My Virtual Voice

September 22, 2009

Selamat Idul Fitri 1430 H

Filed under: Islam

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Setelah mendeklarasikan adanya blog kedua, maka blog yang ini pun hampir tidak pernah diupdate lagi. Namun ternyata masih banyak juga yang mengirim komentar dan masukan mengenai artikel di blog ini, ada dari mereka yang mengatakan “artikelnya bagus”, ada juga “blognya bermanfaat”, ada juga malah yang menambahkan “diupdate dunk”. Okay! orang lain saja peduli dengan blog ini kenapa saya tidak?. Sebelumnya terimakasih buat teman-teman dan pembaca semua yang sudi untuk berkunjung ke blog ini, tanpa kehadiran dan komentar-komentar dari kalian blog ini tidak akan hidup.

Sebagai bentuk rasa hormat dan cinta saya kepada kalian semua, maka dalam momen yang masih fitri ini tiada salahnya jika saya ucapkan Maaf lahir dan batin jika ada tulisan, sikap atau respon dari saya yang kurang mengenakkan atau tidak sesuai dengan harapan teman-teman semua.

Selamat hari Raya Idul Fitri 1430 H, semoga kita semua bisa membawa nilai-nilai Ramadhan yang sudah kita tempuh selama 3 semester dalam kehidupan sehari-hari kita. Amin Allahumma Amin waa InsyaAllah.

Wassalamu’alaiukum Warahmatullahi Wabarakatuh.

May 16, 2008

Ketika 2 Menjadi 1

Filed under: Humaniora, Islam, My Voice

Bismillahirrohmanirrohim,

Ketika menuliskan judul ini, kita pasti teringat dengan salah satu lagu yang dibawakan oleh spice girl yang dalam bahasa inggrisnya adalah "When to become one". Tapi kali ini saya tidak sedang membicarakan lirik lagu tersebut. 2 hari yang lalu sepulang kuliah (sekitar jam 10an malam) seperti biasa saya mandi, sholat, nonton tv sebentar dan kemudian tidur dengan mematikan tv atau mendengarkan radio. Sekitar jam 1 Malam, saya terbangun karena ada yang air yang menetes di kaki saya dan ooooopsss rupanya genteng di kamar saya bocor. Oleh karena itulah saya bangun (walaupun dengan kondisi tidak rela) dengan menepikan kasur saya agar tidak basah. Karena ada 2 kasur, maka kasur yang satunya saya tepikan ke dinding dan yang satu lagi saya tepikan ke sisi yang lain agar saya bisa tidur dengan kasur. HUFFFH!!!! Kasur yang saya tepikan ke sisi yang lain ternyata masih mendapat sinyal tetesan air, untuk itulah saya tepikan dua-duanya ke dinding dan saya tidur dengan menggunkan karpet kasur yang ada di kamar dan diatasnya dialasi lagi dengan selimut biru yang ada di kamar dengan tujuan untuk kenyamanan tidur. Saya pun melanjutkan tidur dengan mematikan lampu di kamar, berusaha saya untuk tidur tapi belum bisa juga karena tenaga terkuras untuk mengangkat kasur tadi dan mengambil gayung untuk menampung tetesan air dari atap yang bocor (sebenernya gak capek!!!biasa2 aja!!!!lebai ceritanya). Karena belum bisa tidur juga, saya pun memencet remote TV dan menonton TV. Saya pindah-pindahkan channel di TV untuk mencari acara yang bagus, namun yang saya temui adalah acara-acara tidak jelas dan ditambah lagi banyak semutnya di stasiun tv nya. Malas untuk memindahkan posisi antenna, saya pun mencari stasiun TV yang pasti-pasti aja yang bisa saya lihat tanpa adanya gangguan semut. Lelah bermain-main dengan remote, saya pun memencet angka di remote secara random dan dari ketidaksengajaan tersebut saya mendapatkan stasiun TV yang sedang menayangkan program RENUNGAN MALAM. Saya berhenti di stasiun TV tersebut sejenak, beberapa saat kemudian muncul Ustadz Arifin Ilham yang akan menyampaikan taushiyah. Adapun topik taushiyahnya malam itu adalah "Mengapa aku menikah".

Berikut point-poin yang bisa saya simpulkan dari taushiyah yang singkat tersebut dan saya kombinasikan dengan artikel yang tidak sengaja saya dapatkan di internet dalam bahasa inggris :

Menikah itu bukan untuk sebuah status sosial, insting sebagai manusia, pabrik produsen ras (baca : anak), gaya hidup dan alasan-alasan hedonis yang lain. Dalam taushiyahnya, Ustadz Arifin Ilham menyatakan mengapa menikah :
1. Karena perintah Allah
Ciri-ciri orang yang bertaqwa adalah menjalankan perintahNya dan menjauhi segala laranganNya.
2. Merupakan tuntunan Rasulullah
Sebagai umat Rosulullah, tentunya kita sudah tahu dengan maksud ini.
3. Menikah sebagai pintu pembuka keberkahan dan rezeki
4. Menikah adalah FURQAN (pembeda)
Menikah adalah pembeda antara kita (sebagai manusia) dengan binatang. Dengan demikian menikah menjadi proteksi moral bai kita sebagai manusia.
Tambahan dari sumber yang lain adalah :
5. Pemeliharaan ras manusia, karena dengan menikah nantinya akan terbentuk sebuah keluarga, dimana keluarga merupakan sebuah institusi yang dapat melindungi proses kehidupan sesorang secara holistik/keseluruhan (dari fase awal sampai pemetikan hasil). Laki-laki, wanita dan anak-anak membutuhkan institusi yang permanen dan jangka panjang untuk memainkan perannya dan hal tersebut didapatkan di keluarga.
6. Stabilitas psikis-emosional. Objektivitas sebuah pernikahan adalah untuk mencapai jalinan pertemanan psikologis, emotional dan spiritual. Hubungan dalam keluarga, anatara semua anggotanya dan yang paling penting dari semuanya adalah, antara suami dan istri, bukan sekedar hubungan yang berasas manfaat belaka.

Pernikahan merupakan hubungan spiritual, menopang dan menumbuhkan cinta didalamnya, kebaikan  belas kasih,saling percaya, pengorbanan diri,penghibur dan  saling membantu satu sama lain.

Keluarga merupakan iklim yang paling cocok untuk mengembangkan dan memenuhi kepribadian manusia. Oleh karena itu Rasulullah SAW bersabda bahwa RUMAH ADALAH TEMPAT YANG PALING BAIK DI DUNIA.

Pada lain hal, hubungan antara pasangan diibarakan dengan tubuh dan pakaian {They are garments for you and you are garments for them.} (Al-Baqarah 2: 187)

 

Sebuah pakaian adalah sesuatu yang paling dekat dengan tubuh manusia dan merupakan bagian dari dunia luar yang menjadi bagian kepemilikan kita. Seperti juga halnya dengan hubungan antara pasangan. Pakaian adalah  sesuatu yang menutupi tubuh dan melindunginya. Pasangan adalah penjaga dan pelindung satu sama lain. Suami dan istri saling melengkapi satu sama lain, satu melengkapi dan menyempurnakan dan mengindahkan satu sama lain.

 

Semua aspek ini dapat diistilahkan dalam satu frase yang ringkas, yaitu :

"You are like a garment for each other."

 

 

Untuk itulah, yang menjadi pertanyaan adalah bukan sudah siap atau belum siap untuk menikah??? tapi apa, siapa, dimana, kapan dan bagimana????????????????????????????????????????????????????. Mampukah mengarungi bahtera yang tidak pernah kita tahu kemana alirannya?????.

 

May 11, 2008

Ketika Masalah dan Ujian itu Datang Beriringan

Filed under: Islam, My Voice

Bismillahirrohmanirrahim, 

 

Setiap manusia dalam hidup tidak akan pernah terlepas dari yang namanya masalah dan ujian. Yang menjadi pertanyaan adalah bukan APA masalah dan ujian yang sedang dihadapi, tapi BAGIMANA respon terhadap masalah dan ujian yang sedang kita hadapi saat ini. Boleh jadi masalah itu sepele buat kita, namun sangat kompleks bagi orang lain. Teringat akan firman Allah SWT dalam AL-Qur’an (Al Baqarah : 286) yang berbunyi : "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya". Ayat ini memberikan suatu motivasi bagi kita bahwa masalah dan ujian yang diberikan oleh kepada kita sudah diukur batas kesanggupannya dengan ketentuan yang telah Allah tetapkan. Namun, sering kita tidak sanggup dan menyerah terlebih dahulu atas masalah dan ujian yang sedang dihadapi.

Apalagi masalah dan ujian itu datang beriringan, seakan-akan kita adalah orang yang paling durjana di dunia ini. Seakan-akan waktu berhenti berputar dan semangat tak lagi hadir dalam diri ini. Subjektivitas pun muncul dan berkecamuk sehingga merusak kedamaian hati dan keimanan. Mengubah masalah menjadi rahmah begitu sulit untuk diterapkan tatkala kita semakin jauh dariNya dengan ujian dan permasalahan tersebut. Dengan masalah dan ujian tersebut, sang JABBAR memberikan peringatan dan lemparan batu agar kita mengingatNya dan menjadi manusia yang lebih baik tentunya, baik dalam artian multidimensi tentunya,  yaitu baik secara hablum minallah, baik secara hablum minannas, baik dalam kehidupan masyarakat dan lingkunga dan kebaikan yang lain.

Masalah dan ujian adalah 2 hal yang membuat manusia menjadi semakin dekat sang Khalik atau semakin menjauh dari sang Khalik. Mendefinisikan masalah dan ujian dengan kompresi makna NIKMAT alangkah begitu sulitnya, karena kita sebagai manusia sudah mengkompresi bahwa masalah dan ujian adalah petaka (astaghfirullah). Introspeksi diri atas semua hal yang telah terjadi, menjemput hidayah dengan jalan sendiri melalui pemahaman dan pengembangan diri dalam aspek spiritual, menjemput hidayah melalui kisah dari lingkungan sekitar akan semakin banyak mengisi ruang-ruang ruhiyah kita yang kosong menjadi terisi dengan suatu nilai syukur disertai terucap dalam hati "Alhamdulillah, ternyata masalah yang saya alami tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan orang itu, masih bersyukur saya bisa makan, bisa minum dan bisa melakukan berbagi macam aktivitas, sementara mereka tidak tahu apa yang akan dimakan besok, dimana mereka tidur besok, kemanakah harus bercerita untuk melepas semua sesak dalam dada mereka tersebut (fiuhhh..hidup adalah pembelajaran dan perjuangan)".

Ketika masalah dan ujian itu datang, banyak-banyaklah men-tadabburi (mempelajari–>membaca dan memahami maknanya) karena isi Al Qur’an sangat representatif mewakili setiap hal yang sedang kita hadapi saat itu. Waktu itu sedang suntuk-suntuknya dengan beberapa  permasalahan dan ujian-ujian yang lain, seusai shalat wajib saya lanjutkan sejenak dengan membaca Al Qu’ran yang sampai pada bacaan surat Ar-Rum dan kemudian saya baca artinya beberapa ayat, diantaranya yang membuat saya tercambuk adalah :
(Ar-Rum : 36) : "Dan apabila Kami Berikan sesuatu rahmat kepada manusia, niscaya mereka gembira dengan (rahmat) itu. Tetapi apabila mereka ditimpa sesuatu musibah (bahaya) karena kesalahan mereka sendiri, seketika itu mereka berputus asa".

(Ar-Rum : 37) : "Dan tidaklah mereka memperhatikan bahwa Allah yang melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan Dia (pula) yang membatasi (bagi siapa yang Dia kehendaki). Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang beriman".

(Ar-Rum : 54) : "Allah lah yang meciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan kuat  menjadi lemah (kembali) dan berubah. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dan Dia maha mengetahui, Maha kuasa."

Kekuatan yang dimiliki seseorang berawal dari masalah dan ujian yang sering dia hadapi. Saat suatu masalah dan ujian terlewati bertambah satu kekuatan dalam dirinya dan menunggu satu kelemahan yang lain sebagai input kekuatan baru atas masalah dan ujian lain yang akan dihadapinya.

Ya BASITH berikanlah kelapangan dan jalan keluar atas masalah dan ujian yang tengah dihadapi ini. Robbana afrigh alaina shabran wa tsabit aghda mana fanshurnaa ala qaumil kafiriin =  (…Ya Alloh, limpahkan kami kesabaran. tegakkanlah kaki kami kembali, Lindungilah kami atas orang-orang yang membenci kami …). Amin Allahumma Amin.

May 7, 2008

Ceramahin gw dong

Filed under: Islam, My Voice

Bismillahirrohamnirrohim,

Di sela-sela kesibukan bekerja (padahal gak sibuk-sibuk banget…tapi ada saja yang dikerjain) saya mendapatkan private message dari temen yang saya pikir dia mau menginformasikan atau mengisengi saya, berikut percakapannya :

angga-bebun’03: is
ismi: yuhu
angga-bebun’03: ceramahin gw dong
ismi: knp???
ismi: ttg apa dl niy??
angga-bebun’03: ga tau nih,,lg ngerasa ga beres aja
angga-bebun’03: dorongan pengen salat kuat bgt,,tp gw nya males2an
ismi: oooo gt ya
ismi: emang lg ada msh ga skrg???
angga-bebun’03: banyak pikiran aja sih
ismi: cb ambil wudhu
ismi: trs sholat dhuha skrg
angga-bebun’03: klo bisa nangis dari kmrn,,gw nangis deh is
angga-bebun’03: blm mandi gpp is??
ismi: gpp
ismi: ambil wudhu aja
angga-bebun’03: ada bacaannya??
ismi: trs sholat dhuha
angga-bebun’03: niatnya??
ismi: 2 rakaat
ismi: niat aku sholat dhuha 2 rakaat
ismi: baca al fatihah
ismi: yg pasti
ismi: suratnya apa aja
ismi: yg tau aja deh
ismi: abis itu banyakin istighfar
ismi: setelah itu YM lg
angga-bebun’03: yaudah,,makasih ya is
ismi: ok ok
ismi: ditunggu balesannya

Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayahnya kepada kita semua dan ketenangan hati serta batin. 

Alhamdulillah, saya sangat senang mendapatkan YM yang demikian dari dia, karena selama berteman dengan dia baru kali ini dia ingin "diceramahin" tentang sholat. Masih ingat salah satu statement dari teman kakak saya yang mengatakan bahwa titik sentuh batin setiap orang sholat itu beda-beda, ada yang benar-benar batinnya tersentuh ketika dia sholat dzuhur, ashar, maghrib, isya’ atau shubuh atau mungkin saat menunaikan sholat dhuha. hal ini tergantung suasana hati. Saya menyarankan teman saya sholat dhuha karena merupakan waktunya untuk sholat dhuha dan momentnya pun tepat disebabkan dia bingung dan banyak pikiran dan insyaAllah sholat dhuha akan membuka pintu-pintu rejeki dan rahmat dari Allah SWT….amin allahumma amin.

April 13, 2008

Tanda-tanda hati beriman

Filed under: Islam

Bismillahirrohmnirrohim,

Rasa tidak pede (percaya diri, red) menyelimuti diri ketika akan memposting tulisan ini, namun dorongan hati membuat hal ini menjadi sebuah softcopy yang insyaAllah akan memberikan trigger yang signifikan untuk diri sendiri dan untuk orang lain juga agar senantiasa meng-update hati menuju nilai-nilai ilahiyah yang lebih bermakna.

Melalui torehan 2 lembar kertas yang saya minta dari teman saya dan pena yang saya pinjam dari salah seorang yang kami tuakan, saya pun mencatat materi kali ini dengan judul diatas. Dibawah ini simpulan yang dapat share kepada teman-teman semua.

Perumpamaan hati yang beriman dan tidak beriman adalah ibarat 2 tanaman, yang ditempatkan dan diperlakukan dengan cara yang sama, misalnya : diberikan cahaya yang sama, pupuk yang sama, disiram tiap hari dan hal yang sama lainnya (silahkan anda tanyakan ke ahli biologi..perlakuan yang sama dalam tanaman seperti apa..karena saya kurang berkompeten menjelaskan hal ini biar lebih ilmiah lagi). Walaupun kedua tanaman tersebut diperlakukan dengan cara yang sama, namun hasil tumbuh kembangnya berbeda (Tumbuh sudah pasti…Dewasa adalah pilihan), mengapa bisa terjadi demikian?????. Melihat fenomena ini, tentunya kita akan berpikir mengapa hasil tumbuh kembangnya berbeda padahal perlakuannya sama, berarti ada hal mendasar yang membuat tanaman ini tidak mengahsilkan hal yang sama. Hal mendasar dari ketidaksamaan hasil tersebut adalah karena faktor tanah dimana tanaman itu tumbuh berbeda.

Tanah dalam hal ini diibaratkan dengan hati, tanah yang subur ditanami apa saja akan tumbuh. Sementara tanah yang gersang, walaupun pupuk dan kandungan unsur hara yang ditambahkan kepadanya sama atau mungkin melebihi volume yang diberikan pada tanah yang subur tapi tetap tidak menghasilkan tumbuhan berkualitas yang diharapkan.

Begitu pula dengan hati, hati yang bening (= tanah yang subur) gampang menerima nasihat dan masukan dari orang lain sehingga ditanam kebaikan apapun dari luar hal itu senantiasa tumbuh dan berkembang dalam dirinya. Dengan demikian menyebabkannya banyak melakukan amalan-amalan sholeh. Sementara hati yang kotor (= tanah yang gersang) sulit menerima nasihat dan masukan dari orang lain.

Berikut ini adalah tanda-tanda hati yang beriman (= hati yang bening = hati yang selamat == QALBUN SALIM), yaitu :

1. Cinta kepada Allah dengan amat sangat
Berdasarkan surat Al-Baqarah 165 : " …Adapun orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah… "
Indikasi dari rasa cinta kepada Allah antara lain adalah sebagai berikut :
– Rela berkorban, misalnya : Menunaikan ibadah qiyamul lail di saat orang lain nyenyak dalam tidurnya, memberikan sedekah dan berzakat, dll.
– Rela menanggung resiko, (ckckck….contohnya silahkan anda refleksikan sendiri dalam kehidupan sehari-hari anda).
– Sesuatu ujian yang berat menjadi ringan dan yang ringan menjadi tidak ada (klo boleh dibilang mampu melakukan manajemen ujian…bersyukur di kala senang dan susah…"Dan janganlah berputus asa dari rahmat Allah")
– Timbul perasaan takut ditinggal Allah (**Yaa Muqallibal qulub tsabbit qalbi aladdin wa ala thaatiq**Wahai yang membolak-balik hati manusia tetapkanlah hati ini dalam agama dan ketaatan kepadamu….Yaa Allah jangan Engkau jauhkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk)
2. Kembali dan bergantung kepada Allah
Susah maupun senang curhatnya tetap kepada Allah. Perkembangan teknologi dan peradaban tidak menjadikan ketergantungan kita kepada Allah berkurang. Misalnya : Pengaman digital, firewall, satpam, lie detector, metal detector dll tidak membuat kita mengurangi ketergantungan kepada Allah karena teknologi dan kapasitas yang dimiliki oleh mereka.
3. Asik dalam beribadah
Ibadah sebagai titik pemberhentian bagi manusia untuk mengintrospeksi dirinya sebagai mahluk dan mengakui akan kebesaran sang khalik. Suatu ketika Rasulullah berkata kepada Bilal: "Hei Bilal..Istirahatkanlah kami dengan sholat". Terlihat bahwa sholat merupakan salah satu bentuk ibadah kepada Allah yang menjadi tempat peristirahatan bagi manusia untuk menjembatani antara urusan dunia dan urusan akhirat. Ibadah juga merupakan bentuk penghambaan kita kepada Allah agar kita menjadi manusia yang menghormati dan menyegani Allah. Jika kita sudah menghormati dan menyegani Allah maka insyaAllah penghuni bumi pun (manusia dan teman-teman) akan menghormati dan menyegani kita juga walaupun tanpa kita minta.

Diterima atau tidaknya kualitas suatu ibadah dilihat dari 2 sisi, yaitu :
a. KEIKHLASAN
b. Sesuai dengan SYARIAT/TUNTUNAN

4. Rindu kepada Allah
Setiap ada panggilan dan ajakan untuk menyeru kepada jalan Allah selalu buru-buru.
5. Tentram bersama Allah
Hati menjadi damai karena dekat dengan Allah ("Ingatlah…hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang"…)
6. Memperhatikan waktu 
indikasinya adalah sebagai berikut :
– cemas jika waktunya sia-sia, setiap waktu digunakan untuk hal-hal yang positif dan memberikan dorongan yang positif untuk senantiasa memaknai setiap nikmat yang Allah berikan agar meningkatkan keimanan kepada Allah.
– pelit terhadap waktu, hampir tidak ada waktu kosong karena setiap saat diisi dengan hal-hal yang bernilai ibadah.

Terkait dengan waktu ada satu hal menarik yang insyaAllah bisa kita real-kan dalam kehidupan sehari-hari…pertanyaannya adalah "ketika ada waktu 1 menit..apa yang akan anda lakukan"…MEMAKNAI KEBERARTIAN 1 MENIT..jawabannya adalah–> menurut hadits :"Barang siapa mengucapkan SUBHANALLAH HIL ADHIIM akan ditanamkan sebuah pohon kurma di surga" (mengucapkan lafadz ini mungkin hanya beberapa detik saja tidak sampai 1 menit, namun dari hal yang kecil kita bisa mendapatkan hal yang besar).
7. Orientasinya hanya kepada Allah
Orang yang beriman melihat dosanya seperti gunung, sedangkan yang tidak beriman melihat dosanya seperti lalat yang hinggap. 
8. Lunak untuk berdzikir
Selalu mengingat Allah dimanapun berada. Senantiasa memandang sesuatu menurut nilai-nilai keilahian Allah.

"LET’S TAKE A CHANCE FOR GETTING AL-AHAD’s MERCY"

// Be carefull with your spoken coz its reprensted your heart….pure heart contains exemplary words//

Hope we can be a better human being…..Amin Amin Amin. 

 

April 12, 2008

Hak dan Kewajiban di Jalan

Filed under: Islam

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Membaca majallah Hidayatullah edisi 12|XX|April 2008 yang terbaring di kamar kosan saya yang beberapa waktu yang lalu dibeli dan dibaca oleh abang saya yang memuat tentang judul diatas, sehingga keinginan untuk mem-posting hal ini tertulis. Membaca topik ini semakin menambah kecintaan saya terhadap Islam,’Islam itu Indah’ sampai adab di Jalan pun diatur dan secara saya juga anak jalanan (anak motor, red) sehingga topik ini relevan dengan kondisi saya.

Agama Islam menetapkan berbagai tuntutan terkait dengan interaksi manusia, termasuk di jalan. Beriku beberapa adabnya :

1. Menghindari nongkrong di pinggir jalan
Sabda Rosulullah: "Jauhilah duduk-duduk di pinggir jalan" (Riwayat Bukhari dan Muslim)
2. Menunaikan hak-hak jalanan
Berdasarkan penuturan Rosulullah menjawab pertanyaan para sahabat, beliau mengatakan bahwa hak-hak di jalanan itu adalah "Tidak mengumbar pandangan, mencegah kerusakan, menyeru kepada kebaikan dan mencegah segala kemungkaran"(Riwayat Bukhari dan Muslim).
3. Menunjuki orang yang bertanya
Sabda Rosulullah "Dan menunjuki jalan kepada seseorang adalah sedekah"
4. Menyingkirkan duri
Dalam sebuah riwayat disebutkan, ada seseorang laki-laki yang tak pernah mengerjakan sebuah kebajikan sedikit pun, kecuali ia pernah menyingkirkan sepotong duri dari jalanan atau ia menghilangkan sepotong dahan pohon yang membahayakan orang lain.
5. Tidak membuang hajat
Rosulullah bersabda "jauhilah 2 perkara yang terlaknat!!" Para sahabat bertanya dan kemudian rasulullah menjawab tentang 2 perkara tersebut : "Orang yang membuang hajat di jalanan umum atau di tempat pemukiman penduduk".(Riwayat Muslim).
NB : yang ini masih belum paham niy, definisi jalanan umum yang gimana sama pemukiman penduduk yang seperti apa????….Ada yang bisa menjelaskan???(thx b4 & after). 
6. Laki-laki lebih berhak lewat di tengah
Sabda Rasulullah kepada para wanita "Perlambatlah jalan kalian terlebih dahulu. Sebab bukanlah hak-hak wanita memenuhi jalan tersebut. Hendaknya kalian berjalan di pinggir-pinggir jalan"
Seyogyangya, jika laki-laki berpapasan dengan wanita maka ia lebih berhak untuk lewat di tengah jalan. Adapun wanita, ia dianjurkan berjalan di pinggir.
7. Tidak membahayakan orang lain
Misalnya : ugal-ugalan
8. Berhati-hati
9. Memberi tumpangan kepada yang lain
10. Saling memberi salam jika berpapasan. 

 

 

 

March 27, 2008

Keutamaan Ilmu

Filed under: Islam

Bismillahirrohmnirrohim,

Ketika nabi Sulaiman ditawarkan untuk memilih antara Ilmu dan Harta maka beliau pun menjawab bahwa beliau memilih ILMU karena dengan ilmu bisa mendapatkan harta. Berbicara tentang ilmu memang selalu erat kaitannya dengan jenjang pendidikan formil yang ada dan berlaku di suatu kawasan atau regional. Namun, tidak demikian dengan Islam, Islam mengajarkan umatnya untuk memaknai ilmu secara global dan tidak hanya bersifat temporer belaka.

Menurut islam, ada 2 jenis ilmu, yaitu ilmu dunia dan ilmu akhirat. Adapun komposisi dalam meraih kedua jenis ilmu ini hendaklah berimbang karena akan semakin membuat manusia menjadi lebih bersykur dan bepikir bahwa ilmu yang telah beliau dapatkan punya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan ilmu yang Allah miliki untuk mengatur langit dan bumi beserta isinya dan mengatur kehidupan akhirat yang tidak seorang pun manusia yang dapat membedahnya dengan  teori apapun.

Itulah ilmu Allah yang tanpa batas dan multidimensi. Sedangkan ilmu manusia hanya sepersekiannya dan tidak ada apa-apanya, jadi buat apa membanggakan ilmu yang dimiliki jika tidak bisa memanfaatkan ilmu itu dengan baik dan demi kemaslahatan orang banyak. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah bukan orang yang gelar keilmuannya banyak dan jenjang pendidikannya tinggi, tapi yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa. Untuk itulah harus diimbangkan kadar dan komposisi antara ilmu dunia dan akhirat. Kenapa begitu???karena tidak ada suatu yang abadi di dunia ini, keabadian hanyalah milik Allah semata. Bersyukur dan senantiasa menjadi insan yang berpikir atas nikmat dan rahmat yang telah dikaruniakan oleh Allah juga merupakan bagian dari pencarian ilmu.

Ilmu yang sebenarnya adalah ilmu yang bisa meningkatkan rasa ketaqwaan kita terhadap Allah SWT yang sennatiasa membimbing kita menjadi manusia yang mengerti peran dan manfaat kita dalam eksistensinya di dunia. Menurut Islam, ada 3 amalan jariyah (amalan yang terus menerus berjalan), yaitu :

1. Do’a anak shaleh terhadap orang tuanya

2. Ilmu yang bermanfaat

3. Shodaqah Jariyah.

Untuk itulah 

Banyak sekali keutamaan ilmu, tergantung bagimana kita memaknainya karena kita adalah subjek dan sekaligus objek dari applikasi ilmu yang ada. Manfaatkan ilmu yang ada untuk kemaslahatan orang banyak niscaya Allah akan menganugerahkan ilmu yang lain yang tidak pernah kita duga-duga sebelumnya.

Robbishrohli Sodri Wayassirli Amri Wahlul Uqdatam Millisai Yafqahu Qauli. 

Jangan menyerah

Filed under: Islam

Bismillahirrohmanirrohim,

Sebagaimana salah satu isi surat yusuf : "Dan janganlah berputus asa dari rahmat Allah….". Isi surat Yusuf ini juga sering dituturkan oleh Aba (Baca : Bapak, red) saya ketika kita (baca : anak-anak beliau) berkumpul. Walaupun waktu itu saya masih kecil, saya hanya bisa menghafalkannya saja tanpa saya mengerti maknanya apa karena kebetulan yang sering mendapat taushiyah ini adalah kakak-kakak saya, terutama mbak Fifik. Mbak Fifik pun sering mengulangnya dengan menceritakan kembali kepada saya.

Walaupun jasad beliau sudah tidak lagi di dunia (Allahumma fighlahu waa afihu wa’fu anhu), namun taushiyah-taushiyah yang telah neliau berikan amat berharga dalam setiap perjalanan yang sedang dan akan kami lalui nanti. Jangan menyerah dan terus berusaha serta jangan malas itulah tagline yang sering difloorkan oleh ayahanda kami tercinta. Ketika kami mengalami suatu permasalahan dalam memerankan lakon kami masing-masing beliau selalu memberikan taushiyah dan semangat agar kami bangkit sendiri dari permasalahan kami.

Dalam al qur’an juga disebutkan : "Allah tidak akan membebankan suatu kaum diluar batas kemampuan hambanya". Setiap masalah yang diberikan oleh Allah kepada kita sudah diperhitungkan bobot dan kapasitasnya dengan suatu tujuan agar semakin ingat dan dekat denganNya. Mungkin setiap orang memiliki masalah yang sama, namun dengan kekuasaan Allah setiap orang memiliki cara padang yang berbeda atas kesamaan masalah tersebut. Dengan berpikir dan berpandangan secara positif insyaAllah ada penyelesaian dari setiap masalah yang kita hadapi. "Tidak ada sehelai daun yang jatuh satu pun melainkan atas kehendak Allah". Sehelai daun saja jatuh atas kehendak Allah apalagi setiap permasalahan hidup yang kita, Allah telah sediakan seperangkat solusi yang bisa dijemput kapan pun manusia mau. Ingat!!!! menjemput solusi bukan menunggu datangnya dari langit, Islam mengajarkan kita bukan untuk menjadi seorang pemalas dan penanti sejati, tapi Islam mengajarkan kita bagaimana menjadi orang yang pantang menyerah dalam mencari rahmat Allah.

Rahmat Allah bertebaran di langit dan bumi dan itu tergantung cara pandang kita bagaimana cara kita menjemput rahmat itu. Rahmat Allah tidak hanya berwujud materi belaka, tapi juga ketenangan jiwa.."Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang". Ketika hati menjadi tenang maka energi positif dalam diri pun terurai untuk menyelesaikan suatu permasalahan yang sedang dihadapi dengan cara yang benar berdasarkan petunjuk dan tuntunan hati.

Akan selalu ada pelangi setelah hujan reda, sederas apapun hujan yang mengguyur bumi ini pasti akan ada pelangi yang muncul setelahnya, begitu pula dengan kita menyikapi masalah, bagaimana pun beratnya ketika semuanya telah dipasrahkan kepada Allah maka insyaAllah ada jalan keluar bahkan dengan cara yang tidak pernah kita duga-duga jalan keluar itu datang. Semua itu tergantung kepada diri kita bagaimana kita menyikapi masalah yang kita hadapi. Menyalanhkan diri sendiri atau menyalahkan orang lain itu tergantung bagaimana pemahaman dan pola pikir kita. Atau bisa juga menikmati semua yang terjadi dengan kemampuan yang ada dengan menganggap bahwa semua hal yang terjadi adalah bagian nikmat Allah yang merupakan ujian serta pelajaran hidup untuk menuju ke langkah selanjutnya dan tentunya dengan ujian yang lebih beragam dan tinggi tingkatannya dari sebelumnya. Jalani dan terus melangkah….Ikhlas dan Perbaiki diri.

// Sebuah persembahan untuk orang-orang tercinta dan tersayang yang senantiasa mengajarkan kepada saya tentang arti KETEGARAN dan PELAJARAN HIDUP….Semoga Allah senantiasa membalas setiap hal yang telah kalian berikan…Semoga kebaikan dan nikmat yang saya rasakan, kalian pun dapatkan lebih dari itu bahkan berkali lipat..Amin Yaa Dzal Jalali Wal Ikram…// 

 

February 25, 2008

Parents’ rights in Islam

Filed under: Islam
Allah has ordered us not only to pray for our parents, but to treat them with ultimate compassion, remembering that when we were helpless children they preferred us to themselves.

When they reach old age, Muslim parents are treated mercifully, with even more kindness than they were ever. Mothers are particularly honored; Prophet Mohammad (PBUH) said that ‘Paradise lies at the feet of mothers’.

Allah says in the Qur’an says, in Surrah BaniIsra’il:

"Your Lord (The Creator) has ordained that you worship none but Him, and that you be kind to the parents."

Prophet Mohammad (PBUH) said that the parents of a person are his Heaven or Hell. Which shows that if a person obeys his parents and fulfills their needs and comforts and keeps them happy, he will enter Paradise. But if he is rude and disobedient to them and offends them by ignoring their feelings or by causing them grief, his place shall be in Hell.

Pleasing the parents causes Allah’s pleasure.

Even if one’s parents are polytheists, and they want him to follow them, he should refuse, yet continue to be kind and respectful to them.

Asma’ bint Abu Bakr (May Allah be pleased with her) relates that her mother had come to the Madinah to meet her. Her mother followed the Pagan customs and beliefs. So Asma’ asked Prophet Mohammad (PBUH) how should she treat her mother, as she was a Pagan, and should she treat her like a daughter should treat her mother, and show kindness to her. The Prophet (PBUH) told her to be kind and considerate and to treat her with all kindness and respect.

Prophet Mohammad (PBUH) said that serving one’s parents well is an act of great virtue, he condemned disobeying them and harming them, and described such acts as the most serious and detestable sin.

When asked about the major sins, Prophet Mohammad (PBUH) replied." To associate another god with Allah, to disobey the parents, to kill unlawfully and to give false testimony."

The above-mentioned acts have been condemned as ‘Akbarul-Kabaair’ i.e. the most serious of the major sins. The order, in which Prophet Mohammad (PBUH) mentioned them shows that the disregard of parents’ rights is next, only, to Polytheism (Shirk) and it is even more serious than murder.

Anyone who seeks Allah’s satisfaction has to make sure that his parents are happy with him, not angry with him. Keeping the parents well pleased is essential since their anger and displeasure will lead to Allah’s anger and displeasure.

Prophet Mohammad (PBUH) said:

"In the good pleasure of the father lies the good pleasure of the Creator and in his displeasure, lies the displeasure of the Creator."

Although the mother was not mentioned in this (Hadith), or quote by Prophet Mohammad (PBUH), in many other Hadith’s, the Prophet (PBUH) has highlighted the right of the mother and stressed the importance of treating her kindly and attaining her satisfaction.

Abu Hurairah (May Allah be please with him) narrates that a person asked Prophet Mohammad (PBUH) "Who has the greatest claim on me with regard to service and kind treatment?" The Prophet replied, "Your mother, and again your mother, and once again your mother. After her, is your father, then that of your near relations and then of the relations next to them.

Allah says in the Qur’an:

"We have enjoined on man Kind, that he be kind to his parents: in pain did his mother bear him and in pain did she give him birth. The carrying of the (child) to his weaning is (a period of) thirty months. At length when he reaches the age of full strength and attains forty years he says ‘O my Lord! grant me that I may be grateful for Your Blessing which You have bestowed upon me and upon both my parents and that I may do righteousness as may please You; and make my offspring righteous. Truly I repent to You, and I am of the Muslims" (46.15)

Allah also says:

"Your Lord has commanded that you worship none but Him, and be kind to parents. If either or both of them reach old age with you, do not say ‘uff’ to them or chide them, but speak to them in terms of honor and kindness. Treat them with humility, and say, ‘My Lord! Have mercy on them, for they did care for me when I was little." (17.23-4)

Prophet Mohammad (PBUH) said:

"If anyone possesses these three characteristics Allah will give him an easy death and bring him into His Paradise: gentleness towards the weak, affection towards parents, and kindness to slaves.

A man once asked Prophet Mohammad (PBUH), "Shall I participate in war (Jihad)?" The Prophet asked, ‘Are your parents alive?’ The man said, "Yes." the Prophet (PBUH) said: ‘Do Jihad for their benefit.’ (Serving one’s parents is equal in honor to fighting against an enemy of Islam.

Prophet Mohammad (PBUH) also said:

"He who casts up the favors he has done, he who is disobedient to parents and he who is addicted to wine will not enter Paradise

 
My own comment :  
I realize that I’m not good kid, but I’ll learn how to be a better kid for my parents, especially for my mother (I call her "Ummi)….Ummi I love you, now and forever, I couldn’t express my love with oral words…my love for you is on my tears and my worship…I hope Allah always bestow you…Amin Amin Amin Yaa Rabbal ‘alamin. Rabb, give me strengths for making my mother happy and proud of me…Amin yaa Rabbal ‘alamin. I beg your pardon ummi that we (me, bro and sis) couldn’t reply your big struggles to us but someday we’ll prove that  our existing and sucessfull is caused of you.
 
Best Regard and Big honour for my best mother in the world.-your daughter-. 
runaway with my heart
runaway with my hope
runaway with my love
you always live in my soul………..just in my deepest soul coz you one of my paradise. 

January 5, 2008

Memperlakukan Tamu

Filed under: Islam

Setting tempat dan situasi : Di rumah kakak (Mbak Fifi) di Surabaya, dia sedang mencuci piring dan saya berada di belakangnya mengoperasikan komputer sambil cerita-cerita juga.

Jangan milih-milih tamu, siapapun yang mengunjungi rumah kita maka perlakukanlah dia dengan baik. Dia berujar demikian :

"Tamu….Ketika datang/berkunjung ke rumah membawa rezeki dan ketika pulang membawa dosa orang yang punya rumah" (tolong jangan diartikan mentah-mentah, tapi tolong artikan secara dewasa dan mendalam…).

Selama 3 hari, sebagai pemilik rumah, maka kewajiban kita untuk melayani tamu tersebut dan ketika lebih dari 3 hari maka biarkan dia yang mengurus keperluannya sendiri (dalam artian..jika lebih dari 3 hari berarti dia sudah tahu bagaimana menempatkan dirinya dalam rumah yang bersangkutan).

Oleh sebab itulah, maka berikanlah pelayanan kepada tamu kita dengan sebaik-baiknya sesuai dengan kemampuan yang kita miliki (tidak usah terlalu berlebihan…biasa saja..tapi tetap menghargai tamu yang datang berkunjung ke tempat kita…).

Bersyukurlah jika rumah atau tempat kita menjadi bagian dari kunjungan orang lain, karena insyaAllah rezeki banyak berdatangan. Rezeki bukan hanya materi belaka tapi bisa juga dalam bentuk yang lainnya.

Semoga tulisan yang singkat ini bermanfaat dan pembaca sekalian dan khususnya saya sendiri bisa menjadi orang yang bisa melayani tamu dengan baik.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by B A Khan