkan channel di TV untuk mencari acara yang bagus, namun yang saya temui adalah acara-acara tidak jelas dan ditambah lagi banyak semutnya di stasiun tv nya. Malas untuk memindahkan posisi antenna, saya pun mencari stasiun TV yang pasti-pasti aja yang bisa saya lihat tanpa adanya gangguan semut. Lelah bermain-main dengan remote, saya pun memencet angka di remote secara random dan dari ketidaksengajaan tersebut saya mendapatkan stasiun TV yang sedang menayangkan program RENUNGAN MALAM. Saya berhenti di stasiun TV tersebut sejenak, beberapa saat kemudian muncul Ustadz Arifin Ilham yang akan menyampaikan taushiyah. Adapun topik taushiyahnya malam itu adalah "Mengapa aku menikah".

Berikut point-poin yang bisa saya simpulkan dari taushiyah yang singkat tersebut dan saya kombinasikan dengan artikel yang tidak sengaja saya dapatkan di internet dalam bahasa inggris :

Menikah itu bukan untuk sebuah status sosial, insting sebagai manusia, pabrik produsen ras (baca : anak), gaya hidup dan alasan-alasan hedonis yang lain. Dalam taushiyahnya, Ustadz Arifin Ilham menyatakan mengapa menikah :
1. Karena perintah Allah
Ciri-ciri orang yang bertaqwa adalah menjalankan perintahNya dan menjauhi segala laranganNya.
2. Merupakan tuntunan Rasulullah
Sebagai umat Rosulullah, tentunya kita sudah tahu dengan maksud ini.
3. Menikah sebagai pintu pembuka keberkahan dan rezeki
4. Menikah adalah FURQAN (pembeda)
Menikah adalah pembeda antara kita (sebagai manusia) dengan binatang. Dengan demikian menikah menjadi proteksi moral bai kita sebagai manusia.
Tambahan dari sumber yang lain adalah :
5. Pemeliharaan ras manusia, karena dengan menikah nantinya akan terbentuk sebuah keluarga, dimana keluarga merupakan sebuah institusi yang dapat melindungi proses kehidupan sesorang secara holistik/keseluruhan (dari fase awal sampai pemetikan hasil). Laki-laki, wanita dan anak-anak membutuhkan institusi yang permanen dan jangka panjang untuk memainkan perannya dan hal tersebut didapatkan di keluarga.
6. Stabilitas psikis-emosional. Objektivitas sebuah pernikahan adalah untuk mencapai jalinan pertemanan psikologis, emotional dan spiritual. Hubungan dalam keluarga, anatara semua anggotanya dan yang paling penting dari semuanya adalah, antara suami dan istri, bukan sekedar hubungan yang berasas manfaat belaka.

Pernikahan merupakan hubungan spiritual, menopang dan menumbuhkan cinta didalamnya, kebaikan  belas kasih,saling percaya, pengorbanan diri,penghibur dan  saling membantu satu sama lain.

Keluarga merupakan iklim yang paling cocok untuk mengembangkan dan memenuhi kepribadian manusia. Oleh karena itu Rasulullah SAW bersabda bahwa RUMAH ADALAH TEMPAT YANG PALING BAIK DI DUNIA.

Pada lain hal, hubungan antara pasangan diibarakan dengan tubuh dan pakaian {They are garments for you and you are garments for them.} (Al-Baqarah 2: 187)

 

Sebuah pakaian adalah sesuatu yang paling dekat dengan tubuh manusia dan merupakan bagian dari dunia luar yang menjadi bagian kepemilikan kita. Seperti juga halnya dengan hubungan antara pasangan. Pakaian adalah  sesuatu yang menutupi tubuh dan melindunginya. Pasangan adalah penjaga dan pelindung satu sama lain. Suami dan istri saling melengkapi satu sama lain, satu melengkapi dan menyempurnakan dan mengindahkan satu sama lain.

 

Semua aspek ini dapat diistilahkan dalam satu frase yang ringkas, yaitu :

"You are like a garment for each other."

 

 

Untuk itulah, yang menjadi pertanyaan adalah bukan sudah siap atau belum siap untuk menikah??? tapi apa, siapa, dimana, kapan dan bagimana????????????????????????????????????????????????????. Mampukah mengarungi bahtera yang tidak pernah kita tahu kemana alirannya?????.

 

May 13, 2008

SOK-SOK BAKSOS ato SOK SIAL

Filed under: Humaniora, My Voice

Terimakasih atas tanggapannya!!!!

Selama beberapa kali menggagas baksos dan menjadi panitia baksos, baru kali ini mendapat tanggapan "SOK-SOK BIKIN BAKSOS!!!", agenda yang seharusnya tidak menyingkirkan agenda prioritas justru menjadi hal yang membuat saya speechless dan terdiam beberapa saat (agak tersinggung aja sbenernya!!!tapi mencoba menggali diri agar tidak terpancing dengan hal itu, mungkin hal ini lemparan batu buat saya agar saya sadar bahwa jika menyampaikan suatu masukan harus disesuaikan dengan kondisinya).

Entah yang saya idekan ini sok-sok baksos atau malah saya sok sial yang  hanya bisa speechless dan menjadi silent reader. Tapi, seringkali diam adalah emas, karena tidak guna juga jika saya menanggapinya, belajar dari medan magnet bahwa jika kutub postif bertemu dengan kutub positif akan tolak menolak, sedangkan apabila kutub postif bertemu dengan negatif maka akan tarik menarik.

Terimakasih teman buat tanggapannya, walaupun tidak tepat sebenarnya dengan kondisi emosional saya tapi justru membuat saya semakin belajar tentang arti sebuah pengendalian diri. Pengendalian diri merupakan hal yang sulit dan bersifat relatif (sedang berada di lingkungan manakah kita????, boleh jadi hal ini tidak menjadi topik yang sensitif bagi komunitas yang lain tapi menjadi hal yang sensitif bagi komunitas tertentu).

Setiap hal yang kita lakukan pasti ada resiko dan kompensasinya. Dan kita harus siap dengan semua itu. 






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by B A Khan