June 28, 2008
June 21, 2008
Gabung di milis smunsa_bkl yuks!!!
HI ALL…
Buat kamu2 yang ngerasa alumni SMUN1 Bangkalan, silakan gabung di milisnya dengan alamat :
1. smunegerisatubangkalan@yahoogroups.com
2. smunsa_bkl@yahoogroups.com
(lah kok saya gak ada fotonya ya????).
Caranya gimana????? (ckcckckckckc) :
Kamu kirim email kosong aja ke alamat email tersebut, salam kenal ya dari saya. Semoga bisa bertemu dengan teman2 saya di kelas 1-1, 2-4 dan 3IPA1.
SMUNSA BANGKALAN 4EVER!!!!
Bersepeda, Duluan Bangkalan kali
May 9, 2008
Bukan Garam Saja, tapi BATIK juga
Ketika SH meninjau ke daerah tersebut beberapa waktu lalu, kedua jenis komoditas ini menjadi bagian cerita menarik sepanjang perjalanan. Sejarah mencatat kesuksesan para pengrajin batik dan jamu di sana. Yang membuatnya menjadi seperti itu, barangkali karena kedua komoditas itu menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi masyarakatnya sendiri.
Industri jamu berkembang karena khasiatnya. Apalagi yang tak terbantahkan, mitos seputar kehebatan jamu madura yang jika dikumpulkan bisa menjadi kumpulan cerita folklor. Tapi produk yang satu ini akan dibahas pada kesempatan lain.
Industri kecil yang menjadi kebanggaan daerah ini memang batik. Bagi Madura, batik bukan hanya sehelai kain, namun telah menjadi ikon budaya dan sering menjadi objek penelitian banyak institusi. Di berbagai buku batik terbitan luar negeri, batik Madura menjadi perhatian khusus. Motif dan warna yang tertuang di dalam kain panjang itu, merefleksikan karakter masyarakatnya. Khususnya batik buatan Tanjung Bumi di Kabupaten Bangkalan.
Tak heran jika H Affandi, pemilik industri kecil batik tulis “Annis” di Tanjung Bumi, Bangkalan, tak repot-repot untuk menjual hasil produksinya. Menurutnya, para pembeli datang dari berbagai kota di luar Madura, terutama pada hari libur. Begitu juga peminat batik dari mancanegara sering mampir ke tempatnya untuk berbelanja. Walau lokasinya bukan di jalan utama, para pembeli tak kesulitan. Sebab, daerah Tanjung Bumi sejak dulu sudah terkenal sebagai sentra industri kecil batik dan menjadi objek tujuan wisata sekaligus.
Ketika sanggar batik Affandi didatangi rombongan wartawan dari Jakarta, dia tampak senang. Apalagi dua stasiun televisi swasta merekam kegiatan usahanya. Batik yang tersimpan di lemari dipamerkan sembari dijelaskan satu persatu nama dan motifnya. Istrinya dengan bahasa Indonesia logat Madura, cukup sibuk melayani pertanyaan para wartawan. “Batik saya diborong ya,” ujarnya berharap.
Di sini batik termurah dijual Rp 30 ribu dan termahal Rp 250 ribu. Yang membuat mahal, menurutnya, tergantung bahan kainnya. Kalau terbuat dari sutera, jelas mahal. Tapi yang membuat dia heran, turis asing lebih menyukai batik murah yang bahannya katun (kasar) ketimbang yang terbuat dari sutera. Malah turis lokal lebih menyukai batik sutera yang halus.
Ketuk Pintu
Jangan membayangkan jika mampir ke Tanjung Bumi akan mendapatkan pemandangan seperti Pekalongan (Jawa Tengah), di mana terdapat banyak show room batik. Di sini harus ketuk pintu rumah dulu. Sebab kebanyakan pengrajin tak memasang nama sanggarnya. Tapi yang memudahkan untuk mencari di mana tempat pembuatan batik, dari aroma lilin. Jika baunya tajam, di belakang rumah itu sedang ada kegiatan produksi.
Apa yang terjadi rumah Affandi, sama sekali tak ada bau lilin menyengat. Tapi oleh panitia, para wartawan diarahkan ke sana. Ternyata selidik punya selidik, sanggar batik “Annis” layaknya inti. Sedangkan rumah-rumah di sekitarnya sebagai plasmanya. Tak heran di bagian belakang sanggar, yang merupakan rumah-rumah penduduk aroma lilin begitu menyengat. Di sini tampak para ibu sedang membatik membatik. Sementara para kaum lelaki sedang “di dapur” memasak (merendam) kain untuk menghilangkan lilin atau memberi warna.
Di Tanjung Bumi, menurut penjelasan staf Dinas Pariwisata setempat, orang seperti Affandi cukup banyakdi sini. Mereka bekerja sama dengan masyarakat di sekitarnya. Inti menyediakan modal kain berikut perangkat penunjang (bahan pewarna), alat membatik dan sebagainya. Sementara masyarakat (plasma) menyetor (batik) pada juragannya (inti). Model kerja sama seperti itu, menurut staf tadi, tidak kaku seperti itu. Ada juga pengrajin yang memiliki modal untuk membuat batik, namun hasilnya disetorkan ke pedagang atau dijual sendiri ke pembeli yang kebanyakan turis.
Sumarni, ibu dua anak, yang sedang asyik membatik di lantai rumahnya, mengaku, batik yang sudah jadi tidak harus disetorkan ke pedagang. Kalau ada pembeli yang datang dan cocok dengan motif dan harga maka akan dijual. Menyetor ke pedagang atau menjual langsung, sama-sama untung. Diakuinya, dirinya memang memiliki ikatan emosional dengan pedagang batik yang ketika dia sedang mengalami kesulitan keuangan, pasti dibantu.
Menurutnya, untuk menyelesaikan batik tulis waktunya tergantung tingkat kesulitan motif. Bila bentuk yang harus ditulis kecil dan rumit, prosesnya bisa dua bulan.
Persoalan bahan baku menjadi penting mengingat selama ini para pengrajin batik mendapatkannya dari luar Madura. Ke depan akan lebih ideal lagi jika kebutuhan bahan baku itu bisa dipenuhi dari Madura sendiri. Para pengrajin batik di Kabupaten Bangkalan, sebenarnya bukan hanya di Tanjung Bumi, tapi terdapat juga yang tersebar Modung, Blegah, Socah dan Kokop. (SH/gatot irawan)
April 25, 2008
SMUN 1, SMU Terfavorit di Bangkalan
April 11, 2008
Padha Baras??????
Assalamu’alaikum Wr,Wb,
Tan tretan Madura sadaja kadhi ponapa kabarra???Padha baras sadaja gi???, Alhamdulillah badhan kaula neng ka’ dhinto sae jugan.
Ga moga tolesan dhalem basa Madura gapaneka badhi basa Madura tetep eangguy klaban oreng Madura ban oreng-oreng se ampon nyabis ka Madura.
Settong Madura, Settong basa, settong budaya maske bidhe kabupaten. Bangkalan, Sampang, pamekasan ban Sumenep gapaneka padha sareng Madura…..enggi napa bunten??????????
//terinspirasi karena rindu akan bahasa Madura….jadi tertulislah ungkapan seperti ini…tolong revisi ya klo ada bahasa yang salah soalnya rada-rada lupa klo pake bhs yang halus//
February 6, 2008
Imlek Menjelang, Jeruk Lokam pun Tereliminasi
"Gong xi fa chai, xin nian kuai le, nian nian you yu" (semoga tahun-tahun yang akan datang menjadi makmur), inilah ungkapan yang acapkali kita denger ketika Imlek (tahun baru China) menjelang. Xin Cia 2008 yang akan jatuh pada tanggal 7 Februari 2008 disambut sangat antusias sekali oleh masyarakat Indonesia keturunan tionghoa.
Perayaan Imlek dari tahun ke tahun semakin semarak saja, sampai-sampai sudah menjadi bagian dari kultur masyarakat Indonesia yang bukan keturunan tionghoa. Transparansi dan kemeriahan imlek ini berawal ketika Bapak K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi presiden. Untuk warga negara Indonesia keturunan tionghoa sosok Gus Dur menjadi sangat penting sekali dalam memberikan khasanah dalam kebhinekaan negeri ini.
Kemeriahan imlek ini pun tampak dari padatnya jumlah pengunjung mall dan pasar swalayan di wilayah Jakarta, seperti halnya di daerah kota, Jakarta. Menjelang 4 hari sebelum imlek, sebagaian besar warga negara keturunan tionghoa memadati mall/pusat pertokoan untuk berbelanja kebutuhan imlek, seperti baju, makanan, pernak-pernik dan lain-lain. Nuansa mall pun ikut memerah juga menyambut datangnya imlek ini.Kondisi riil yang saya lihat sendiri adalah di kawasan mall gajah mada (atau yang lebih dikenal GMP–> Gajah Mada Plaza), tepatnya di Hypermart, dalam hal ini petugasnya melakukan reload trolley setiap sejam sekali dan antrian kasir pun sangat padat merayap sekali tanpa harapan rasanya jika tidak sabar menunggu.
Hal yang cukup menjadi perhatian adalah banyak dari mereka yang berbelanja jeruk lokam mandarin sampai berkardus-kardus dan hal ini sempat dipertanyakan oleh teman saya. Pertanyaan ini pun saya tampung untuk kemudian saya menanyakannya pada teman saya yang memiliki garis keturunan tionghoa dan terlibat langsung dengan pesta perayaan ini.
Berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari teman saya yang beraal dari pulau Bangka. Dia menyatakan bahwa ketika imlek tiba maka setip rumah atau keluarga meyediakan makanan dan buah-buahan yang nantinya akan dinikmati oleh tamu dan saudara-saudara yang berkunjung dan yang lebih penting lagi adalah bahwa makanan tersebut (termasuk di dalamnya buah-buahan) akan dijadikan sebagian sajian ke leluhur (dikenal dengan "Sesajen"). Kenapa harus jeruk mandarin lokal?????, sebenarnya tidak ada keharusan untuk menyediakan jeruk jenis ini, dikarenakan praktis dan mobilitasnya tinggi maka mayoritas peraya imlek menyajikan buah ini. Masih menurut sumber yang sama, sebenarnya selain jeruk jenis ini ada juga jenis buah-buahan lain yang disediakan, seperti : klengkeng, leci dan lain-lain (yang tidak membutuhkan alat bantu yang merepotkan untuk menyantapnya). Dan menurut sumber yang berbeda lagi, kenapa jeruk lokam ???, dia mengatakan bahwa pada bulan-bulan imlek sedang musim jeruk mandarin lokam. Jika bisa saya analogikan kondisi ini dengan kondisi bulan ramadhan, maka jeruk mandarin lokam sama dengan mentimun suri, yang hanya beredar dan musim-musimnya pada bulan tertentu saja. Sebenarnya pada bulan-bulan yang lain, buah jenis ini ada, namun karena push dan keinginan dari pasar tidak begitu banyak sehingga mendorong buah-buahan jenis ini pada bulan-bulan yang lain tidak begitu terdongkrak tingkat penjualannya.
Adapun untuk ritual xin cia itu sendiri adalah sebagai berikut (menurut sumber yang berbeda lagi) :
- Pada malam xin cia, mereka mengadakan acara makan bersama keluarga inti.
- Ketika xin cia tiba-tiba, mereka mengunjungi rumah sanak saudara (yang lebih muda mengunjungi yang lebih tua).
- Dalam kunjungan tersebut, terjadi transaksi bagi-bagi anpao (baca :uang), dari sanak saudara yang sudah menikah dan bekerja (ingat ya! ada kata "dan" yang berarti 2 kondisi harus dipenuhi), bagi yang sudah bekerja tapi belum menikah tidak wajib memberikan angpao. Selain acara bagi-bagi angpao juga terdapat acara makan-makan bersama atas makanan yang sudah disajikan oleh tuan rumah. Jika dipikir-pikir, perayaan xin cia ini hampir mirip dengan lebaran, ada acara pembagian sedekah dan silaturrahim (saling mengunjungi saudara-saudara yang jauh maupun dekat).
Terlepas dari itu semua, saya sangat salut sekali dengan beberapa teman saya yang rela pulang kampun untuk menyambut perayaan ini dengan alasan bahwa sebuah hal yang langka bisa kumpul-kumpul bersama anggota keluarga, baik yang besar maupun kecil. Masyarakat tionghoa saja bisa meletarikan dan memberikan nuansa tersendiri bagi budayanya, khususnya dan bagi budaya Indonesia , umumnya,kenapa kita yang juga sama-sama bagian dari pembentuk budaya Indonesia tidak mampu membuat warna tersendiri bagi khasanah budaya bangsa kita, karena Indonesia adalah bangsa bhineka Tunggal Ika (Berbeda tetapi tetap satu jua….SD banget bahasa saya).December 29, 2007
Penggunaan Bahasa Madura
Jelas, Bahasa Madura adalah bahasa yang digunakan oleh orang Madura, namun demikian, saya sebagai orang Madura cukup bisa membedakan tentang ciri khas bahasa Madura yang digunakan oleh orang Madura asli dan bahasa Madura yang digunakan oleh orang Madura yang tinggal di luar wilayah Madura.
Secara regional, Madura terbagi atas 4 wilayah, yaitu Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Bangkalan yang merupakan pintu gerbang Madura terkenal dengan kegaulan bahasanya dalam penggunaan bahasa Madura (biasa dijuluki Surabaya-nya Madura). Sementara Sampang terkenal dengan kekhasan, kelugasan, ketegasan dan penekanan dalam penggunaan bahasanya. Pamekasan berada diantara kekhasan Sampang dan Sumenep. Dan Sumenep yang merupakan ujung Madura terkenal dengan kesantunan dan kehalusan dalam penggunaan bahasa Madura-nya (secara!!! ..Sumenep kan pusat peradaban Madura..biasa dijuluki Solo-nya Madura).
Pada intinya, ada 3 tingkatan dalam Bahasa Madura, yaitu :
1.Bahasa Enja’-Iya (EI), merupakan tingkatan yang digunakan jika berkomunikasi dengan orang yang lebih muda.
Contoh : Ke adik kita, kita memanggil dengan kata sapaan “Be’e/Be’na” yang berarti “Kamu”. Sementara itu, kita menyebutkan diri kita sendiri dengan kata sapaan “Sengko’/Engko’” yang berarti “Saya”.
2.Bahasa Enggi-Enten (EE), merupakan tingkatan yang digunakan apabila kita berkomunikasi dengan orang yang seumuran dengan kita. Namun pada perkembangannya tingkatan EE ini disamakan dengan EI.
Contoh : Ke teman sekelas kita, kita memanggilnya dengan kata sapaan “Dhika” yang berarti “Kamu”. Sedangkan kita menyebutkan diri kita dengan kata sapaan “Bula” yang berarti “Saya”
Sepengetahuan saya, kalimat sapaan “Bula” dan “Dhika” jarang sekali digunakan oleh para anak muda dan teman sebayanya, kebanyakan mereka lebih menggunakan kalimat sapaan “Engko’” dan “Be’e” dalam kata sapaan sehari-hari dengan teman sebayanya. Perlu ditambahkan juga, tingkatan bahasa yang kedua ini biasanya juga digunakan untuk berkomunikasi dengan orang yang baru dikenal. Seiring dengan perkembangan bahasa dan budaya, tingkatan ke 2 ini jarang sekali digunakan dalam komunikasi sehari-hari.
3.Bahasa Enggi-Bunten (EB), merupakan tingkatan bahasa paling tinggi dan digunakan untuk berkomunikasi dengan orang yang lebih tua dan orang yang dihormati.
Contoh : Memanggil guru kita dengan kata sapaan “Panjennengngan/Ajunan” yang berarti “Kamu” dan memanggil diri kita dengan kata sapaan “Abdhina”
Penerapan bahasa tingkat ke 3 ini biasanya diimplementasikan dari anak ke orang tua, santri ke kyai, murid ke Gurunya, staff ke atasannya dan sejenisnya.
So, mari kita lestarikan bahasa daerah yang merupakan bagian dari budaya daerah. Kalau bukan kita siapa lagi!!!!Jangan malu dan jangan malu-maluin untuk mengungkapkannya!!!Tapi jangan lupa juga untuk tetap melestarikan dan menggunakan Bahasa Indonesia, karena aku cinta Indonesia.